Kamis, 18 Juni 2026 | 05:18
NEWS

Isu Pemusnah Massal di Papua Hoaks, Strategi Perjuangan Kaum Separatis yang Digunakan Uni Soviet

Isu Pemusnah Massal di Papua Hoaks, Strategi Perjuangan Kaum Separatis yang Digunakan Uni Soviet
ilustrasi hoaks (lensaindonesia.com)

ASKARA - Isu penggunaan senjata pemusnah massal di Papua bukan hal yang mengejutkan dan merupakan kabar bohong alias hoaks.

Menurut Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Ryanta, penyebaran hoaks merupakan bagian dari strategi perjuangan kaum separatis di mana pun mereka berada. 

"Ada yang namanya active measures. Itu suatu strategi perang politik yang dalam sejarahnya dulu digunakan Uni Soviet pada decade 1920-an. Kelompok separatis di dunia sering menerapkan strategi ini," ungkao Stanis dalam keterangannya, Minggu (19/6).

Menurut pandangan Stanis, ada skenario disinformasi, propaganda, desepsi, sabotase dan lainnya dalam gerakan separatis. 

"Saya melihat ini juga dipakai banyak orang untuk mendukung Papua Merdeka," ujarnya.

Stanis mengatakan, pendukung separatis sudah terbiasa menyebarkan propaganda dan hoaks untuk menyudutkan otoritas negara dan mencari dukungan dunia internasional. 

"Karena memang begitulah caranya mereka berjuang," tegas Stanis.  

Di sisi lain, analis politik Boni Hargens menyayangkan adanya penyebaran hoaks tersebut itu di tengah situasi politik jelang 2024 yang cenderung kurang stabil. 

"Isu macam itu sengaja dihembuskan untuk memperkeruh suasana. Para pelaku tahu situasi politik lagi kurang stabil karena partai-partai pemerintah sebagian sibuk berkampanye untuk 2024 dan hanya sebagian yang masih konsisten membantu presiden. Isu macam ini jelas untuk menciptakan destabilisasi politik," jelas Boni. 

Boni mengapresiasi ketegasan BIN dalam membantah isu tersebut. Menurutnya, isu itu merusak stabilitas bangsa dan merongrong negeri dari dalam. 

“Pernyataan Pak Edmil selaku Deputi terkait di BIN sudah jelas dan kita harus apresiasi. Bahwa memang tidak ada penggunaan senjata macam itu oleh BIN. Artinya, ya case closed," tegasnya. 

BIN dituding menggunakan mortir dari Serbia dalam operasi di Papua. Hal tersebut sudah dibantah keras oleh BIN. 

Deputi II BIN yang membidangi keamanan dalam negeri, Mayjen Edmil Nurjamil menyatakan itu hanya berita palsu. BIN sama sekali tidak memiliki senjata yang dimaksud. 

“Nggak, nggak ada. Kami nggak punya itu. Itu punya TNI,” kata dia kepada wartawan, Rabu (16/6).

Komentar