Mulai Kondusif, Kerusuhan Pekerja Lokal Dan China Di PT GNI Morowali Utara
ASKARA - Bentrokan di area Gunbuster Nickel Industri (GNI), Kabupaten Morowali Utara, Sulteng, Sabtu (14/1) malam. Dalam keributan itu, sebanyak tiga orang dinyatakan meninggal. 2 orang pekerja lokal dan 1 pekerja asing (China).
“Sementara dalam peristiwa pembakaran, dilaporkan mes karyawan hangus terbakar dan 9 unit kendaraan,” ujar Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranoto dalam keterangannya, Minggu (15/1) siang.
Dia mengatakan, keributan terjadi antara pekerja melibatkan pekerja asing. Selain saling pukul, keributan itu juga berbuntut pembakaran sejumlah fasilitas kantor perusahan tambang.
"Ada beberapa rentetan kejadian itu, mulai aksi saling pukul hingga pembakaran area smelter," kata Didik.
Didik menegaskan, kerusuhan di kantor PT. GNI berawal dari adanya unjuk rasa serikat buruh. Demo tersebut ricuh hingga terjadi pembakaran.
Para pekerja itu demo pada Jumat (13/1) sekitar pukul 06.00 di pos 4 dan 5 kantor PT GNI, dengan membawa delapan tuntutan. Pihak PT.GNI menyetujui 7 dari 8 tuntutan aksi.
Dari keterangan masyarakat setempat, yang dihimpun media ini, akibat bentrok yang terjadi sejak pagi hingga malam 14 Januari 2023, pekerja China untuk sementara diungsikan aparat ke Morosi menggunakan kapal. Selain itu, akibat bentrok saling lempar,, mobil dan beberapa alat berat dibakar.
Melihat situasi ini, tokoh muda Kabupaten Morowali Utara Dr.Mardiman Sane,SH,MH yang dihubungi via WhatsApp, Minggu (15/1/2023) ikut prihatin atas bentrok yang terjadi di PT Nikel GNI. “Saya minta semua pihak menahan diri agar situasi Morut kondusif,” kata Mardiman Sane.
Ia berujar, agar tidak saling menuduh dan menyerahkan kepada pihak berwenang untuk menegakkan Proses hukum secara adil. “Proses Hukum harus berjalan secara fair. Waspadai provokator yang hendak memperkeruh suasana dan merusak ikatan persaudaraan di tanah Mori,” pinta Andi -sapaan akrab- Mardiman Sane yang juga calon DPR RI dari partai Demokrat itu.
Tanah Mori tutur Andi, adalah tanah yang damai dan diterima investor sebagai tempat investasi untuk kemakmuran rakyat kabupaten Morut.
“Semua pihak saya harap menjaga kedamaian di Morut. Sebagai sesama anak bangsa maupun investor yang datang dari luar memiliki posisi sederajat. Keamanan dan ketertiban tanggungjawab semua. Mari bantu pemerintah dan aparat agar proses penegakan hukum tanpa pandang bulu dan bisa berjalan dalam suasana kondisif,” ucap Mardiman.
Dari keterangan warga setempat, bentrok antara pekerja lokal dan asing berawal dari aksi demonstrasi pekerja lokal yang menuntut ke perusahaan GNI untuk dijadikan pekerja tetap sehingga mendapat pesangon ketika ada pemutusan kontrak kerja.

Komentar