Talim Ahad Subuh di Masjid Baabut Taubah Pulomas
Prof. Rokhmin Dahuri: Sains dan Teknologi Berkembang, Alquran Semakin Terungkap Kebenarannya
ASKARA – Peneliti National Oceanographic And Atmospheric (NOAA) dari Amerika Serikat menyatakan, bahwa andaikan bumi dan matahari menjauh sebesar 15 persen dari posisi sekarang, maka tidak ada satu makhluk hidup di bumi yang tahan hidup dengan dinginnya suhu bumi karena posisi matahari dan bumi menjauh.
Demikian dikatakan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS saat menyampaikan tausiah pada Talim Ahad Subuh di Masjid Baabut Taubah Pulomas, Jakarta, Minggu (19/2).
Sebaliknya, lanjut Prof. Rokhmin Dahuri, bumi dan matahari mendekat 10 persen dari posisi sekarang maka tidak ada satu makhluk di bumi yang tahan dengan peningkatan atau panas suhu bumi.
“Kita yang sering membaca QS Al Fushilat dan Yaasiin makin yakin, semakin sains dan teknologi berkembang maka kebenaran Al Quran dan Al Hadits akan semakin terungkap kebenarannya. Bahwa Allah menciptakan benda-benda langit, bumi, bulan, matahari dan galaxy yang jumlahnya triliunan itu peredarannya sangat akurat,” ujarnya.
Seharusnya, sambung Prof. Rokhmin Dahuri, dengan adanya global warming kita semakin dekat dengan Allah, karena semua yang tertulis di Alquran itu semakin terungkap kebenarannya. Dan kita bersyukur kepada Allah karena kita diberi semangat istiqomah dan senantiasa beribadah.
“Terutama untuk Muslim shalat Subuh berjamaah itu pahalanya sangat besar. Maka ada hadits kalau ada seorang Muslim yang tanpa alasan syari (sakit berat, badai) tidak shalat Subuh berjamaah di masjid berarti seorang muslim itu punya ciri-ciri nifaq (munafik),” tandas Anggota Dewan pakar ICMI Pusat itu.

“Kata Allah dalam QS Ali Imran ayat 110, engkau adalah umat yang terbaik (the best umat) yang diciptakan dari semenjak Nabi Adam sampai Kiamat. Maka implikasinya harusnya kehidupan umat Islam tercermin pada Surat Al Baqarah ayat 201, “Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban nar ( Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka),” terangnya.
Menurutnya, wujud konkrit dari umat Islam yang sesuai digambarkan Allah tidak hanya di Akhirat tapi di Dunia pun seharusnya khair (terbaik dari umat-umat yang lain). Pertanyaannya kenapa umat Islam sejak tahun 1924 runtuh pada khalifah Utsmaniyah terakhir? Hal ini gara-gara reformasi sekuler Mustafa Kemal dan kemudian pengasingan keluarga Osmanoğlu dari Republik Turki pada 1924, posisi khalifah tersebut ditiadakan dan digantikan oleh Kekhalifahan Nusantara. Umat Islam disingkirkan dibidang sains dan teknologi. Bahkan, pemenang nobel dari umat Islam baru 6 ilmuwan, sebagian besar Yahudi, Kristen dll.
Kemudian cerminan pada kapasitas iptek. Menurut data dari Unesco tahun 2020 bahwa Negara dalam kapasitas iptek menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama kelas satu, technology innovation country (artinya dari Negara-negara itu 70 persen dari kebutuhan teknologi dihasilkan oleh bangsanya sendiri bukan diimpor).
“Malangnya sampai saat ini belum ada satu pun Negara muslim yang bertengger di kelas satu. Kita sampai saat ini Indonesia sudah 77 tahun merdeka masih bertengger di kelas tiga. Teknologi adavtor country. Artinya lebih dari 70 persen kebutuhan teknologi Indonesia masih impor. Bukan ciptaan ITB, UI, UGM, UPS,” kata Alumnus Dalhousie University, Canada itu.

“Kami yang di kelautan dan perikanan tertekan. Kita lihat tambak udang di daerah Banten, sampai Cirebon yang modern pakai kincir air, gunanya supaya air dalam kolam tambak itu terus berputar. sehingga kualitas oksigennya jadi bagus , udang bisa tumbuh dan berkembang besar lebih cepat. Itu 90 persen impor dari Taiwan dan Thailand,” sambungnya.
Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri menceritakan ketika menjadi Menteri Kelautan Dan Perikanan. Pada tahun 2022, Dr Budi Setiawan dari jurusan mekanisasi pertanian ITB. “Dia menemukan kincir air tambak, lalu saya perkenalkan dengan dirjen perikanan budi daya, dengan harapan ada kerjasama. Namun, setelah saya tidak jadi menteri, saya tanya kepada pak budi ternyata tidak jadi. Lalu saya tanya ke dirjen jawabnya alat itu lebih mahal dari barang impor, juga ada kelemahan. Saya bilang, bahwa sejak zaman Einstein sampai sekarang produk pertama pasti punya dua ciri, kalau tidak mahal juga ada kekurangan,” ungkapnya.
Jadi, Prof. Rokhmin Dahuri menceritakan saat mendampingi kunjungan Presiden Ibu Megawati ke India pada 2022. Salah satunya mengunjungi pabrik Mobil Tata. Saat itu Direktur Tata mengatakan produk pertama dari mobil tata itu pada saat dikendarai bergetar kecuali klakson, “Karena pemerintah dan bangsa India membeli produk pertama kali kami ada untung. Maka dari keuntungan itu kami investasi lagi untuk membuat mobil kami lebih efisian dan lebih baik.”
Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, itulah pemimpin atau bangsa yang mau maju. Beli produknya sendiri, dan kalau pemerintah yang soleh pasti membeli produk tadi. Dalam jangka panjang atau menengah dia akan mandiri dalam teknologi. “Sayangnya, Indonesia yang Negara kaya raya tapi saat ini masih tergolong Lower Middle Income Country atau Negara berpendapatan menengah ke bawah,” kata Prof. Rokhmin Dahuri.
Saat ini, sambungnya, menurut data dari Bank Dunia yang terbit pada Maret tahun 2022, pendapatan per kapita orang Indonesia baru 4.140 dollar AS per orang per tahun.”Padahal suatu Negara menurut Bank Dunia dikatakan sudah maju dan makmur kalau pendapatannya minimal 13.205 dollar AS,” sebutnya.

Prof. Rokhmin Dahuri mencontohkan, Brunei Darussalam saat ini sudah 40.000 US dollar, Malaysia sudah 12.000, Thailand sudah 8.000, dan Singapura sudah 62.000 per orang per tahun, Korea Selatan 45.000, Jepang 48.000. “Sementara kita masih 4.140 karena banyak impor, yaitu neraca perdagangan kita selalu negatif mulai dari 2012. Pada saat covid, kita positif dengan naiknya harga batu bara karena kondisi bukan proses teknologi. Sekarang positifnya menurun lagi,” kata ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia tersebut.
Pasalnya, ungkap Prof. Rokhmin Dahuri, pejabat kita senang impor. Satu kilogram beras, pejabat itu dapat komisi sekitar 1000. Pada 3 lalu, jelasnya, ada Mendag yang impor beras 1 juta ton ( 1 Milyar kilogram) dikalikan 1000 jumlahnya 1 Triliun. Dia ongkang-ongkang kaki dibalik penderitaan petani.
“Caranya para mafia impor beli beras petani lalu ditumpuk digudang, akibatnya beras di pasar langka. Harga meningkat, lalu bayar pendemo dibayar 100 ribu, menjerit seolah-olah harga meningkat. Lalu mendag mengimpor dengan alasan harga pangan meningkat. Dia itu sebenarnya munafik,” tandasnya.
“Kita punya pejabat negara kecanduan impor. Sehingga sains dan teknlogi tidak berkembang, kedaulatan kita di bidang pangan, teknologi, energy makin terpuruk. Bahwa keterpurukan atau kenegatifan umat Islam sejak runtuh Khilafah Utsmaniyah disekenario kan oleh bangsa-bangsa kapitalis dan komunis,” terangnya.
Di bidang ekonomi, hampir semua Negara maju ada organisasi OECD (Organization for Economic Cooperation Development) yang tergabung 24 negara Industri maju dan kaya raya, tapi tidak ada satupun Negara Islam. Adanya Amerika, Kanada, Jepang, Australia, lalu negara-negara Eropa.
“Alhamdulillah dalam 15 tahun terakhir negar-negara Timur Tengah menjadi sangat kaya raya mulai dari Qatar, UEA, Arab Saudi dst. Tapi kekayaan karena sumber daya gas bumi, sedangkan teknologi belum. Kita doakan dengan kekayaannya teknologinya bisa berkembang,” kata Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Republik Korea itu.

Kemudian, terangnya, dibidang informasi, kita juga terpuruk. Lalu dibidang Hankam, alutsista sebagai persenjataan utama seperti kapal perang kita juga terpuruk. Kecuali yang paling kuat itu di Negara-negara muslim itu Turki menyaingi kekuatan Eropa. Dari sekian puluh Negara muslim di dunia yang super power kekuatan militernya hanya Turki. Yang lainnya memble. Indonesia dengan Malaysia angkatan perang relative lebih rendah.
“Kemarin waktu deadlock ekspor gandum dari Rusia dan Ukraina, karena kedua Negara ini perang harga gandum melambung tinggi. Erdogan mengambil insiatif untuk mempertemukan kedua Negara itu,” tuturnya.
Kemudian, Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan, dalam bidang sains dan teknologi ayat pertama yang diturunkan di muka bumi ini dari Allah, yaitu Iqro, perintah membaca. “Dan kita tahu bahwa tahapan pertama untuk seseorang atau umat bisa menguasai sains dan teknologi adalah membaca,” kata Prof. Rokhmin Dahuri.
“Malangnya dari dari Unesco, baru 72 negara yang disurvei di dunia kemampuan literasi kemampuan membaca bangsa Indonesia masuk dalam rangking ke 71. Bisakah terbayangkan Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia tapi kemampuan membacanya hanya rangking kedua dari bawah dari 72 negara yang disurvei. Naudzubillah minjalik,” katanya.
Kenapa umat Islam mundur? Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, pasti jarang membaca Alquran, apalagi mentadaburi dan mengamalkannya. Karena, jelasnya, bertaburan ayat Alquran selain Iqra, yakni Surat Mujadalah ayat 11 bahwa manusia yang beriman dan berpengatahuan ditinggikan derajat oleh Allah.
Selain itu, ada juga hadits bahwa bahagia di dunia dan akhirat harus pakai ilmu. “Sayangnya kemampuan literasi kita hanya rangking ke 71 dari yang terbawah,” ujar Menteri Kelautan
dan Perikanan RI 2001-2004 itu.
Berikutnya dibidang ibadah mahdhah, Monas University tahun 2014 mensurvei umat Islam yang melakukan shalat 5 waktu jumlahnya 25 persen. “Kalau dipilah, yang khusus 10 persen. Padahal kita tahu shalat adalah tiang agama, barangsiapa menegakan shalat berarti dia menegakkan agama, siapa yang tidak melaksanakan shalat berarti dia menghancurkan agama,” ujarnya.
Bahkan, kata Prof. Rokhmin Dahuri, ditegaksn dalam hadist soheh yang lain bahwa nanti dihari hisab amalan pertama yang diperiksa adalah shalat. Jika shalatnya tidak benar masuk neraka dahulu. Lalu, dia mengingatkan ada sebuah hadits siksaan yang paling ringan di neraka adalah seseorang yang kakinya dipasang terompah yang mendidih kepalanya.

“Jadi kalau ada umat Islam yang dari data tersebut, jangan-jangan banyak muslim yang berpilaku bisnis tadi. Berprinsip dagang hidup poya-poya, maksiat dulu, toh masuk neraka lalu masuk surga. Kenapa umat Islam mundur? Karena tidak beriman dan bertakwa kepada Allah, tidak beribadah mahdhah secara benar. Contohnya shalat,” terangnya.
Kemudian shalat tiang agama, tapi faktanya di Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia, yaitu 87 persen menurut BPS, sekitar 200 jutaan lebih tapi yang shalat hanya 25 persen. Padahal dalam Surat Al Ankabut, bahwa shalat itu mencegah seseorang dari keji dan munkar. “Kalau orang shalatnya khusus 5 waktu, ditambah shalat tahajud, duha, rawatib itulah shalat yang mencegah pelakukan dari perbuatan keji dan munkar,” katanya.
“Kenapa kita mundur? Karena pertama shalat dan ibadah mahdhah nya tidak benar, kedua karena kita jauh dari sains dan teknolgi, ketiga ukhuwah, keempat persatuan,” jelasnya kembali.
Mengutio pidato Bung Karno, Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan, “Jangan kau ubah Negara pancasila ini menjadi Negara Islam, tapi kalau kau menginginkan ayat-ayat Quran dan Hadits itu mendasari sistem perundangan kita, maka jadilah kalian anggota parlemen, jadilah kalian Presiden, Menteri-menteri. Hai pemuda-pemuda nasrani jangan kau ubah Negara pancasila menjadi Negara Kristen tapi kalau kau menginginkan ayat-ayat injil itu mendasari dijadikan sumbangan untuk menyusun undang-undang, peraturan pemerintah maka masukan menjadi anggota parlemen.”
“Itulah demokrasi. Artinya kalau kita passion untuk menjadi politikus, karena kalau kita tidak punya power sudah untuk menegakkan amar maruf nahi munkar. Seperti yang terjadi saat ini,” kata Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 – Sekarang.
Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW. Sejak usia 8 sudah diajak berbisnis oleh pamannya. Lalu, selama 38 tahun sebelum menjadi Rasul adalah seorang entrepreneur yang bukan kaleng-kaleng. Karena itu beliau ditaksir oleh seorang perempuan yang paling cantik dan paling kaya.
“Sayangnya orangtua di Indonesia berpesan kepada anak-anaknya untuk menjadi ASN dibanding jadi pengusaha. Kita umat Islam tidak memahami tentang Islam sehingga salah tafsir. Jangan mengurusi ibadah mahdhah tapi dalam mengurus Negara, ekonomi, pendidikan diserahkan kepada yang lain,” ujar Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Lautan, Universitas Bremen, Jerman itu.

Komentar