Rabu, 20 Oktober 2021 | 07:48
COMMUNITY

Muhasabah Diri Bersimpuh Ke Hadirat Ilahi Rabbi

KH. Mohamad Hidayat: Kita Akan Semakin Dekat Bertemu dengan Allah SWT

KH. Mohamad Hidayat: Kita Akan Semakin Dekat Bertemu dengan Allah SWT
Pengasuh PP Al Washiyyah, KH. DR. Mohamad Hidayat, MBA, MH

ASKARA - Allah SWT memberikan kesempatan waktu kepada hamba-hambaNya untuk menikmatinya. Semakin waktu kita mendekati waktu yang habis maka hakikatnya nikmat dan reseki kita akan semakin mendekati pada kekurangan dan pada penghentian.

“Kalau seandainya hari itu berlalu maka pada hakikatnya hilang juga momen peristiwa. Apa yang tadi sebelumnya kita lalui, ada peristiwa apa? Ada momen apa? Maka itu hilang dan tidak mungkin kembali lagi,” ujar Pengasuh PP Al Washiyyah, KH. DR. Mohamad Hidayat, MBA, MH.

Jika hari berlalu, paparnya, waktu berjalan pada hakekatnya akan berkuranglah kekuatan stamina kita. Dalam surat Yasin Allah mengatakan,”Barangsiapa yang diberikan umjur maka berkuranglah kekuatannya, Kami kurangi penciptaannya, kekuatannya, stamina tubuhnya. Dan akan lebih dekat kepada Sang Maut.”

“Kalau kita bicara ini umumnya kita menghindar, kita lari daripadanya. Kematian yang kamu semua itu akan datang menemuimu, maka biasanya kamu lari daripadanya, membicarakannya pun tidak ingin. Dan kita mendekati pemindahan alam , kita akan berimigrasi yaitu ke Alam Barzah. Kita akan semakin dekat bertemu kepada Allah SWt. Marilah kita insyafi sebetulnya inilah yang terjadi jika hari berganti. Maka kita syukuri kalau Allah masih memberikan kita waktu,” sebutnya.

Kiai Hidayat mengajak untuk merenungi syair Itiraaf (Pengakuan) dari seorang tokoh yang dikenal dengan nama Abu Nawas (nama aslinya Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami). Seorang pujangga Arab yang lahir di negeri Persia (Iran sekarang) pada 145 H (747 M). Beliau wafat  pada tahun 199 H/814 M dan dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Didalam Itiraaf beliau menyadari bagaimana hari-hari yang diberikan oleh Allah tidak optimal dia melakukan amal kebaikan. Bahkan penyimpangan dosa dan kesalahan lebih banyak rasanya dia lakukan. Ketika dia menyatakan, “Ya Allah aku sadar tak layak menjadi ahli surgaMu, mana amal yang bisa aku banggakan.Bahkan disadari ada perbuatan musryik yang sangat dimarahi Allah. Sedangkan aku tak sanggup dimasukkan ke neraka Jahim. Maka terimalah taubatku ya Allah dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkaulah Pengampun dosa-dosa yang sesat. Dosa-dosaku begitu banyak bagaikan butiran-butiran pasir, maka berikanlah taubat untukku, anugerahkanlah taubatku Engkau terima ya Allah. Wahai Tuhan Yang Maha Agung.”

Pada dua kalimat selanjutnya, Abu Nawas mengakui apa yang beliau katakan umurku setiap hari semakin berkurang dan dosa-dosaku terus bertambahhingga tak terkira. Wahai Allah hambaMu yang bermaksiat dan berdosa ini tetap datang kepadaMu untuk memohon ampunan. Yang penuh dengan dosa-dosa, dan berdoa kepadaMu memohon ampunan dan sesungguhnya Engkau lah yang memang berhak untuk mengampuni dosa. Tapi, bila Engkau menolak doaku, maka kepada siapa lagi aku berharap.

‘Mudah-mudahan sebagian dari syair-syair yang indah ini juga ada pada jiwa kita. Kita merasa bahwa umur kita semakin hari semakin berkurang tetapi dosa kita masih terus kita lakukan, dan amal-amal kebaikan kita belum disiapkan sebaik-baiknya,” ujar Kiai Hidayat.

Allah SWT, lanjutnya, menciptakan kehidupan ini dengan perputaran waktu dan memberikan kepada manusia. Sebagaimana dalam surat AnNaba ayat 9-11,”Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Kami jadikan malam sebagai pakaian. Allah ciptakan malam berbeda dengan siang, dan Kami jadikan siang untuk mencapai hari penghidupan.”

“Alangkah indahnya penataan waktu yang diberikan Allah kepada kita. Dan itu adalah anugerah yang besar. Namun waktu pasti akan berlalu, pasti akan meninggalkan kita. Kita akan pindah pada dunia yang lain,” sebutnya.

Selanjutnya Kiai Hidayat menguraikan, Djafar bin Sulaiman berkata bahwa dia pernah mendengar seorang Sufi besar Robi’ah Al Adawiyah menasehati Sofyan Ats Tsuari, bahwa “Sesungguhnya engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hamper-hampir sebagian harimu berlalu, namun engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramallah.”

“Ini nasehat dari Robi’ah Al Adawiyah  ibunya para Sufi kepada ulama besar Sofyan Ats Tsuari. Mari kita tidak sia-siakan waktu. Isilah waktu kita dengan amal-amal yang baik dan hidup ini adalah ujian yang diakhiri dengan kematianj. Maka fase antara mati dan hidup itu adalah sebuah fase dimana Allah akan menguji  kita,” kata Kiai Hidayat.

Apa yang diuji? Kiai Hidayat menejelaskan, manakan amal diantara kalian yang paling baik perbuatannya. “Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al Mulk, ayat 3).

Hidup ini bukan berjalan begitu saja. Fase antara kehidupan dan kematian yang saat ini kita berada di proses itu tidak begitu saja nanti akan hilang. Akan ada pertanggung jawabannya. Rasulullah SAW mengatakan,” Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas apa-apa yang dipimpinnya” (HR Bukhari).

“Diri kita merupakan satu kesatuan yang sangat lengkap, anatomic yang sangat sempurna. Jika kita memimpin keluarga, memimpin orang-orang yang berada dibawah perwalian kita. Anda menjadi direktur maka orang-orang yang dibawah itu anda pimpin. Anda menjadi kepala sekolah maka semua guru itu menjadi orang-orang yang anda pimpin. Anda menjadi guru maka murid-murid itu orang-orang yang anda pimpin. Maka setiap kalian pasti diminta pertanggung jawabannya atas apa-apa yang dipimpin,” tukasnya.

Maka, sambungnya, pimpinlah diri kita ini dengan baik. Arahkan anggota tubuh kita, mata, tangan, mulut, telinga, langkah kaki. Karena seluruhnya nanti akan diminta pertanggungjawaban. “Dan kita tidak bisa berbohong karena tangan dan kaki akan berbicara dihadapan Allah. Karena itu mari kita tempatkan diri kita menjadi orang-orang yang seoptimal mungkin melaksanakan amanah yang diberikan Allah kepada kita.Begitupun seorang ibu diminta pertanggungjawaban nya terhadap pengasuhannya atas anak-anak mereka tentang bagaimana pelayanannya dan suami-suami mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut Kiai Hidayat mengatakan, bahwa dunia yang fana sebagai tempat menjalani kehidupan dan akhir dari hidup itu adalah kematian. Kita masih menjalani kehidupan, semetara sebagian orang-orang yang kita cintai telah memasuki masa kematian, telah meninggalkan kehidupan. “Termasuk beberapa keluarga kita dimasa pandemi Covid-19. Sahabat-sahabat terkasih, para ulama dan orang-orang yang kita cintai, kerabat, tetangga kita begitu banyak mengakhiri kehidupan, dan kita pasti akan menyusul,” tuturnya.

Dunia ini, kata Kiai Hidayat, diharapkan sebagai tempat ibadah. Sebagai hamba Allah menunaikan ibadah ini dalam arti yang luas tidak hanya menunaikan amalan-amalan ibadah yang bersifat mahdhah seperti shalat wajib ditunaikan, ibadah puasa fardhu hukumnya dan ibadah-ibadah lainnya. Tapi juga bagaimana terkait dengan hablum minannas (hubungan dengan manusia). “Inilah tempat kita mengabdi kepada Allah. Dan Allah mencatat semua pengabdian kita,” katanya. (bersambung)

Komentar