Senin, 26 September 2022 | 09:46
OPINI

Digitalisasi Perbankan: Antara Bank Umum dan Bank Digital

Digitalisasi Perbankan: Antara Bank Umum dan Bank Digital

Meski sudah banyak referensi tentang digitalisasi perbankan, kemudian perbedaan Bank Digital dengan Bank Umum, namun tetap saja topik itu kerap muncul jika saya sedang berkumpul dengan beberapa teman yang bukan berlatar perbankan.
 
Nah, pada kesempatan ini, izinkan saya menjelaskannya tipis-tipis ihwal bank digital, bank umum, pula digitalisasi perbankan. Apa pula bedanya digitalisasi perbankan itu dengan bank digital?
 
Kalau kita merujuk pada Peraturan OJK Nomor 12/POJK.03/2021, yang dimaksud dengan bank digital adalah bank berbadan hukum Indonesia (BHI) yang menyediakan dan menjalankan kegiatan usaha terutama lewat saluran elektronik tanpa kantor fisik selain kantor pusat. Jika ada, itu pun sangat terbatas.
 
Jadi cukup jelas, Bank Digital itu bukan seperti bank umum yang punya kantor untuk transaksi perbankan secara fisik, apalagi kantor cabang. Layanan Bank Digital seratus persen daring!
 
Di tengah tren bank digital ini pula, rasanya lumrah jika kita mendengar kabar sejumlah perbankan umum akan bertransformasi menjadi bank digital. Atau paling tidak mengakuisisi bank kecil dan dialihwahanakan menjadi bank digital sebagai sub-bisnis atau anak perusahaannya.
 
Tren konversi ini tentu tidak lepas dari upaya adaptasi model bisnis perbankan dengan pasar dan perkembangan digital banking di Indonesia. Selain itu, tentu perkara biaya operasionalyang jauh lebih murah dibanding perbankan konvensional.
 
Digitalisasi Perbankan di Indonesia
 
Digitalisasi perbankan di Indonesia sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Layanan seperti internet ataupun mobile banking, jelas sudah dilakoni oleh bank-bank konvensional sejaksatu dekade ke belakang.
 
Bedanya, dari kacamata orang perbankan, bank digital menempatkan digitalisasi sebagai produk utama dan inti dari sistem operasional mereka. Sementara bank konvensional menawarkan layanan digital sebagai produk pendukung.
 
Dengan segala rupa kecanggihan dan efisiensi biaya operasional, wajar saja bank digital berani menawarkan bunga yang mungkin dua kali lipat lebih besar dari bunga simpanan bank konvensional. Aksi ini jelas menjadi promosi menggiurkan dalam rangka menarik nasabah sebanyak-banyaknya.
 
Sayangnya, bagi sejumlah orang, realita tidak seindah ceritanya. Tidak jarang muncul keluhan mengenai layanan bank digital dari nasabahnya. Ada klaim gagal login lah, kehilangan akun, bahkan ada transfer yang tidak mereka lakukan. Kenyamanan pun terusik.
 
Meski begitu, siapapun bisa memahami persoalan bank digital ini. Ihwal peretasan, pembobolan akun dan perkara keamanan lainnya tentu dapat diatasi dengan penyempurnaan, cepat atau lambat.
 
Bukan itu pula yang membuat banyak bank nasional skala besar enggan ikutan transformasi menjadi bank digital. Keengganan itu muncul karena transformasi itu butuh perombakan sistem perbankan inti, yang bisa saja mengganggu stabilitas operasi saat ini yang sudah berjalan mulus.
 
Pilihannya, beberapa bank nasional skala besar melebarkan bisnisnya dengan menciptakan bank baru dengan cara akuisisi, misalnya, BNI membeli Bank Mayora, BCA dengan Blu-nya, BRI dengan Raya-nya, pula BTPN dengan Jenius-nya.
 
Perbankan konvensional masih relevan
 
Ini bukan karena saya berkarir di bank konvensional lho, tapi nampaknya bank-bank konvensional akan tetap relevan di era digital banking ini. Salah satu faktornya, mereka tetap bisa memberikan layanan digital, mengikuti perkembangan teknologi dan pasar.
 
Lagi pula, bank digital sepertinya masih perlu bermitra dengan perbankan konvensional karena persoalan infrastruktur, seperti jaringan ATM. Paling tidak, jika ada nasabah bank digital yang ingin menarik uangnya, bisa diarahkan ke ATM bank konvensional rekanannya.
 
Di samping itu, banyak pula orang yang menilai layanan tatap muka ala perbankan konvensional masih lebih nyaman. Terlebih jika nasabah korporasi dengan layanan payroll atau transaksi bisnis berskala besar, rasanya sangat membutuhkan interaksi fisik dengan staf lini depan.
 
Belum lagi soal hubungan kelembagaan. Sebut saja di bidang pendidikan, hubungan mapan antara perbankan dengan perguruan tinggi rasanya sudah sulit diceraikan. Ambil misal BNI, yang selama ini dikenal sebagai 'bank kampus', yang punya hubungan mesra dengan sejumlah perguruan tinggi.
 
Bayangkan saja, Campus Financial Ecosystem mulai dari sistem pembayaran uang kuliah, kemudian cash management, API service management - virtual account, dan solusi kebutuhan mahasiswa maupun pegawai lainnya seperti student payment centre, kartu multifungsi mahasiswa, beasiswa dan rekrutmen, employee loan, griya dan payroll, fleksipenelitian, fleksi Pendidikan (student loan), asuransi, dana pensiun, kartu kredit affinity, kartu alumni, QRIS dan layanan-layanan solusi cashless, yang semuanya sudah terintegrasi secara digital, pasti sulit jika harus dialihkan ke bank digital yang terhitung baru dengan perangkat hubungan antar lembaga yang minimalis.
 
Ya, demikianlah sebuah hubungan. Meski kini 'LDR' menjadi terasa dekat, tapi tetap saja bahagianya tidak sesempurna bertatapan secara langsung. Eaaa…

-

Abiwodo, S.E., M.M.
Praktisi Perbankan

Komentar