DON’T CRY FOR ME, INDONESIA
Don't Cry For Me, Indonesia
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Indonesia tidak butuh ratu. Tapi kayaknya kita butuh Evita. Bukan Evita versi Argentina, tetapi versi pakai daster bagi-bagi sembako, sambil berani nunjuk hidung pejabat korup sembari nyanyi Don’t Cry For Me, Indonesia. Evita Indonesia bukan menangisi diri sendiri, tetapi nasib rakyat miskin.
Setiap 5 tahun kita disuapin janji. “Kerakyatan dipimpin hikmat kebijaksanaan”. Hikmatnya ke mana, kita nggak tahu. Bijaksananya konon sedang rapat. Yang ada: rakyat antri minyak, antri bansos, antri KTP, antri minta hidup layak.
Evita dulu juga lahir dari antrian. Antri dihina karena anak haram. Antri ditolak karena miskin. Bedanya, pas dia sampai istana, dia balik nengok ke antrian itu. Dia nggak nutup kaca mobil anti peluru lalu bilang “bersabar ya”. Dia turun, peluk nenek-nenek, bagi mainan, bangun rumah sakit. Gratis. Tanpa disuruh selfie dulu.
Di sini? Kita punya banyak “Ibu Negara”. Tapi fungsinya kayak logo. Cantik di baliho, sopan di TV. Begitu turun ke kolong jembatan, ajudannya bilang “Maaf Bu, medannya kurang kondusif ”.
Evita itu kasar. Dia ngamuk ke pengusaha: “Kasih duit buat rakyat atau gue sebar aib kalian di radio”. Kasar, tapi jujur. Elite kita halus. Bilangnya “sinergi, kolaborasi, ekosistem”. Artinya: “Pak, setor dulu, nanti proyeknya kita atur”.
Rakyat Indonesia sebenarnya gampang. Kasih sekolah yang atapnya nggak bocor, mereka bilang makasih. Kasih RS yang dokternya nggak nyuruh beli obat di luar, mereka nangis. Kasih rumah yang nggak digusur tiap ganti wali kota, mereka doain panjang umur.
Evita paham itu. Makanya dia bikin “Kota Anak” buat yatim-piatu. Kita bikin “Food Court” buat orang kaya. Evita bagi selimut. Kita bagi wacana. Dia dipanggil “Bunda Kaum Descamisados”, bunda kaum tanpa baju. Kita dipanggil “Ibu Pembangunan”. Bajunya banyak, rakyatnya tetap nggak punya baju.
Tentu Evita tidak suci. Yayasan dia nggak diaudit. Kultus pribadinya lebay. Dia juga suka drama. Tapi setidaknya dramanya buat orang miskin. Bukan drama “gaji DPR naik demi kinerja”.
Jadi, Indonesia butuh Evita? Butuh. Tapi Evita versi lokal. Yang lahir di kampung, bukan diundang dari Swiss. Yang ngerti harga cabai, bukan cuma harga saham. Yang berani teriak di mimbar: “Negara ini punya tukang ojek juga, bukan cuma konglomerat”.
Kalau tidak ada Evita beneran, ya kita bikin sendiri. Satu RT satu Evita. Satu RW satu yang berani gebrak meja lurah. Karena bangsa ini nggak akan maju kalau yang teriak cuma buzzer, dan yang diam cuma rakyat.
Evita mati umur 33. Tapi 70 tahun sesudah mati, tukang sapu di Buenos Aires masih memanggil dia “Bunda”. Pertanyaannya bukan “Indonesia butuh Evita apa tidak”. Pertanyaannya: 70 tahun lagi, ada tukang parkir di Jakarta yang masih mau nyebut nama pejabat kita sambil nangis?
Kalau jawabannya tidak ada, berarti kita gagal bikin Evita. Dan gagal mengejawantahkan sila ke dua Pancasila : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab , menjadi kenyataan

Komentar