Minggu, 14 Agustus 2022 | 03:26
NEWS

IKN Nusantara Disebut Rentan Ancaman dari Luar, Jenderal Andika Singgung Alutsista

IKN Nusantara Disebut Rentan Ancaman dari Luar, Jenderal Andika Singgung Alutsista
Jenderal Andika Perkasa (Istimewa)

ASKARA - Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa merespons pernyataan yang menyebutkan lokasi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, rentan terhadap ancaman serangan udara dari luar. 

Andika mengatakan, TNI masih memiliki kekurangan jika dilihat dari aspek alat utama sistem senjata (alutsista). 

Kata Andika, bukan hanya alutsista dari sisi matra udara, melainkan juga darat dan laut.  

"Memang kalau dilihat dari alutsista, kita memang masih kurang banyak sekali. Bukan hanya di udara, tetapi juga di matra darat dan matra laut," ungkap Andika di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Senin (23/5).

Namun demikian, Andika juga berterima kasih kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Kemham) yang telah melakukan pengadaan alutsista semaksimal mungkin. 

Pemerintah, kata dia, telah berusaha memberikan yang terbanyak sesuai dengan kondisi keuangan negara yang ada. 

“Yang jelas, tidak ada pemerintah yang kemudian tidak berusaha maksimal dalam memberikan anggaran, termasuk pemerintah presiden saat ini," ujar Andika. 

Sebelumnya, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Andi Widjajanto mengatakan lokasi IKN Nusantara di Penajam Paser Utara, Kaltim, rentan terhadap ancaman serangan udara dari luar. 

"Secara geografis, Ibu Kota Nusantara memiliki kerentanan tinggi terhadap ancaman eksternal, khususnya yang bersumber dari udara," kata Andi Widjajanto saat menyampaikan orasi ilmiah di Lemhannas, Kamis (19/5).  

Lantaran itu, Andi meminta agar kapasitas anti-access/area-denial (A2/AD) di sekitar IKN perlu diperkuat. 

Dia menambahkan pemindahan Ibu Kota Jakarta ke Kalimantan Timur perlu disertai perubahan paradigma pertahanan.

"Selama ini, pertahanan Indonesia cenderung berfokus pada pertahanan berbasis darat dengan mengandalkan strategi pertahanan mendalam (in-depth defense)," kata mantan Sekretaris Kabinet (Seskab) ini. 

Menurut Andi, paradigma itu dinilai tidak lagi optimal karena tidak sejalan dengan posisi geografis serta topografi IKN Nusantara. (ant/jpnn)

Komentar