Prof. Rokhmin Dahuri: Orang bertaqwa Tidak Sibuk Memikirkan Diri Sendiri, Ia Pasti Menaruh Empati Kepada Sesama
ASKARA - Bagi kita Umat Islam, Idul Fitri juga lazim disebut sebagai hari kemenangan, yakni menang setelah kita selesai menjalankan ibadah shaum Ramadan sebulan penuh, dengan iman dan ikhlas karena Allah. Maka, bagi muslim atau muslimah yang tidak melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadan, Idul Fitri tidak lebih hanya sekedar perayaan yang bersifat seremonial belaka, tanpa makna dan predikat kemenangan.
Demikian disampaikan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, MS saat menjadi Khatib Shalat Idul Fitri 1443 H/2022 M di Masjid Al Hikmah, Villa Indah Pajajaran Kota Bogor, Senin, (2/5).
“Oleh karena itu, mari kita doakan agar saudara-saudara kita muslim – muslimah yang belum enunaikan ibadah puasa Ramadan tahun ini, diberikan kesempatan oleh Allah untuk dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan pada tahun depan dan tahun-tahun berikutnya,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri dalam khutbah berjudul “Aktualisasi Hikmah Puasa Ramadan Dan Idul Fitri Untuk Mengatasi Permasalahan Kemanusiaan”.
Lanjutnya, seorang muslim/muslimah yang sukses menjalankan ibadah shaum Ramadan sebulan penuh, maka hasil (output) nya pasti dia menjadi muslim/muslimah yang taqwa. Karena, memang tujuan utama (the ultimate goal) dari Allah mewajibkan kita orang-orang beriman untuk melakoni ibadah puasa Ramadan adalah supaya kita menjadi muslim dan muslimah yang taqwa sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah, ayat-183. Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Sedangkan, jika standar capaian tertinggi puasa adalah taqwa, maka tanda-tanda (Indikator Kinerja Utama = Key Performance Indicators) bahwa kita sukses melewati ibadah shaum Ramadan pun tak lepas dari ciri-ciri muttaqîn (orang-orang yang bertaqwa). Semakin tinggi kualitas taqwa kita, maka itu berarti indikasi semakin tinggi pula kesuksesan kita berpuasa. “Demikian juga sebaliknya, semakin hilang kualitas taqwa dalam diri kita, maka itu pertanda bahwa ibadah puasa Ramadan kita juga kurang berhasil,” kata Prof. Rokhmin Dahuri.
Lantas, apa saja ciri-ciri orang bertaqwa? Wakil Ketua Dewan Pakar MN - KAHMI itu menyebutkan, ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ciri-ciri orang taqwa. Diantaranya adalah Ayat 3 – 4 Surat Al-Baqarah, “(Orang taqwa adalah) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan, mereka yang beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin adanya hari akhirat.”
Kemudian Ayat 134 Surat Alim-Imran, “(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Ayat-ayat tersebut mengungkapkan empat sifat tauhid dan tiga sifat akhlak yang menjadi ciri-ciri orang bertakwa. Pada dimensi tauhid, keempat ciri (sifat, karakter) orang taqwa adalah: (1) percaya (beriman) kepada yang gaib; (2) beriman kepada Al-Qur’an dan Kitab-Kitab Allah yang diturnkan sebelumnya (Zabur, Taurat, dan Injil yang asli); (3) beriman kepada kehidupan akhirat; dan (4) menegakkan salat.
Adapun pada dimensi akhlak, ketiga karakter yang dimaksud adalah pertama, gemar menyedekahkan sebagian hartanya dalam kondisi senang ataupun sulit. Orang bertaqwa tidak akan sibuk mengumpulkan harta dan hanya memikirkan diri sendiri. Ia pasti berjiwa sosial, menaruh empati kepada sesama, serta rela berkorban untuk orang lain dalam setiap keadaan. “Bahkan, ia tidak hanya suka memberi kepada orang yang dicintainya, tapi juga kepada orang-orang yang memang membutuhkan pertolongannya, meskipun selama ini dia sering menyakitinya,” tuturnya.
Dalam konteks Ramadan dan Idul Fitri, jelasnya, sifat taqwa yang pertama ini sebenarnya sudah mulai didorong oleh Islam melalui ajaran zakat fitrah. Zakat fitrah merupakan simbol bahwa “rapor kelulusan” puasa harus ditandai dengan mengorbankan sebagian kekayaan kita dan menaruh kepedulian kepada mereka yang lemah.
Ayat tersebut menggunakan fi’il mudhari’ yunfiqûna yang bermakna aktivitas itu berlangsung terusmenerus (berkelanjutan). Dari sini, dapat dipahami, bahwa zakat fitrah hanyalah awal atau “pancingan” bagi segenap kepedulian sosial lainnya berupa zakat mal, infaq, shodaqoh, waqaf, dan amal saleh lainnya, tanpa henti pada bulan-bulan berikutnya, selama hayat di kandung badan.
Sementara ciri akhlak kedua orang taqwa adalah mampu menahan dan mengendalikan amarah. Sebagai hamba yang dhaif, manusia tidak bisa luput dari kekurangan, rasa lelah, dan tentu saja tekanan. Kadang kala, terasa masalah seperti datang bertubi-tubi, seakan di luar batas kemampuan, sampai benar-benar menjebol benteng kesabaran diri sehingga amarah datang menerjang kesehatan mental dan pikiran. “Akibatnya, tidak sedikit orang yang gagal untuk bersabar dan lapang dada. Sebagian larut dibakar oleh amarah, sehingga kehilangan kemampuan akal untuk berpikir rasional,” ujarnya.
Pada akhirnya, kata Prof. Rokhmin Dahuri, tindakan di luar nalar tak mampu dicegah oleh diri manusia itu sendiri. Ada suami membunuh istri. Ada istri membunuh anak. Ada anak menyeret ibu dan bapaknya ke meja hijau. Ada saudara memutus silaturrahim dengan saudara kandungnya sendiri. Sebab utamanya, karena diri gagal mengendalikan amarah.
Karena itu, orang yang gagal mengendalikan amarah akan menjadi buta dan tuli. Hal itu karena amarah telah naik ke otak dan menutup inti pikiran, menutup inti hati, hingga mata menjadi gelap. Dunia terasa kelam dalam penglihatannya.
Ibn Qudamah pun mengutip satu pepatah, "Jauhilah amarah, karena ia bisa merusak iman, sebagaimana racun yang bisa merusak madu”. Amarah adalah musuh akal. "Sesungguhnya, amarah itu berasal dari setan dan sesungguhnya setan itu diciptakan dari api. Api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka, jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah berwudhu." (HR Abu Dawud). "Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, melainkan orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah." (HR Bukhari dan Muslim).

“Maka, patutlah kiranya pada kesempatan Idul Fitri yang penuh maghfiroh (ampunan) ini, kita umat Islam melatih diri untuk mengendalikan emosi kita sebaik mungkin. Mencegah amarah menguasai diri kita, dan menyayangi sesama insan. Ramadan semestinya telah menempa kita untuk berlapang dada, bijaksana, dan tetap sejuk menghadapi situasi sepanas apa pun,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong itu.
Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan, ciri akhlak ketiga orang bertaqwa adalah memaafkan kesalahan orang lain. Sepanjang Ramadan, umat Islam dianjurkan memperbanyak permohonan maaf kepada Allah dengan membaca: “Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku”.
Kata ‘afw (maaf) diulang tiga kali dalam kalimat tersebut, menunjukkan bahwa manusia memohon dengan sangat serius ampunan dari Allah SWT. Memohon ampun merupakan bukti kerendahan diri di hadapan-Nya sebagai hamba yang banyak kesalahan dan tak suci. “Cara ini, bila dipraktikkan dengan penuh pengahayatan, sebenarnya melatih orang selama Ramadan tentang pentingnya memohon maaf. Bila diri kita sendiri saja tak mungkin suci dari kesalahan, alasan apa yang kita tidak mau memaafkan kesalahan orang lain?” tanya Prof. Rokhmin Dahuri.
Jelasnya, maaf merupakan sesuatu yang singkat, namun bisa terasa sangat berat, karena ego, gengsi, dan unsur-unsur nafsu kita lainnya. Maka, amatlah arif ulama-ulama kita dahulu di Tanah Air yang telah berinovasi menghadirkan tradisi “Halal Bil Halal” untuk bersilaturahim dan saling memaafkan di momen lebaran. Sempurnalah, ketika kita usai membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan kepada Allah melalui Universitas Ramadan. Selanjutnya, kita saling memaafkan kesalahan masing-masing di antara manusia di Hari Raya Idul Fitri ini.
Para mufassir memfatwakan, bahwa taqwa adalah mengerjakan semua perintah Allah, dan meninggalkan setiap larangan-Nya. Namun, sayangnya selama ini banyak diantara kita muslim/muslimah, memaknai perintah Allah itu hanya sekedar sholat, puasa, zakat, haji, dan ibadah mahdhah lainnya.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa perintah Allah juga mencakup semua aspek yang terkait dengan muamalah (kesalehan sosial) seperti mengais rezeki secara halal; mengkonsumsi makanan yang halal lagi baik; hidup bersih; mencintai, menuntut, menguasai, dan mengaplikasikan IPTEK; bekerja keras dan profesional; jujur; disiplin; menyayangi sesama; menghargai agama dan kepercayaan orang lain; merawat dan melestarikan llingkungan; menyingkirkan duri dari jalan; senyum; dan amal saleh lainnya. Larangan pun, bukan hanya mencuri, berzina, minuman keras, judi, dan narkoba. Tetapi juga malas, bohong, dzalim, dengki, marah, kikir, dan etos kerja serta akhlak buruk lainnya.
Karena pemahaman yang keliru tentang taqwa itulah, di zaman kontemporer ini kita menyaksikan betapa kehidupan pribadi mayoritas individu muslim menjadi seperti terbelah (a split personality). Banyak sekali kita jumpai, muslim atau muslimah yang nampak salat dan puasanya rajin, menunaikan ibadah haji dan umrahnya berkali-kali.
Namun, etos kerja dan akhlaknya jauh dari Islami. Dia kikir, tidak berbuat baik dengan tetangga, sering menggunjingkan kekurangan orang lain (ghibah), pemalas, sombong, pembohong, licik, kejam, dan akhlak buruk lainnya.
Padahal, selain untuk meng-esakan dan beribadah kepada Allah, seperti firman Allah dalam Surat Az-Zariyat, Ayat- 56 berikut ini: Artinya: ”Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Az-Zariyat: 56).
Sedangkan tujuan Allah SWT mengutus Nabi Muhammad saw dan menurunkan Islam, terangnya, adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia (Hadits). Oleh sebab itu, bila kita merasa salat, puasa, dan ibadah mahdhah lain (kesalehan individual) nya sudah baik, tetapi etos kerja dan akhlak (kesalehan sosial) kita masih buruk, berarti kita harus memperbaiki pengertian kita tentang taqwa dan meluruskan niat serta meningkatkan kekhusyuan ibadah mahdhah kita hanya kepada Allah.
Apabila kita berhasil melaksanakan ibadah Shaum Ramadan, maka ketaqwaan kita akan dibalas oleh Allah SWT dengan kesuksesan dan kebahagian hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagaimana Allah tegaskan dalam Al-Qur’an Surat At-Talaq, bahwa “barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (ayat-2); “memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya dan mecukupkan keperluannya” (ayat-3); “menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya” (ayat-4); dan “menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipat gandakan pahala baginya” (ayat-5).
Selain itu, di akhirat kelak kita akan terbebaskan dari siksa neraka, dan menjadi penghuni surga-Nya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali-‘Imran, ayat – 133, yang artinya “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surge yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan hanya bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Pahala (reward) taqwa dari Allah bukan hanya bagi orang per orangan yang sifatnya individual, tetapi juga bagi masyarakat (bangsa) yang bertaqwa kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Al- Qur’an, Surat Al-A’raf, Ayat-96: Artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf, Ayat-96).
Sedangkan, wujud nyata dari berkah Allah dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara tak lain adalah berupa terwujudnya sebuah negara yang maju, adil-makmur, berdaulat, dan diberkahi Allah SWT; “Baldatun Thayyibatun wa rabbun Ghafur”. Yang merupakan cita-cita Kemerdekaan kita bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945.
Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa kendati sudah hampir 77 tahun Indonesia merdeka, tetapi status bangsa kita masih sebagai negara-berpendapatan menengah bawah (lower-middle income country) dengan Pendapatan Nasional Kotor (Gross National Income) per kapita hanya 3.870 dolar AS (Bank Dunia, 2021) dan angka pengangguran, kemiskinan, stunting dan gizi buruk yang masih tinggi (BPS, 2021); penyebab utamnya adalah karena mayoritas pemimpin dan rakyat Indonesia belum beriman dan bertqwa kepada Allah SWT, dengan sebenar-benarnya taqwa.
“Dapatlah kita bayangkan, bahwa andaikan nilai-nilai (hikmah) ibadah Puasa Ramadan dan Idul Fitri itu diaktualisasikan dalam kehidupan keseharian manusia maupun dalam mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara di seluruh dunia, maka permasalahan utama kemanusiaan di abad-21 ini berupa pengangguran, kemiskinan, kelaparan dan gizi buruk, perang, kerusakan lingkungan, dan pemanasan global (Global Warming) niscaya bakal dapat diatasi secara tuntas,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.
Perlu kita ketahui, sambungnya, bahwa menurut Bank Dunia (2021), sampai sekarang sekitar 3 milyar penduduk dunia (37%) masih miskin (pengeluaran < US$ 2 per hari), dan sekitar 813 juta orang masih miskin ekstrem atau fakir (pengeluaran < US$ 1.25 per hari). Lebih dari itu, sekitar 1,3 milyar warga dunia tidak memiliki akses kepada jaringan listrik, 900 juta orang tidak punya akses untuk mendapatkan air bersih, dan 2,6 milyar orang tidak memiliki akses untuk sanitasi yang baik. Sementara itu, sejumlah orang terkaya (Jeff Bezos, Elon Musk, dan Warren Buffet) menghamburkan Rp. 397,6 milyar per 10 menit untuk pelesiran ke Bulan.
Ketimpangan sosial-ekonomi (perbedaan pendapatan atau kekayaan antara penduduk kaya vs miskin) dari tahun ke tahun semakin melebar. Contohnya, kalau pada 2010 kekayaan 388 orang terkaya di dunia sama dengan total kekayaan 3,5 milyar orang (50% penduduk dunia termiskin), kemudian pada 2017 menjadi hanya 8 orang terkaya di dunia yang kekayaannya setara dengan total kekayaan dari 50% penduduk dunia (Oxfarm International, 2018).
Perang dan penindasan yang terus berkecamuk di Kawasan Timur Tengah, Afrika, Myanmar, dan sekarang antara Rusia dengan Ukraina selain telah merenggut jutawaan nyawa, kehancuran infrastruktur, dan ratusan trilyun kerugian ekonomi; juga telah menyebabkan kelangkaan serta melambungkan harga bahan pangan, energi (batubara, minyak, dan gas), dan mineral.
“Semua ini membuat kehidupan manusia, khususnya kelompok miskin, semakin susah dan menderita. Sumber dari semua permasalahan kemanusiaan tersebut adalah karena keserakahan dan nafsu manusia yang tak terkendali, terutama para pemimpin dan elit,” kata Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan (2020 – 2024) itu.
Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan, hawa nafsu perut (makan – minum), seksual (di bawah perut), dan tahta (jabatan) untuk menguasai dan menindas orang atau bangsa lain hanya dapat dijinakan oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Yang lulus Universitas (Ibadah) Puasa Ramadan dengan predikat minimal ‘puasa khusus’ (shaum al-khushush) atau bahkan ‘puasa khusus untuk orang-orang khusus’ (shaum khushush al-khushush).
Bukan predikat ‘puasa umum/awam’ (shaum al-‘umum), yang hanya menahan makan, minum, dan hubungan seksual dari mulai waktu subuh hingga maghrib. Tetapi, pikiran, nurani, dan batinnya tetap dibiarkan melakukan kemaksiatan. Orang yang berpuasa dengan predikat ‘puasa awam’ hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga (HR. Ibnu Majah) serta fisiknya lebih sehat. Namun, tidak memberikan dampak transformatif (perbaikan) bagi dirinya, apalagi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
Oleh sebab itu, katanya, Iman dan taqwa (IMTAQ), keikhlasan kita untuk berinfaq, menolong dan menyayangi sesama serta jenis-jenis kesalehan sosial lainnya yang telah kita gapai selama menjalani ibadah Puasa Ramadan, harus terus kita pelihara dan tingkatkan sepanjang hayat di kandung badan kita. Jangan sampai, setelah Idul Fitri, IMTAQ kita memudar dan menjauh dari Allah.
“Jangan pernah goyah iman kita dan tergoda untuk berbuat maksiat, gara-gara menyaksikan banyak orang pendosa dan bahkan melawan Allah, tetapi kehidupan dunianya nampak sangat sukses, jabatannya tinggi, hartanya melimpah, dan sangat populer serta dikagumi publik. Fenomena semacam ini menurut jumhur para ulama dinamakan sebagai sebagai ’istijraj’,” tegasnya.
Karena faktanya, kata Prof. Rokhmin Dahuri, banyak orang yang sukses lahiriah (duniawi), tetapi jiwanya kering kerontang, gelisah, tidak pernah puas dengan yang dimiliknya, dan hidupnya penuh tekanan. Kalaupun kehidupan dunianya tampak senang dan selamat, kalau tidak sempat melakukan taubatan nasuha ketika ajal menjemputnya, maka di akhirat dia akan menjadi penghuni neraka. Naudzu billah min dzalik!.
Akhirnya, dia berharap, semoga Allah swt menyadarkan para pemimpin bangsa kita untuk menciptakan ekosistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang kondusif untuk penduduk negeri ini beriman dan bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla. Lebih dari itu, antar umat beragama harus saling menghormati, dan hidup harmonis. Dengan demikian, Indonesia yang maju, adil-makmur, damai, dan berdaulat insya Allah akan segera terwujud, paling lama 2045 melalui aktualisasi Hikmah Ibadah Puasa Ramadan dan Idul Fitri 1443 H.
“Pada akhir khutbah Idul Fitri ini marilah kita berdoa, mengkhusyukan hati, menengadahkan tangan kita serta senantiasa pasrah kepada Allah untuk memohon rahmat hidayah, dan berkah Nya. Sembari kita berharap agar Hari Raya Fitri ini tidak sekadar peringatan tahunan rutin-ritualistik, tetapi menjadi momentum pendekatan diri kita kepada Illahi Rabbi, momentum meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathoniyah, momentum membangkitkan semangat untuk menolong sesama, dan momentum menguatkan IMTAQ kita untuk mengamalkan Islam sebagai pedoman hidup yang sempurna dari Allah SWT secara kaffah dan ittiba,” pungkas Ketua Dewan Pakar Ikhwanul Mubalighin itu.

Komentar