Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:03
OPINI

Kearifan Diogenes

Kearifan Diogenes
Ilustrasi kearifan diogenes (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Bayangkan ada orang hidup di dalam tong. Bukan karena tidak mampu sewa kontrakan, tapi karena prinsip. Itulah Diogenes.

Dia filsuf Yunani, muridnya murid Socrates. Tapi gayanya beda jauh. Kalau Socrates nanya-nanya di pasar biar orang mikir, Diogenes malah tidur di tong biar orang mikir: "Ini orang waras apa tidak?"

1. Anti Properti, Pro Tong

Zaman sekarang kita pusing cicilan, KPR, furnitur aesthetic. Diogenes? Isinya cuma tong, jubah compang-camping, dan tongkat.

Ditanya: "Tidak butuh rumah?"

Jawabnya: "Buat apa? Yang penting tidak kehujanan dan tidak ada tagihan listrik."

Minimalis level dewa. Marie Kondo kalah.

2. Spesialis "Nampol" Ego Orang

Puncaknya pas Alexander Agung datang. Raja penakluk dunia. Dia mampir ke tong Diogenes dan dengan sok baik hati bilang: "Minta apa aja, akan kukabulkan."

Diogenes sedang jemur badan. Dia jawab santai: "Minggir. Kamu nutupin matahari saya."

Semua orang nahan napas. Kurang ajar! Itu raja!

Tapi Alexander malah ketawa. Lalu dia ngomong kalimat yang jadi legenda:

"Jika saya bukan Alexander, saya ingin menjadi Diogenes."

Dan Diogenes? Tanpa berkedip dia nyaut:

"Jika saya bukan Diogenes, saya ingin menjadi Diogenes."

Nah. Itu tamparan ganda. Alexander mengakui kearifan Diogenes maka ingin menjadi Diogenes. Tapi Diogenes bilang: saya tidak mau jadi siapa-siapa selain diri saya. Tidak butuh tahta buat bahagia.

3. Guru Keaslian

Diogenes benci kemunafikan. Dia pernah bawa lampu di siang hari, ditanya cari apa? "Saya cari manusia yang  jujur. Yang tidak pakai topeng sosial”. Zaman sekarang ini sama aja kayak kita scroll IG 2 jam buat cari "orang asli". Susah.

Dia juga pernah makan di depan umum, tidur, buang air kecil dan besar di depan umum. Waktu ditegur, jawabnya: "Kalau lapar boleh di depan umum, kenapa yang lain tidak?" Logikanya tidak bisa dibantah. Memalukan, tapi benar.

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari begawan tong ini?

1. Kebebasan = Butuh Sedikit. Semakin sedikit yang kamu butuhkan, semakin sedikit yang bisa mengendalikanmu.

2. Kebenaran itu Telanjang. Tidak perlu dibungkus retorika. Kalau pahit ya pahit.

3. Jadilah Diri Sendiri, Titik. Tidak ada versi 2.0 dari Diogenes. Dan dia bangga dengan itu.

Diogenes bukan contoh yang harus kita tiru 100%. Masa iya kita semua pindah ke tong. Nanti RT protes. Tapi dia pengingat yang jenaka: bahwa bahagia itu sederhana, bahwa gengsi itu mahal, dan bahwa kadang-kadang kita perlu "minggir" dari keramaian biar bisa lihat matahari lagi.

Di dunia flexing yang isinya pamer dan pencitraan, kita butuh satu Diogenes. Buat bertanya: "Kamu beneran butuh itu? Atau cuma nutupin matahari orang lain?"

 

Komentar