Ibu Maafkan Aku tak bisa Mudik
Tak terasa airmata mengalir di pipi keriput Mak Ani. Wanita berusia 68 tahun itu menatap kosong ke layar handphone yang dibelikan anak bungsunya 3 tahun yang lalu. Handphone itu hanya digunakan Mak Ani untuk vidio call anak dan cucunya.
Dengan suara bergetar Mak Ani bertanya pada anaknya, "Jadi kalian ndak bisa pulang lagi? Sudah 2 tahun Mak ndak jumpa kalian. Sudah sebesar apa cucu cucu Amak sekarang?" tanya Mak Ani berusaha menahan kekecewaan yang ada dihatinya.
"Iya Mak, Pemerintah sudah buat larangan untuk tidak mudik, bagaimana lagi Mak..Kami juga rindu sama Amak, rindu dunsanak di Padang,” jawab anak pertama Mak Ani yang ikut suaminya tinggal di Jakarta.
Mak Ani menarik nafas panjang, hatinya makin galau karena anak ke duanya yang tinggal di Bandung pun sudah mengabari tidak bisa pulang kampuang dan anak ke 3 nya laki laki yang bekerja di Surabaya pun mengatakan hal yang sama. Sirna sudah mimpi Mak Ani ngumpul bersama anak mantu dan cucu cucunya.
Sudah terbayangkan betapa sepinya lebaran tahun ini, lebih sepi dari tahun yang lalu karena Mak Ani hanya tinggal seorang diri dirumahnya. Mak Ani memang tak tinggal bersama anak anaknya walaupun anak anaknya sering mengajak Mak Ani tinggal bersama mereka. Namun ia selalu menolak karena berat berpisah dari makam suaminya. Mak Ani berharap jika ajalnya tiba ia ingin dikuburkan disamping suaminya. Lagi pula masih ada sawah peninggalan suaminya, nga mungkin ia tinggalkan.
Sudah 2 tahun dia tak bertemu anak cucunya karena pandemi ini. Memang awal awal Pandemi, Mak Ani pernah melarang anak anaknya pulang karena kuatir anak cucunya terpapar covid, Mak Ani berharap lebaran tahun ini coid itu sudah kembali ke asalnya Cina, karena perempuan tua itu sering menonton kerumunan di TV.
Mak Ani merasa pandemi sudah mulai berakhir. Namun nyatanya kembali Mak Ani menelan kekecewaan 3 anaknya yang di rantau dan 4 cucunya tak bisa pulang seperti tahun lalu. Padahal Mak Ani sudah rindu dengan anak cucunya. Sangat ingin tubuhnya yang renta ini dipeluk anak cucunya.
"Mak.. Jangan menangis, kami juga ingin pulang, rindu sama Mak, ingin makan rendang Amak dan juga ingin ziarah ke makam Bapak. Tapi kalau nekad berangkat jalan darat bawa kendaraan pribadi kuatir disuruh kembali lagi karena penjagaan ada dimana mana.." Tia mulai menangis, sebagai ibu ia merasakan perasaan Amak yang sangat ingin ngumpul dengan anak anaknya di hari raya idul fitri ini.
Anak anaknya pun sudah sangat rindu dengan nenek mereka. Seperti biasa pertengahan Romadhan Amak pasti sudah siap siap untuk masak rendang dan buat lamang kesukaan menantunya. Ah.. Mengapa ada aturan larangan mudik ini? Bukankah Mudik sudah jadi budaya dan tradisi bangsa Indonesia. Walaupun harus menyeberangi samudera tetap akan berangkat demi memeluk orangtua, meminta maaf di hari yang fitri. Tia hanya bisa menangis dan meminta maaf pada Ibunya.
Mak Ani, paham keadaan anak anaknya, bukan mereka tak mau pulang namun larangan Pemerintah yang memaksa mereka untuk tak bisa berkumpul. Mak Ani berjalan tertatih tatih menuju kamar mandi. Usianya sudah sepuh hingga tak bisa segesit dulu.
Ia ambil wudhu, dan sholat tahajud. Hanya Allah tempat mengadu. Mak Ani ingin curhat sama Allah, mengapa ada aturan seperti ini, sebagai orang kampung akalnya tak bisa memahami mengapa mesti memutuskan silaturahmi dengan melarang Mudik. Padahal sebelum ada covid pun setiap hari ada saja yang mati.
Mati itu karena ajal bukan karena covid. Pikir Mak Ani. benar benar kecewa. Dia ingin protes tapi kesiapa ? Dia hanya janda tua yang anak anaknya semua merantau. Namun sudah 2 tahun tak bertemu anak anaknya. Sampai kapan kerinduan ini harus dia tahan. Biarlah hanya pada Allah ia mengadu.
Mak Ani duduk melamun di teras. Kebiasaan Mak Ani habis sholat Asar duduk di kursi tua yang dibelinya saat pengantin baru. Sambil menunggu buka puasa. Ditangannya selalu ada tasbih. Inilah yang menghibur Mak Ani dengan berzikir hatinya yang gundah terasa tenang.
Dulu rumah ini ramai dengan celoteh 3 anak anaknya dan candaan suaminya. Namun kini Mak Ani tinggal sendiri rumahnya bagaikan kuburan sepii.. sepi ini pasti akan sangat terasa di malam takbiran nanti. Airmata Mak Ani kembali menetes, matanya lurus menatap Gunung Singgalang.
Astagfirullah, Ya Allah, Ada apa dengan negri ini, silaturahmi tak lagi jadi budaya. Bukankah silaturahmi itu memperpanjang umur dan menjauhkan bala? Namun sekarang silaturahmi bahkan diangab bahaya dan mempercepat kematian. Covid, covid, mengapa hidup kita diatur oleh Covid? Mak Ani.. terus berzikir.
Hanya inilah obat rindunya pada anak anaknya.. Seandainya ajalnya tiba, Mak Ani sudah siap harus berangkat sendiri tanpa diantar anak anak tercintanya, karena covid perasaan pun jadi mati. Bahkan disaat dikuburkan pun keluarga tak bisa menyaksikan. Ya Allah.. hanya padaMu kami berlindung dari segala kejahatan makhlukMu.
Elva Tazar
Penulis Novel Amak
Ig@elvatazar

Komentar