Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:08
NEWS

Soal Baliho dan 'Tuhan Bukan Orang Arab', Habib Umar Al Hamid: Ada Upaya Adu Domba TNI dengan Rakyat

Soal Baliho dan 'Tuhan Bukan Orang Arab', Habib Umar Al Hamid: Ada Upaya Adu Domba TNI dengan Rakyat
Jenderal Dudung Abdurachman (Dok Istimewa) 2

ASKARA - Panglima Generasi Cinta Negeri (Gentari), Habib Umar Al Hamid menduga, ketegangan antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan rakyat, terutama umat Islam terjadi karena adanya upaya adu domba dari orang-orang yang tidak suka akan kedekatan TNI dengan rakyat.

Hal itu, kata dia, bisa dilihat dari begitu banyaknya kejadian belakangan ini yang melibatkan TNI dengan rakyat.

"Saya melihatnya kejadian tersebut bukanlah kejadian biasa. Karena kejadiannya seperti terstruktur dan masif," ujar Habib Umar, dalam keterangannya, dikutip Selasa (22/2).

Habib Umar mencontohkan, penurunan baliho di Jakarta beberapa waktu lalu yang harus dilakukan TNI bukannya Satpol PP.

"Mungkin saja pada saat itu tidak ada yang berani menurunkannya, maka diinstruksikan lah TNI yang dinilai dekat dan dicintai oleh rakyat," katanya.

Terkini, muncul soal isu pernyataan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Dudung Abdurachman yakni "Tuhan bukan orang Arab". 

Menurutnya, secara eksplisit maupun implisit siapapun akan mudah mencerna bahwa tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut.

"Mayoritas masyarakat paham bahwa kalimat utuhnya tidak ada hal yang salah dengan 'makna dan maksud' dari kalimat tersebut," jelasnya.

Namun demikian, kata dia, selalu ada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan situasi untuk melakukan berbagai upaya untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Misalnya, mencari panggung, simpati atau mungkin sengaja mendeskreditkan tokoh-tokoh nasional. 

"Oleh karena itu, saya menyarankan sudahilah upaya-upaya seperti itu. Kita itu negara besar, banyak hal yang lebih produktif yang bisa kita lakukan bersama, utamakan tabayyun, ke depankan persatuan dan kesatuan," pesannya.

Habib yang dikenal vokal ini mengatakan, semua harus waspada dengan adu domba yang terjadi belakangan ini. Karena sudah mengkhawatirkan hingga sampai TNI diadu dengan pemiliknya sendiri yakni rakyat.

"Saya minta kepada semua pihak untuk mewaspadai bahaya laten 'adu domba' ini. Karena bahaya adu domba ini lebih besar dari bahaya Covid-19, dampaknya bangsa ini bisa terpecah," tegasnya. 

Untuk itu, tambahnya, saatnya menghentikan saling curiga, ketidakpercayaan satu sama lainnya melalui dialog dan silaturahmi.

"Karena saya yakin kalau TNI dan rakyat itu satu. Seperti semboyannya TNI selama ini, yakni dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Dan, kita semua tahu kalau TNI bukan milikmu, tapi milik kita, rakyat Indonesia," katanya.

Sementara, Ketua Akur Sedulu Cilegon Banten (ASC), mengatakan keyakinannya bahwa apa yang disampaikan Jenderal Dudung bukan menyamakan Tuhan dengan manusia. 

"Untuk itu, saya mengajak agar kita proporsional dan adil dalam menilai pernyataan Bapak Dudung tersebut," ujar Edi.

Edi mengatakan, semuanya wajib menyayangi dan mencintai TNI dan Polri dengan apa adanya. 

"Karena TNI Polri adalah milik kita bersama, untuk menjaga keharmonisan dalam bingkai NKRI mari kita kembangkan untuk berprasangka baik kepada para pemimpin kita," tandas mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Barat ini.

Komentar