Mang Ucup Jatuh Miskin Bin Kere
Oleh: Mang Ucup *)
Mang Ucup jatuh miskin jadi kere ! Mungkin orang mengira bahwa ini hanya sekedar hoax saja ! Tapi kalau kita jujur jatuh miskin bisa menerpa entah siapa saja. Yang sekarang masih tajir melintir esok sudah bisa saja jadi gembel.
Dari kaya jatuh miskin itu jauh lebih menderita daripada sudah miskin dari sana nya. Kalau dahulu naik mobil Mercy, sekarang harus jalan kaki. Apabila disapa oleh tetangga mengaku mau jalan sehat, padahal mobil sudah gone di lego untuk biaya kehidupan sehari-hari.
Kalau dahulu sering dikunjungi oleh rekan-rekan pengusaha, sekarang hampir setiap hari dikunjungi oleh para Debt Kolektor. Dahulu mereka selalu datang bawa oleh-oleh, sekarang mereka menjauhi diri saya, bahkan kalau mau datang sekalipun hanya bawa surat tagihan!
Miskin itu bukan hanya sekedar aib saja, tetapi sudah dianggap sebagai penyakit menular seperti AIDS. Mereka takut ketularan miskin, disamping itu mereka pun takut dipinjami uang, bahkan mereka takut jadi jadi omongan orang, kok mau masih gaul sama wong kere!
Dahulu istri termasuk sosialita kalangan the have, sekarang sudah harus menerima uang dari jawatan sosial! Dahulu istri pakai bedak merk Chanel Lose Power senilai Rp. 2 juta sekarang sudah ganti dengan merek Saripohaci seharga goceng.
No HP saya sudah lama di delete oleh mereka, maklum mereka tidak mau dihubungi lagi oleh wong kere! Anak-anak harus keluar dari International School, sehingga anak-anak pun harus turut menanggung malu. Mereka harus pindah ke sekolahan Madrasah yang gratis.
Anak cowok satu-satunya ditinggal sang pacar, karena anak pun tidak punya uang jajan ataupun kendaraan bermotor lagi. Karena stres berat, sehingga segala macam penyakit timbul dengan sendirinya. Tidak mampu bayar dokter terkecuali beli jamu dari kaki lima.
Dulu sang istri ikut arisan di hotel berbintang lima, sekarang boro-boro bisa ikut arisan hutan arisan yang jumlahnya puluhan juta pun sudah tidak mampu di cicil lagi.
Rumah di kawasan elit pun harus dijual untuk bayar hutang, sekarang ngontrak di rumah kecil, dimana boro-boro punya AC, kamar mandi pun tidak ada, bahkan kalau hujan sering bocor.
Dulu mandi di dalam badkuip dengan air hangat, sekarang mandi di WC dengan ember. Semua perhiasan termasuk arloji Rolex telah di lego habis yang tertinggal hanya ikat pinggangnya saja. Semakin kaya seseorang semakin besar pula hutangnya, misalnya tagihan Platinum Credit Card, sehingga Credit Card pun sudah dicabut dengan sendirinya.
Pembimbing Agama yang dahulu selalu menelpon berkali-kali dalam seminggu, bahkan bersedia mengadakan persekutuan doa dirumah, sudah tidak mau mengenalnya lagi, bahkan menghindar ataupun pura-pura tidak mau mengenal lagi.
Kalau direnungkan dari hasil perpuluhan yang telah saya setorkan selama bertahun-tahun sudah lebih dari ratusan juta. Namun jangan harap bisa kembali dengan bunga, sebab uang tersebut adalah cicilan KPR di surga indah yang turut hangus alias gone with the wind.
Kalau dahulu masih jadi members dari Lions Club maupun Rex Rotary sekarang hanya sekedar ikut grup pengajian saja di kampung!
Apa yang saya tulis di atas bisa saja terjadi entah kepada Mang Ucup maupun rekan-rekan lainnya, bukannya, karena hidup boros ataupun memiliki hobi yang mahal. Mereka bisa saja jadi jatuh terpuruk karena harta uang mereka miliki habis untuk membayar biaya pengobatan maupun rumah sakit.
Begitu juga kalau Mang Ucup jatuh kere siapa lagi yang masih mau baca postingannya. Bisa-bisa rekan-rekan pun akan berbondong-bondong meng-unfriend Mang Ucup.
Kisah tersebut di atas adalah kisah fiktif seandainya.
*) Menetap di Amsteram, Belanda

Komentar