Kamis, 18 Juli 2024 | 07:44
NEWS

Dedi Mulyadi: Ganti Saja Ziarah Kubur Jadi Wisata Religi

Dedi Mulyadi: Ganti Saja Ziarah Kubur Jadi Wisata Religi
Warga melakukan ziarah Kubur di TPU Prumpung, Jakarta Timur. (Dok. Jpnn)

ASKARA - Sejumlah daerah seperti di Jakarta dan Jawa Barat melarang masyarakat untuk melakukan ziarah kubur selama libur Lebaran mulai 12-16 Mei.

Menanggapi hal itu, anggota DPR RI Dedi Mulyadi mengaku bingung dengan kebijakan tersebut. Terlebih ziarah kubur sudah menjadi tradisi masyarakat dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri.

"Hari ini saya dibuat bingung oleh sebuah kebijakan. Tempat wisata dibuka sementara ziarah kubur dilarang," ujarnya, Kamis (13/5).

Dedi Mulyadi mempertanyakan alasan membuat kebijakan tersebut. Sebab antara tempat wisata dan pemakaman mana yang lebih berisiko menimbulkan kerumunan dan berdesakan sehingga dikhawatirkan menjadi kluster Covid-19.

"Yang jadi pertanyaan dari dua tempat itu mana kira-kira yang paling berisiko," tanyanya.

Pengalaman Dedi Mulyadi, justru orang lebih banyak berdesakan di pintu masuk areal wisata dibanding ke pemakaman.

"Pengalaman saya belum pernah melihat orang berdesakan antre masuk areal pemakaman untuk ziarah," tuturnya.

Jika wisata diperbolehkan, Dedi Mulyadi mempertanyakan apakah ziarah kubur bisa masuk wisata religi atau tidak. Sebab ziarah erat hubungannya dengan wisata religi di Indonesia.

"Bolehkan ziarah kubur jadi wisata ziarah kubur. Apakah itu masuk wisata juga karena kan bisa disebut wisata religi," katanya.

Menurut Dedi Mulyadi, jika pembukaan tempat wisata dalam rangka peningkatan ekonomi maka ziarah kubur pun bisa masuk katagori tersebut. Sebab, selama di pemakaman banyak perputaran ekonomi masyarakat mulai dari penjual bunga hingga makanan.

Dia berharap kebingungan tersebut bisa dijawab oleh pemerintah. Sehingga masyarakat tidak dibuat bingung dan kecewa dengan kebijakan yang sudah diberlakukan. (kesatu)

Komentar