Selasa, 28 September 2021 | 12:02
NEWS

PPKM Darurat Menjadi PPKM Level Empat

Nabil Haroen: Perdebatan Istilah PPKM Habiskan Energi, Cenderung Alihkan Fokus

Nabil Haroen: Perdebatan Istilah PPKM Habiskan Energi, Cenderung Alihkan Fokus
anggota Komisi IX DPR, Muchamad Nabil Haroen (int)

ASKARA - Pemerintah kini melakukan perubahan nama PPKM Darurat menjadi PPKM level empat. Terkait perubahan itu, anggota Komisi IX DPR,  Muchamad Nabil Haroen, angkat bicara. 

Politisi PDI Perjuangan itu dengan tegas mengatakan perubahan istilah itu sesungguhnya tidak diperlukan. "Selain tidak diperlukan, perubahan itu tidak esensial, " kata Nabil Haroen, Jumat (23/7).

Menurut dia, ada yang lebih penting yang dilakukan pemerintah, utamanya dalam penanganan pandemi. 

"Fokus kita saat ini seharusnya pada program-program mendasar untuk penanganan pandemi seperti penguatan tenaga kesehatan serta fasilitas Rumah Sakit, percepatan vaksinasi, penguatan ketahanan pangan, hingga bantuan sosial untuk warga terdampak," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama yang akrab disapa Gus Nabil ini. 

Sebab, dia melanjutkan, perdebatan tentang istilah jadi menghabiskan energi, dan cenderung mengalihkan fokus. Sementara disisi lain, kata Gus Nabil, komunikasi publik pemerintah terkait emergency dan manajemen resiko harus ditingkatkan lagi.

"Saat ini, pandemi belum berakhir dan kita harus terus berjuang untuk menangani problem ini, secara bersama-sama. Kondisi pandemi akibatnya meluasnya kasus Covid-19 di Indonesia harus disikapi dengan kebijakan strategis, cepat dan terukur," ujarnya. 

Dia juga menegaskan monitoring harian dengan data yang terintegrasi sangat penting, di antaranya terkait jumlah kasus, kondisi rumah sakit, penanganan isolasi mandiri, penguatan infrastruktur sosial dan fasilitas kesehatan di tingkat desa sekaligus ketahanan pangan.

Menurutnya,  penguatan ketahanan pangan ini sangat penting, karena pandemi ini akan berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar. 

Gus Nabil berpandangan,  perlu ada skenario bagaimana menyiapkan stok pangan di secara lokal, di wilayah desa/kelurahan dengan pemanfaatan lahan yang ada. 

"Diversifikasi pangan penting, juga menggerakkan ibu-ibu dan pemuda untuk menguatkan ketahanan pangan dengan menanam umbi-umbian dan sayuran sebagai stok pangan di kawasan masing-masing," ujarnya.

Komentar