Jumat, 30 Juli 2021 | 18:32
OPINI

Kisah Copet di Zimsakue

Kisah Copet di Zimsakue
Ilustrasi copet di bus (int)

Di mana mana, copet perlu sesuatu untuk mengalihkan perhatian korban. Saat korban sedang tidak awas, copet bisa leluasa mencuri barang-barang dengan gerakan jari yang lincah.

Termasuk di Zimsakue. Sekelompotan copet memasuki bis yang penuh sesak, telah menyiapkan skenario agar operasi mereka berjalan mulus. Bagaimana cara mengalihkan perhatian korban? Cukup unik.

Seorang copet mengajak ngobrol penumpang dengan mengangkat tema radikalisme.

"Awas pak. Ada kelompok radikal di dalam bis ini," ujarnya.

"Waduh. Yakin pak?"

"Banget. Ciri-cirinya begini..."

Lalu bapak tadi mulai celingak-celinguk memperhatikan orang-orang. Yang duduk di depannya dicurigai. Yang berdiri juga. Hingga ketika ia sibuk memperhatikan seorang yang terdeteksi radikal, dompetnya tiba-tiba hilang.

Beberapa saat kemudian bapak itu tersadar. "Aduh... Uang saya ilang," teriaknya.

"Kenapa pak?"

"Saya keilangan dompet. Isinya uang bansos. Ada yang ngambil dompet saya," ujarnya.

Komplotan copet bukannya diam. Mereka memperkeruh suasana. "Jangan-jangan pengikut kajian radikal yang ngambil. Mereka kan butuh dana buat mendirikan khilafah," ujar salah seorang.

Suasan riuh tak terkendali. Penumpang saling curi pandang mencurigai. Yang lain memeriksa dompetnya takut kehilangan juga. Tapi pembicaraan tentang radikalisme berlanjut.

Kondektur ikut-ikutan bicara. "Udah ngaku aja. Siapa yang radikal di bis ini? Turun sekarang!"

Ia meracau. Mengomel dan berkhotbah tentang toleransi, pluralisme, dan sebagainya. Sampai-sampai teriakan seorang penumpang yang mau turun tidak didengarnya. 

"Pak.. pak.. saya mau turun paaaak..."

"Woi piiir.. minggiiir..." ujar orang-orang.

"Oooh ada yang mau turun?" Tanya kondektur.

"Iya. Saya mau turun di Asrama Haji. Tapi udah kelewatan beberapa ratus meter gara-gara situ ngomongin radikalisme terus. Kamu ga fokus kerja. Kamu gagal. Harusnya kamu mengundurkan diri dari kondektur," omel seorang penumpang.

Gaduh lagi di dalam bis. Dan para copet terus beraksi. Semakin gaduh semakin kondusif.

"Tapi soal radikalisme ini memang harus diwaspadi, Pak... Bu.." Si supir ikut-ikutan bicara. Panjang lebar turut berkhotbah. Dan ceracaunya terhenti ketika dia menyadari bahan bakar sudah mau habis.

"Aduh, gimana ini? Solarnya sudah mau habis. SPBU masih jauh," ia berteriak.

"Huuu... Sibuk radikal radikul, ga beres kerja," protes penumpang.

Gaduh lagi dan lagi. Para copet terus beraksi. Panen hasil. Namun ketahuan juga oleh seorang penumpang.

"Awas ada copet," teriaknya. Dan semua mata memandang ke arah orang itu.

"Saya lihat sendiri ada yang ngambil dompet dari celana belakang. Terus dompetnya dioper-oper sampai ke depan. Awas, ada komplotan copet di bis ini."

"Waaah kamu bikin kegaduhan," jawab kondektur. "Kamu taliban ya?"

"Hah? Enak aja. Saya orang biasa."

"Iya. Dia taliban. Turunkan dia dari sini," ujar seorang pencopet.

Kawanan copet, kondektur, dan beberapa orang yang terpengaruh mendorong dan menyeret saksi mata tadi keluar dari bis.

Dan bis terus melaju bersama obrolan radikalisme, toleransi, dll. Bahan bakar semakin tipis. Para copet sukses. Barang curian melimpah. Hingga bis tak lagi bisa melaju.

"Bapak-bapak, ibu-ibu, kita kehabisan solar. Sampai di sini ya perjalanan kita. Maaf kalau tidak sampai tujuan."

Orang-orang marah. Mengomel-ngomel. Ada yang panik ketika tahu dompet dan perhiasannya hilang.

Mereka bukan tidak sadar banyak copet di dalam. Tapi mereka kehilangan fokus. Dan mereka bukannya tidak curiga jangan-jangan supir dan kondekturnya bagian dari kawanan copet.

Kini masing-masing orang berdiri dipinggir jalan menunggu kendaraan lain untuk ditumpangi. Bisnya bubar, para penumpang tercerai berai.

Zico Alviandri

Penulis Query SQL Dan Artikel

Komentar