Minggu, 14 Agustus 2022 | 03:41
OPINI

Minum Kawa Daun

Minum Kawa Daun
Kawa daun (Dok Gehan)

ASKARA - Kawa adalah bahasa Minang untuk tanaman kopi, kawa daun berarti kopi daun. Minuman ini akan tambah nikmat bila ditemani dengan gorengan panas disertai duduk di lesehan atau di kursi sambil menikmati keindahan alam yang menjadi lokasi dari warung kawa daun ini.

Minuman ini banyak diminati oleh orang Sumatera Barat, terbukti dengan banyaknya pengunjung yang singgah di warung  pada sore hari, ditambah lagi dengan harganya yang  terjangkau.

Kawa daun merupakan sebuah kopi yang terbuat dari daun kopi yang di sangrai di perapian. 

Untuk mendapatkan cita rasa yang khas kopi harus menggunakan pohon kopi yang telah berumur lebih dari 50 tahun ke atas. Pohon kopi ini bisa ditemukan di Tabek Patah, Tanah Datar, Sumatra Barat.

Sejarahnya kopi kawa daun masuk ke Sumatra Barat (Sumbar) sejak zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang dipimpin oleh Van Den Bosch saat menjajah Indonesia. 

Sistem tanam paksa yang ada pada saat itu mengharuskan masyarakat Sumbar untuk menanam kopi. 

Namun, biji kopi hasil dari bertanam kopi tersebut hanya bisa dinikmati oleh pemerintahan Belanda saja. 

Oleh sebab itu, masyarakat mencoba mengolah daun kopi tersebut menjadi olahan minuman.

Untuk proses pengolahan kopi ini, daun kopi dipetik sekitar jam 10.00-12.00 dengan teknik tersendiri. Hal ini bertujuan agar memiliki cita rasa yang nikmat. 

Setelah dipetik, daun tersebut dibersihkan dan ditusuk dengan bambu seperti tusukan sate. Ini dilakukan agar memudahkan daun kopi saat dibolak balikan ketika berada di perapian.

Selanjutnya kopi disangrai atau diasapi dengan tungku api kayu hingga berwarna hitam kecoklatan.

Proses penyangraian memerlukan waktu sekitar 4-12 jam. Kemudian, daun kopi tadi dicabut dari tusukan bambu dan diletakkan di sebuah wadah. 

Proses selanjutnya adalah kopi tersebut direbus menggunakan air mendidih lalu disaring didalam sayak atau gelas batok kelapa.

Seiring berjalannya waktu, kini kopi kawa daun tidak hanya ditemukan dalam bentuk minuman tradisional yang disajikan dalam batok kelapa saja. 

Namun sudah ada dalam bentuk daun dengan beberapa varian rasa yang sudah dihaluskan menggunakan mesin atau minuman bubuk cepat saji.

(Gehan Agusta, Jurusan Sastra Daerah Minangkabau)

Komentar