Minggu, 07 Juni 2026 | 15:08
NEWS

Semeru Meletus, Ramalan Jayabaya dan Mitos Pulau Jawa Terbelah

Semeru Meletus, Ramalan Jayabaya dan Mitos Pulau Jawa Terbelah
Gunung Semeru (Dok INews.id-Yuswantoro)

ASKARA - Ramalan Jayabaya terkait Gunung Semeru kembali viral usai gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia itu meletus, Sabtu kemarin (4/12). 

Gunung Semeru meletus secara tiba-tiba. Tak ada tanda-tanda gunung di Lumajang, Jawa Timur akan meletus. Hanya ada sungai yang berubah warna. Setelah itu gempa dan diikuti erupsi dahsyat.

Erupsi Gunung Semeru membuat warga mengaitkannya dengan ramalan Jayabaya. Dan, jika melihat catatan sejarah meletusnya Gunung Semeru, pernah terjadi sangat besar pada 200 tahun lalu tepatnya 8 November 1818.

Setelah itu, Gunung Semeru kembali meletus pada 2 Februari 1994 lalu. Setelah itu pada tahun 2000-an terjadi 8 kali letusan.

Letusan besar kembali terjadi pada Natal 2002. Kemudian pada 1 Desember 2020, Gunung Semeru kembali meletus diikuti guguran awan panas dari puncak, dengan jarak luncur 2 kilometer hingga 11 kilometer.

Kali ini Gunung Semeru kembali meletus jelang akhir tahun 2021. Meletusnya Gunun Semeru kali ini, rupanya banyak mengaitkannya dengan ramalan Jayabaya.

Dalam beberapa literasi, Maharaja Jayabaya merupakan raja Kerajaan Kediri yang memerintah sekitar abad ke-12 adalah visioner yang unggul.

Dari Kitab Jangka Jayabaya, bait ke-164 sang raja berucap suatu saat Pulau Jawa akan terpotong menjadi dua. Dengan ramalan Jayabaya tersebut, kali ini banyak yang meyakini mitos Jawa terbelah akan terjadi.

Banyak masyarakat meyakini jika Ramalah Jayabaya selalu terbukti. Satu hal yang terbukti adalah masa menjelang perang kemerdekaan yakni saat Jawa dijajah Jepang.

Satu ramalan Jayabaya yang terbukti adalah: seumur jagung (3,5 bulan) yang dimaknai dijajah 3,5 tahun.

Yang jadi sorotan kemudian adalah mitos pulau Jawa yang akan terbelah. Akan tetapi, dalam ramalan tersebut kuncinya adalah Gunung Slamet meletus.

Konon jika Gunung Slamet meletus dahsyat, itu pertanda Pulau Jawa akan terbelah dua. 

Informasi terbaru menyebutkan, sebanyak 13 warga meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka akibat letusan Gunung Semeru. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat, puluhan warga mengalami luka bakar.

"Sebanyak 41 orang yang mengalami luka-luka, khususnya luka bakar, telah mendapatkan penanganan awal di Puskesmas Penanggal. Selanjutnya mereka dirujuk menuju RSUD Haryoto dan RS Bhayangkara," ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhar dalam keterangannya, Minggu (5/12).

Warga yang terluka juga telah dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan. Di antaranya 40 orang dirawat di Puskesmas Pasirian, 7 orang di Puskesmas Candipuro, serta 10 orang lain di Puskesmas Penanggal, di antaranya terdapat dua orang ibu hamil.(genpi)

Komentar