Minggu, 25 September 2022 | 20:55
COMMUNITY

Jaran Buton Kearifan Lokal Banyuwangi yang Patut Dilestarikan

Jaran Buton Kearifan Lokal Banyuwangi yang Patut Dilestarikan
Anggota Sanggar Sayuwiwit Banyuwangi (Dok UI)

ASKARA - Kekayaan sumber daya alam Kabupaten Banyuwangi, yang terletak di ujung timur Jawa Timur memang tidak dapat disangsikan. Kabupaten Banyuwangi memiliki garis pantai yang panjangnya kurang lebih 175 km, berada di wilayah pesisir. Keadaan alam demikian menyebabkan Banyuwangi menjadi salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Indonesia bahkan telah mengekspornya ke mancanegara. 

Di balik kejayaan dalam hal pengembangan sumber daya alam khususnya perikanan, potensi wisata budaya Kabupaten Banyuwangi pun menjadi perhatian semua pihak, baik pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun masyarakat madani yang perhatian terhadap keberadaan sumber daya budaya yang ada. 

Para wisatawan domestik maupun mancanegara semakin gandrung kepada Kabupaten Banyuwangi seiring dengan kekayaan sumberdaya budaya yang tersimpan dan dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi. Kiranya bukan hanya karena ketenaran Tari Gandrung yang ada di sana, Banyuwangi memang telah menjadi kawasan yang digandrungi semua orang karena sumber daya budaya yang telah mencuat sejak lama.

Sanggar Seni Tari Sayuwiwit merupakan paguyuban seni tari yang telah populer bukan hanya di kalangan generasi muda saja namun juga generasi sepuh di Banyuwangi. Para leluhur yang telah memberikan bekal pengetahuan kepada generasi muda tentu saja turut serta dalam menuntun dan melangsungkan seni budaya tari. 

Terdapat tari yang cukup populer di Banyuwangi menjadi salah satu titik pengembangan, pembinaan, dan pelestarian yaitu tari Jararan Buto. 

Di balik tari Jaranan Buto tersebut terdapat narasi beserta simbol-simbol yang menjadi kearifan lokal masyarakat Banyuwangi. Hingga sekarang tari Jaranan Buto ini masih lestari dan bahkan dikembangkan terus agar sampai kepada anak cucu. Keberadaan tari Jaranan Buto dipandang sebagai ekspresi budaya yang patut untuk menjadi acuan dalam kehidupan manusia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

Pembinaan, pengembangan, dan pelestarian tari Jaranan Buto tentu saja harus dibarengi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk itulah tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia yang diketuai oleh Dr. Darmoko, S.S., M.Hum dengan anggota Ahmad Adam Maulana dan Moh. Iqbal Fauzi memberikan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memberdayakan kemampuan menafsirkan simbol-simbol di balik kesenian Jaranan Buto di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kata Darmoko, untuk dapat menafsirkan suatu objek budaya diperlukan metode lokal yang telah dimiliki oleh para leluhur Jawa yaitu sanggit. Di dalam sanggit tersebut terdapat istilah yang mengandung konsep penafsiran yaitu othak-athik gathuk atau othak athik mathuk. Di dalam menafsirkan simbol-simbol kesenian Jaranan Buto para sesepuh Jawa berusaha membentangkan pengalaman, pengetahuan, dan cara untuk dapat memahami objek budaya Jaranan Buto, baik dari aspek bentuk maupun isinya. Penafsiran (interpretasi) dalam rangka pemaknaan sebuah objek dalam budaya Jawa berkorelasi dengan sejarah (genealogi) dan religi (mitos) serta tradisi dan konvensi masyarakat setempat. 

Untuk dapat menfasirkan simbol-simbol kesenian Jaranan Buto tersebut juru tafsir perlu memiliki kekuatan imajinasi, kepekaan intuisi, intelektualitas, dan penguasaan kode budaya yang cukup, sehingga makna tafsir tersebut memiliki kriteria aktual, relevan, dan logis.

Darmoko menambahkan bahwa kriteria ini di dalam konsep penafsiran Jawa mengarah kepada pemosisian bener lan pener (benar dan tepat).

"Oleh karena kesenian Jaranan Buto mengandung teks naratif (kisahan), maka penafsiran suatu objek budaya atau gejala budaya dalam kesenian Jaranan Buto tersebut juga berorientasi pada resultan yang diharapkan memiliki kriteria mungguh, mulih, tutug, dan kempel. Di dalam konteks ide dan pemikiran mungguh diartikan sebagai gagasan tentang konstruksi naratif yang memiliki sifat pantas dan tepat sesuai dengan posisinya dalam kerangka etika dan estetika. Mungguh dapat berarti suatu pemikiran yang bersifat logis dan dapat dipertanggungjawabkan secara nalar. Di dalam konteks ide dan pemikiran tutug diartikan sebagai gagasan tentang konstruksi naratif yang mendasarkan pada terselesaikannya peristiwa yang disajikan adegan demi adegan sejak awal hingga akhir cerita. Di dalam konteks ide dan pemikiran mulih diartikan sebagai gagasan tentang konstruksi naratif yang mendasarkan pada terselesaikannya permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh tokoh utama. Penyelesaian permasalahan pada akhir teks naratif sesuai/klop dengan permasalahan yang disajikan pada awal kisahan. Di dalam konteks ide dan pemikiran kempel diartikan sebagai gagasan tentang konstruksi naratif yang mendasarkan pada terjalinnya permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh sejumlah tokoh yang dihadirkan pada adegan demi adegan," jelasnya, Minggu (7/8)

Metode penafsiran simbol-simbol pada kesenian Jaranan Buto ini diapdopsi dan dikembangkan dari metode penelitian dan kerangka konseptual teoritis Darmoko dalam disertasinya Tahun 2017 yang berjudul Wayang Kulit Purwa Lakon Semar Mbabar Jatidiri: Sanggit dan Wacana Kekuasaan Soeharto. 

Dalam disertasi disebutkan bahwa sanggit dapat dipandang sebagai konsep dan sekaligus metode penafsiran budaya lokal.

Pemberdayaan kemampuan menafsirkan simbol-simbol kesenian Jaranan Buto dilaksanakan melalui sarasehan dan pembekalan dengan menggandeng aparat Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Dr. Kundofir, ST, M.Pd., Plt. Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi, Bapak Suratno, S.Pd., M.M, Kepala Museum Blambangan, bapak Bayu Ari Wibowo, S.S., Korwil Sempu dan Srono Kabupaten Banyuwangi, Bapak Wiryanto, dan Kepala Desa Tegalarum Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi, serta tokoh-tokoh masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung pada 5-7 Agustus 2022 tersebut dikoordinasikan oleh Ketua Sanggar Sayuwiwit Desa Tegalarum Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi, Martin. Dia merasa senang dan bahagia dengan kehadiran Tim Pengams UI yang terdiri dari Dr. Darmoko, S.S, M.Hum. yang menyertakan mahasiswa asal Kabupaten Banyuwangi, Moh. Iqbal Fauzi dan Ahmad Adam Maulana untuk memberikan ilmu pengetahuan khususnya tentang tradisi lisan dan seni konteks pelestarian kesenian Jaranan Buto yang dipimpinnya.

Kegiatan Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Indonesia Tahun 2022 Penugasan yang berjudul Pemberdayaan Kemampuan Menafsirkan Simbol-Simbol Kesenian Jaranan Buto Pada Sanggar Tari Sayuwiwit di Desa Tegalarum Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi Propinsi Jawa Timur tersebut memperlihatkan terbangunnya suatu tatanan kehidupan sosial masyarakat dengan mempertebal rasa solidaritas sosial antarwarga, menjaga prinsip hormat dan prinsip rukun yang telah tertanam sejak lama di tengah masyarakat paguyuban yang semakin lama tergerus oleh kebudayaan global. 

Dengan demikian kegiatan ini berdampak pada masyarakat untuk memperkokoh jatidiri bangsa dengan secara terus menerus mengasah cipta, rasa, dan karsa sehingga masyarakat menjadi lebih cerdas dalam menafsirkan dan memaknai simbol-simbol budaya Jawa, khususnya di desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur.

Ketua Sanggar Sayuwiwit dan sejumlah tokoh masyarakat mengungkapkan bahwa para warga sanggar Sayuwiwit dan pemerintahan desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang dibangun oleh Universitas Indonesia melalui Program Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Penugasan 2022 dengan Judul Pemberdayaan Kemampuan Menafsirkan Simbol-Simbol Kesenian Jaranan Buto Pada Sanggar Tari Sayuwiwit di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur oleh Dr. Darmoko, S.S., M.Hum., Moh. Iqbal Fauzi, dan Ahmad Adam Maulana.

"Selanjutnya kami menyampaikan saran agar Tim Pengmas UI ini ke depan dapat hadir kembali di desa kami, khususnya Sanggar Sayuwiwit untuk memajukan, mengembangkan, dan memberdayakan potensi para warga kami di bidang lain agar desa kami kelak kemudian hari menjadi Laboratorium Budaya Jawa yang mampu melestarikan budaya Jawa secara lebih luas," ujar Ketua Sanggar Sayuwiwit.

Dia berharap kemampuan menafsirkan simbol-simbol Kesenian Jaranan Buto ini dapat memotivasi bagi warga sanggar Sayuwiwit dan warga desa kami untuk berlatih dan belajar memaknai objek budaya Jawa yang lebih luas. Untuk selanjutnya semoga Tim Pengmas UI pada waktu yang akan datang dapat kembali lagi ke desa kami untuk program pemberdayaan yang lain. 

Komentar