Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:11
NEWS

Sindir Ketum Parpol Koalisi yang Puji Kinerja Jokowi, Demokrat: Di Manakah Hati Nurani?

Sindir Ketum Parpol Koalisi yang Puji Kinerja Jokowi, Demokrat: Di Manakah Hati Nurani?
Pertemuan Jokowi dan Ketum serta Sekjen Partai Pendukung (Dok Istimewa)

ASKARA - Partai Demokrat menindir pujian kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) oleh para ketua umum (Ketum) partai koalisi pemerintahan terkait penanganan pandemi Covid-19, saat berkumpul di Istana Negara, Rabu (26/8) lalu.

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra melayangkan pertanyaan terkait pujian tersebut mengingat situasi saat ini sudah ada 130 ribu masyarakat Indonesia yang kehilangan nyawanya karena virus Corona ini.

"Apakah empati sudah menjadi barang langka di negeri ini? Di kala 130 ribu anak bangsa ini kehilangan nyawanya karena pandemi, apakah patut pemerintah diklaim berprestasi dan karenanya patut mendapatkan apresiasi?" tanya Herzaky, Senin (30/8). 

"Di manakah hati nurani, para pejabat maupun tokoh publik negeri ini? Menebar pujian di saat situasi masih belum terkendali?" imbuh Herzaky.

Herzaky meminta agar pemerintah terus mawas diri dan menahan diri. Sehingga tidak sibuk dengan menerima puja-puji atau selebrasi dalam penanganan Covid-19. Pasalnya, dia menekankan tidak ada yang lebih bernilai dari sebuah nyawa manusia.

"Saat ini, masih terlalu dini untuk melakukan selebrasi. Lebih baik terus melakukan evaluasi. Dan, tentunya mempersiapkan mitigasi. Agar ada antisipasi jika nanti ada serbuan dari varian baru virus penyebab pandemi ini," katanya.

Herzaky mengatakan, sebaiknya pemerintah melakukan evaluasi dan jangan sampai malah mengulang kesalahan yang sama. Seperti ketika di awal pandemi Covid-19 hingga varian Delta yang mampu membuat pemerintah kewalahan.

"Pemerintah gelagapan dan kekacauan terjadi dimana-mana. Oksigen sulit diperoleh dimana-mana sampai banyak rakyat penderita Covid-19 kehilangan nyawa karena tidak kebagian oksigen, rakyat terbaring di parkiran menanti giliran bisa dirawat inap di rumah sakit, maupun tenaga kesehatan banyak yang kelelahan dan kemudian meregang nyawa karena menangani pasien tak pernah henti," tuturnya.

Herzaky mengakui memang semua masyarakat Indonesia ingin negeri ini terbebas dari pandemi Covid-19. Namun jika belum bisa melewatinya setidaknya tak ada lagi nyawa melayang karena virus ini karena penanganannya belum maksimal.

"Pemerintah sebaiknya fokus untuk terus memikirkan dan menempuh kebijakan yang benar-benar efektif, bukan sekedar menyelesaikan apa yang di depan mata saja, tapi menyisakan persoalan di kemudian hari," imbaunya.

"Rasio jumlah pasien positif Covid-19, rasio jumlah kematian, maupun jumlah penduduk yang divaksin, masih sangat jauh dibandingkan standar WHO, ataupun negara-negara tetangga. Terlalu dini untuk berpuas diri," tandasnya. 

Komentar