Jalani Proses Fit and Proper Test 3 Jam, Komisi I DPR Setujui Yudo Margono Jadi Panglima TNI
ASKARA – Komisi I DPR RI menyetujui Laksamana Yudo Margono menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal Andika Perkasa yang akan memasuki masa pensiun pada bulan ini.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid yang membacakan hasil rapat internal atas fit and proper test terhadap Yudo Margono.
"Komisi I DPR RI memutuskan memberikan persetujuan terhadap pengangkatan calon Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono sebagai Panglima TNI," kata Meutya di Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (2/12).
Adapun Yudo menjalani uji kelayakan kurang lebih tiga jam di Komisi I DPR RI.
Sebelumnya, calon Panglima TNI Laksamana Yudo Margono memulai uji kelayakan dan kepatutan di Komisi I DPR RI. Yudo memulai dengan menyampaikan pandangannya soal kondisi global, regional, hingga nasional
Di tataran nasional, Yudo mengatakan kondisi keamanan cenderung stabil.
Laksamana Yudo paparan soal kondisi global regional nasional.
Namun, Yudo mengatakan masih ada beberapa isu yang menurutnya menonjol
"Mulai dari gangguan keamanan di daerah tertentu, rencana pembangunan IKN, dinamika situasi politik jelang pesta demokrasi 2024, kenaikan harga bbm dan kebutuhan pokok, serta percepatan penanganan Covid-19, dan pemulihan ekonomi nasional," kata Yudo.
Kemudian, Yudo menyampaikan pandangan soal situasi di tataran global.
Menurut Yudo, pada tataran global, geopolitik dunia masih dihadapkan pada kemajuan teknologi informasi dan digital beserta dampaknya.
"Konflik kepentingan dan kompetisi kekuatan negara-negara besar, terlebih situasi konflik terbuka Rusia-Ukraina saat ini persaingan dagang dan investasi, dampak perubahan iklim, wabah penyakit dan biosecurity, serangan siber serta ada potensi ancaman kelangkaan pangan dan energi," papar Yudo.
Pada tataran regional, Yudo menjelaskan soal potensi instabilitas kawasan Asia-Pasifik yang mengemuka sebagai akibat dari adanya ketegangan dan kehadiran kekuatan asing di wilayah Laut China Selatan.
"Konflik di semenanjung korea, dan potensi konflik antara tiongkok dan tawan yang mengemuka akhir-akhir ini. Di samping itu terdapat pula penguatan keja sama keamanan antara US, Australia, India, dan Jepang serta munculnya aliansi Aukus antara Australia, Inggris, dan AS untuk mengimbangi strategi belt and root inisiatif Republik Rakyat Tiongkok," pungkas Yudo Margono.

Komentar