Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32
NEWS

Habib Syakur: Patut Diduga Di Belakang Anies Baswedan Ada Kelompok Ektremisme Beragama

Habib Syakur: Patut Diduga Di Belakang Anies Baswedan Ada Kelompok Ektremisme Beragama
Inisiator Gerakan Nurasi Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid

ASKARA - Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid mengingatkan bahwa kelompok ekstremisme beragama dari kalangan eks-simpatisan HTI dan FPI akan membangun propaganda negatif yang memecah-belah bangsa Indonesia apabila Anies Baswedan gagal menjadi calon presiden (Capres) 2024.

Habib Syakur mengingatkan, narasi-narasi negatif itu bahkan sudah digaungkan sejak awal. Bahwa seolah-olah Anies Baswedan dijegal.

“Kan sekarang saja narasinya penjegalan Anies. Narasinya seolah-olah pemerintah takut Anies jadi Capres. Ini kan narasi yang mereka buat. Mereka maksud saya kalangan ektremisme beragama, ya eks-HTI, eks-FPI, dan kaum terorisme itu,” ujar Habib Syakur kepada awak media di Jakarta, Kamis (22/6).

Jika akhirnya Anies gagal jadi Capres dengan asumsi Partai Demokrat menarik dukungan dalam koalisi perubahan, maka akan dijadikan alas an oleh kalangan ekstremisme beragama, pro-khilafah untuk bersikap arogan, menggalang kekuatan melakukan propaganda.

Habib Syakur mengingatkan, patut diduga yang bermain di belakang Anies Baswedan adalah kelompok-kelompok ektremisme beragama yang tidak menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

“Sejak awal, mereka bernarasi semua takut Anies jadi capres. Padahal yang patut diduga di belakang Anies ini adalah kelompok khilafah, eks-HTI, eks FPI. Dan jika gagal Anies nyapres maka mereka akan menambah narasi jahat memecah belah anak bangsa. Seakan-akan pemerintah takut Anies jadi capres. Ini kan narasi yang sangat berlebihan,” tegasnya.

Habib Syakur menilai bukan tidak mungkin, akan digalang kembali kekuatan seperti gerakan 212, dengan dalih Anies Baswedan didzolimi. Padahal apa yang dinarasikan itu sama sekali tidak punya dasar.

“Bisa saja terjadi seperti 212 seolah terzolimi”

“Nah, para penikmat politisasi identitas kemudian ikut menunggangi. Mereka menciptakan hawa panas untuk memunculkan permusuhan, lalu mengambil keuntungan dari situasi itu,” tandas Habib Syakur.

Karena itu, Habib Syakur mendorong agar para Capres dan Cawapres harus menyampaikan komitmen di awal untuk tidak mendukung ajaran sesat, kelompok ekstremisme beragama, eks HTI dan FPI.

“Patut diingat bahwa capres pemenang harus punya sikap memerangi intoleransi ekstremiame yang berujung aksi terorisme,” lanjutnya.

Nah, bagi Habib Syakur, sebetulnya sosok capres yang bisa memberikan suara damai dan sejuk di Indonesia adalah yang memang pribumi asli Indonesia.

“Capres itu haruslah sosok yang memegang etika keindonesiaan, etika budaya nasional nusantara. Dan capres yang kesantunannya sudah dalam jiwa raganya. Siapa itu? Ya Ganjar Pranowo,” tuntas Habib Syakur. (Sahlan)

Komentar