Aktivis Jakarta Raya Ngumpul di Tepi Sungai Cisadane, Bicara Kebangsaan, Rakyat dan Lingkungan Hidup
ASKARA - Sejumlah aktivis yang berasal dari daerah Jakarta Raya lintas generasi menggelar acara Ngopi Bareng di Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci), Tangerang, Banten, pada Sabtu (4/6).
Aktivis Jakarta Raya dari angkatan era 1980-an, 1990-an hingga 2000-an itu berdiskusi terkait persoalan kebangsaan, rakyat dan lingkungan hidup.
Acara diawali dengan ngopi bareng serta menebar bibit ikan dan penanaman pohon di tepi Sungai Cisadane. Dua kegiatan tersebut merupakan langkah konkret pelestarian lingkungan hidup, dimulai dari tepi Sungai Cisadane dan menyebar untuk seluruh Indonesia.
Seorang Aktivis Jakarta Raya, Uyus Setia Bakti mengatakan, peradaban dimulai dari tepi sungai. Baginya, menebar benih ikan dan menanam pohon merupakan energi untuk memperbaiki Sungai Cisadane.

Para aktivis itu menebar benih 10.000 ikan lele, mujair dan nila. Juga menanam bakau di tepi sungai Cisadane.
"Mudah-mudahan mendapatkan balasan dari semua mahluk yang ada di Sungai Cisadane dan seluruh Indonesia," harap Uyus.
Acara yang dihadiri oleh sekitar 100 aktivis dari Jabodetabek, Padang, Surabaya dan Cilegon itu, dilanjutkan diskursus seputar kebangsaan, rakyat dan lingkungan hidup yang dipandu oleh Antony Danar dari Strategi Institute, yang juga aktivis Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ).
Aktivis Jakarta Raya bersepakat meninggalkan sejenak dukung-mendukung capres jelang Pemilu 2024, juga bicara politik kenegaraan. Namun lebih membicarakan soal-soal politik kebangsaan.
Hal senada juga disampaikan oleh aktivis senior Bob Randilawe. Kata Bob, penting untuk meninggalkan sejenak organisasi atau afiliasi masing-masing dan ngopi bareng serta bicara tentang bangsa dan rakyat, juga menjaga konstitusi.

"Pentingnya aktivis ikut menjaga dan mengawal konstitusi UUD 1945, juga bagaimana konstitusi itu dipraktikkan," ujar Bob.
Bob mengatakan, perbedaan pandangan dan pikiran merupakan hal yang biasa dalam demokrasi. Namun jangan sampai memisahkan satu aktivis dengan aktivis lain. Utamanya dalam misi suci mengawal konstitusi.
Aktivis senior lainnya, Usmar Ismail mengatakan, perbedaan dalam berpikir merupakan hal yang biasa. Tetapi di tengah perbedaan itu persatuan harus tetap dijaga, utamanya dalam mengawal konstitusi UUD 1945.

Aktivis Jakarta Raya berharap, acara Ngopi Bareng ini bisa terus dilakukan dan ditindaklanjuti untuk mengawal serta menjaga bangsa, konstitusi UUD 1945 dan lingkungan hidup.

Komentar