Membincang BOT RS Cikini
ASKARA - Banyak orang yang tidak mengatuhi apa itu BOT. Dalam konteks RS PGI Cikini, banyak orang mengartikan Build Operate Transfer (BOT) dengan PGI “menjual” RS Cikini ke PT Farmon Awal Bros Sedaya (PRIMAYA).
Sebagaimana diketahui, pada Jumat (25/7) di Graha Oikoumene PGI telah dilakukan penandatangan kerja sama antara Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Yayasan Kesehatan PGI CIKINI (YAKES CIKINI) dan PT Famon Awal Bros Sedaya (PRIMAYA).
Pendatangan Kerja Sama ini telah menimbulkan pro kontra. Pro BOT menyebut, kerja sama ini sebagai hal yang menguntungkan. Namun di pihak lain, kerja sama ini disimpulkan sebagai akal-akalan PGI dalam mengalihkan secara diam-diam asset yang dimiliki gereja-gereja ini.
Mengumuli pro-kontra tersebut agar tidak menjadi bola liar presenden buruk PGI ke depan, Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) mengambil inisiatif tampil dalam diskusi public bertema, Membincang BOT RS PGI CIKINI, Sabtu besok (3/7) pukul 18.30 WIB-19.30 WIB. Diskusi ini menghadirkan langsung Tim Negosiasi PGI.
“Mari kita ikuti penjelasan panjang lebar dan gamblang dari anggota tim negosiasi yang khusus dibentuk PGI untuk mencari investor terkait BOT RS Cikini. Jangan sampai kita tidak mengetahui proses BOT-nya tetapi kita mengeluarkan statement yang menjurus ke menghakimi,” kata Sekjen PIKI, Pdt Audy Wuisang, yang nantinya dalam diskusi akan bertindak selaku moderator.
RS PGI Cikini yang dimiliki oleh PGI berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 5,5 hektare berdasarkan Sertifikat Hak Milik atas nama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Untuk mengelola RS PGI Cikini, PGI mendirikan Yakes Cikini.
Sebagaimana bisa diakses dari laman PGI.or.id: https://pgi.or.id/transformasi-rs-pgi-cikini-menjadi-rumah-sakit-modern/, saat ini RS PGI Cikini sudah berusia 123 tahun dengan kondisi bangunan yang sudah tua dan memerlukan bangunan baru.
Demikian pula fasilitas kesehatan serta alat kesehatan yang sudah jauh tertinggal dengan rumah sakit lain bahkan sebagian sudah tidak berfungsi, ditambah dengan berkurangnya jumlah pasien rawat inap (BOR) serta pasien rawat jalan. Sementara jumlah utang terus membengkak mengakibatkan defisit yang besar.
Sejak tahun 2017 sampai dengan 2019, RS PGI Cikini merugi secara akumulatif sebesar lebih kurang Rp77 miliar dan utang RS PGI Cikini per Desember 2020 sebanyak Rp52 miliar. Sementara kewajiban dana pensiun sejumlah Rp58 miliar. Sehingga totalnya Rp 110 miliar.
Saat ini kondisi keuangan RS PGI Cikini sedikit terbantu karena ditunjuk menjadi rumah sakit rujukan Covid-19.

Komentar