Kamis, 18 Juni 2026 | 01:31
OPINI

Kulinaris Jadul Di Bandung

Kulinaris Jadul Di Bandung
Toko Sidodadi, Jalan Oto Iskandardinata no 255, Bandung (Int)

Oleh: Mang Ucup *)

Jibeuh (hiji ge sebeuh) makan satu kenyang. Dulu, ketika masih kecil, Mang Ucup mendapatkan uang jajan 10 sen (sepicis), cukup untuk membeli satu jenis kue.

Tentu kita masih ingat akan pepatah setali tiga uang, sebab arti setali (setalen = 25 sen) terdiri dari 2 koin 10 sen dan satu koin 5 sen (sama dengan 3 koin atau tiga uang). Setali tiga uang bisa diartikan sama saja (setalen = 3 koin).

Dengan uang setalen cukup untuk beli es tape atau sirop. Sedang untuk istilah ‘’Cepeng bau tai ayam”, artinya yang bersangkutan tidak punya doku alias bokek. Cepeng artinya setengah peser, sedangkan satu peser adalah 0,5 sen.

Di Jalan Kelenteng, dulu ada preman tukang palak anak-anak. tarif upeti yang dia minta adalah segobang (sebenggol = 2,5 sen). Oleh sebab itulah ia mendapat julukan Si Gobang.

Selain segobang, dikenal juga nilai uang seperak (satu rupiah), sebab terdiri dari satu koin perak. Di samping itu ada koin lainnya yang bernilai seringgit = Rp 2,50.

Harus diakui bahwa Bandung merupakan pusatnya kulinaris berbagai makanan Sunda, khas Bandung, selain makanan Eropa. Sebutlah, Lotek Kalipah Apo selain menjual lotek juga berbagai macam kolak. Lotek Kalipah Apo ini sudah beroperasi sejak tahun 1953.

Selain itu di daerah Jalan Merbabu, dahulu juga ada yang jualan lotek dengan nama Encim Kanjut, sebab sang penjual itu latah sehingga pada saat melayani sering mengucapkan kata Kanjut.

Encim lainnya yang tidak terlupakan adalah Encim Gunting atau Encim Milong, penjual nasi rames di Pasar Baru. Dia sering menggunakan gunting untuk memotong daging maupun babat yang dijual olehnya.

Cakue dan Bapia Osin (d/h. Lie Tjay Tat), adalah tempat ketika Mang Ucup kecil selalu mampir setelah menemani ibunda Mang Ucup belanja di pasar. Letaknya di dulu Jalan Belakang Pasar, tapi sekarang sudah pindah ke GOR jl. Pajajaran.

Toko ini sudah dibuka sejak tahun 1934, menjual cakue, kongpia, bapia dan bubur kacang tanah yang benar-benar unik. Mereka juga telah berhasil membuat Cakwee terbesar di Indonesia sehingga masuk MURI.

Di Bandung juga ada penjual makanan Colenak Murdi Putra. Colenak alias dicocol enak adalah salah satu penganan khas tradisional Bandung yang terbuat dari tape singkong bakar yang dibubuhi gula merah cair dan parutan kelapa.

Pedagang ini sudah ada sejak tahun 1930-an, dijajakan pertama kali oleh seorang pribumi bernama Murdi. Karena kelezatannya, makanan tradisional ini tetap bertahan hingga sekarang. Ingin coba?

Sebaiknya datang langsung ke Jalan Ahmad Yani Nomor 733, tempat sejak pertama kali usaha ini dijalankan sampai sekarang. Warung Kopi Purnama merupakan salah satu kedai kopi favorit pada zaman dulu.

Menurut catatan sejarah yang ada di buku menu, Warung Kopi Purnama berdiri sejak tahun 1930-an dengan nama Chang Chong Se yang berarti “Silahkan Mencoba”. Kemudian di tahun 1966 berganti nama menjadi Warung Kopi Purnama.

Terkait istilah jibeuh, yang sesuai judul, diambil dari dampak setelah makan Kue Balok, sejenis kue yang terbuat dari adonan tepung terigu dan susu, berbentuk persegi panjang. Bentuk yang mirip balok inilah yang membuatnya dinamakan Kue Balok.  

Karena ukurannya yang besar, kadang-kadang orang Bandung menyebutnya dengan istilah jibeuh (hiji-sebeuh = makan satu kenyang). Kue Balok biasanya dipasangkan dengan kopi panas, yang banyak dijual di banyak tukang/warung kopi di pinggir jalan.

Apabila sekarang ini Anda penasaran ingin mencicipi kue balok, bisa ditemukan di Rumah Makan Bancakan, Jalan Trunojoyo Nomor 62.  

Bagi pembaca yang sebaya saya; mungkin masih ingat ada minuman yang disebut  Bir Kocok. Minuman anak-anak jaman baheula. Bahan bakunya terdiri dari air, stroop, soda dan bongkahan Es. Semuanya dimasukan ke dalam teko yang berleher tinggi. Langsung dikocok. Bunyinya klonteng – klonteng. Sayang jajanan minuman yang murah meriah ini sudah hilang tak berbekas.

*) Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar