Kamis, 01 Desember 2022 | 01:06
OPINI

Keluar dari Zona Nyaman

Renungan Minggu Biasa XXVI 25 September 2022

Keluar dari Zona Nyaman

ASKARA - Anak jaman now suka bilang begini: “Yang ganteng kalah sama yang kaya. Yang kaya kalah sama yang lucu. Yang ganteng, kaya dan lucu, kalah sama yang bikin nyaman.” Maksudnya jelas. Cantik, ganteng, kaya plus humoris tak cukup sebagai syarat untuk dijadikan pasangan atau teman hidup.  Prasyarat jaman ini  “Siapapun atau apapun yang kumau mesti mampu membuat ku merasa nyaman”. 

Kenyamanan adalah hal yang dikejar semua orang dari jaman ke jaman.  Semakin modern jaman hidup manusia dikondisikan merasa nyaman.  Revolusi IT mulsi dari PC, Laptop hingga smart phone menjadi kian praktis dan nyaman bagi sang pengguna. memampukan mengerjakan banyak hal dalam 1 genggaman.

Karena nyaman yang mau dikejar orang mulai berlomba-lomba meraih dan mendapatkan baramg, bahkan dengan harga dan biaya yang tidak murah, dengan cara-cara yang tidak mengindahkan keberlangsungan dengan alam, makhluk hidup dan sesama manusia.   Dari  cara-cara sebesar-besarnya mengumpulkan modal (kapitalis), menguasai barang (materialis), hingga orang hanya berorientasi pada diri (individualis).   Ironisnya, orang bertindak untuk mendapatkan kenyamanan bagi dirinya, tetapi  mengorbankan kebersamaan bersama manusia lainnya. Malah kalau perlu manusia lainnya dihisap tenaganya lingkungannya, sehingga timbul ketimpangan sosial. Kenikmatan macam ini bisa membius mereka untuk bekerja keras siang malam, lupa ada bersama yang lain.

Ketenteraman yang dikejar itu sejatinya mengorbankan rasa ada bersama dengan orang lain, memutuskan tali asih dan relasi intra personal yang hangat yang menjadi kesejatian rasa nyaman yang mau dikejar. 

Kitab Amsal, salah satu kumpulan Kitab Kebijaksanaan memberikan peringatan keras soal orang yang berada atau mencari comfort zone.  Dikatakan bahwa justru orang-orang yang berada dalam nyaman malah bakal celaka! “Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria…”  (Ams 6:1ab)

Paulus mengajak Timotius untuk menghindari masuk dalam zona nyaman ditekankan. “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan” (1Tim 6:11). 

Mengapa penyampaian Paulus agar Timotius diharuskan ikut “turnamen yang benar” ketimbang pertandingan yang tak benar? Akar dari rasa nyaman itu adalah cinta uang (1 Tim 6,10). Uang yang dikejar untuk membeli kenyamanan sehingga mereka tega melakukan hal-hal yang jahat.

Lukas memberikan gambaran paling gamblang soal bahaya zona nyaman. Kenyamanan membuat si kaya menjadi tumpul hatinya. Ia tak peduli pada Lazarus yang miskin. (Luk 16:19-31) 

Kenyamanan membuat seseorang merasa tak boleh berbagi, karena ia takut kenyamanannya berkurang bahkan hilang. Kenyamanan dipahami secara egosentris, kenyamanan bagi diri sendiri.

*Memang titik soal bukan soal atas raa nyaman itu mesti ditempatkan dalam konteks sosial dimana manusia ada bersama yang lain.*

 Maka.pengajuan pertanyaan yang tepat adalah: apakah kenyamanan kita punya nilai sosial dan berada di jalan Tuhan?

Orang yang berderma akan merasa nyaman setelah ia berbagi kepada yang tidak mampu. Azas negara, Pancasila berisi  dasar-dasar atau prinsip hidup berbangsa yang membuat setiap warga negara nyaman manakala dipikirkan dan dikerjakan atas dasar tujuan kesejahteraan bersama. 

Maka menjadi cukup jelas apabila kita beribadat bukan sekedar hak untuk tidak diganggu, melainkan juga mesti memastikan ada gerakan dan kemauan untuk berbela rasa mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab. 

Jika manusia Indonesia dan umat Katolik menjadi bagian dari pada manusia Indonesia itu adalah *bagaimana kita orang mewujudkan kenyamanan dengan berani keluar dari zona nyaman*. Artinya, kita berani keluar dari sifat individualistik,  berjuang melawan konflik dengan mengedepankan interaksi yang komunikatif dalam tuntunan mufakat berdasar musyawarah bersama.

Olehkarena itu pendekatan yang sifatnya mengadili, menyalahkan, omong di belakang, bergosip justru menjadi tanda orang itu tidak mau keluar dari zona nyaman nya.  Manusia merubah karakternya menjadi serigala bagi sesama manusia (homo homini lupus).

Sebagai pengikut Kristus, manusia Allah (bdk. 1 Tim 6:11) diutus sebagai domba yang berjalan di antara kawanan serigala.  

Jelaslah situasi tidak nyaman itu mesti dilawan justru dengan keluar dari zona nyaman itu sendiri.

Semoga menginspirasi.
Salam sehat berlimpah berkat.

Romo Yos Bintoro, Pr

Komentar