Senin, 14 Juni 2021 | 11:40
TRAVELLING

Catatan Perjalanan

Sensasi Gempa di atas Gunung Kawi

Sensasi Gempa di atas Gunung Kawi
Sensasi Gempa di atas Gunung Kawi

ASKARA - Jumat siang tanggal 9 April 2021, kami bersepakat mengunjungi gunung Kawi via Taman Pakis Maduarjo, Malang. 

Kami berangkat berempat, saya sendiri sudah pernah lewat jalur ini sekitar akhir November 2020. Kalau yang lalu saya bersama maz Ediz, Rinal dan Inu sekalian review jalur sembari pasang penunjuk arah termasuk webbing, kali ini saya mengantar seorang teman perempuan yaitu Elis dari Jakarta, ditemani dua orang laki-laki. Ada Han Sonny (Sever Semeru) dan adik kelasnya di Sispala bernama Yusril. 

Cuaca cerah, perjalanan pun lancar. Untuk mencapai puncak gunung Kawi 2.603 mdpl yang hanya memiliki 4 Pos normalnya dibutuhkan waktu sekitar 7 hingga 8 jam. Jarak antara pos sangat panjang. Karena kami berangkat menjelang pukul 12.00 wib, maka kami putuskan untuk buka tenda di Pos 2, karena hari sudah sore dan agar bisa istirahat dengan baik, tubuh lebih fit dan tidak perlu membawa beban berat untuk melanjutkan ke puncak. Malam gerimis kecil. Gunung sepi, bagai milik pribadi. 

Sabtu, 10 April 2021 pada pagi pukul 06.00 kami mempersiapkan diri menuju puncak Kawi, berangkat bertiga karena Han Sonny memutuskan tinggal di tenda. Beruntung cuaca juga cerah hingga tidak terlalu menyulitkan perjalanan, seperti pernah saya ceritakan selepas Pos 2, pendakian yang sebenarnya barulah dimulai. 

Tanjakan yang membuat lutut ketemu dada, meski jarak pos 2 hingga puncak sebetulnya hanya 1.7 kilometer tapi waktu yang dibutuhkan sama dengan perjalanan dari basecamp ke pos 2 yang berjarak 3.5 kilometer. Persiapkan mental. Jalur curam yang menguras tenaga membutuhkan waktu cukup lama. 

Pukul 06.30 start, seperti biasa saya menyiapkan 2 gulung webbing, dulu sudah pernah saya pasang tapi kurang. Bersyukur webbing itu masih ada di tempatnya, sudah ada beberapa tambahan tali pramuka dan tali dari bekas jaring yang dipasang oleh pendaki lain. Saya sempat menambahkan lagi menyambung tali untuk mempermudah bagi siapapun nanti. 

Pukul 10.00 sampailah kami, berswafoto, bercanda sembari menikmati biskuit dan kopi yang kami bawa. Memberi perhargaan pada diri sendiri itu penting, bahwa perjalanan sesulit apapun, bila kita mau, maka akan berhasil juga. Hargailah perjuangan dirimu sendiri tanpa menunggu dari orang lain. 

Pukul 11.15 Wib kami memutuskan segera turun, naiknya susah, turunpun hampir sama, tapi itu sudah bukan masalah. Sambil jalan kami tetap ngobrol dan bercanda. Akhirnya sampailah sudah di Pos 2 tempat tenda kami berada sekitar pukul 13.00 wib. 

Gunung Kawi memang masih sangat sepi pengunjung, saat kami mendaki kemarin, Elis dari Jakarta nyeletuk "baru kali ini mendaki gunung, tidak bertemu sama sekali dengan pendaki lain, baik yang naik maupun turun". Saya jawab " Sekarang sudah mulai lumayan, sudah ada yang mau mendaki ke gunung Kawi ini, tidak apa-apa masih sedikit, paling tidak sudah mulai diminati, dan memang seharusnya anak-anak Jawa (khususnya) mulai mendaki gunung Kawi, agar lebih mengenali dan ingat "kawitannya" (Asal mula dari semua hal".

Sangat menggembirakan, saat sampai pos 2 sudah ada 3 kelompok pendaki. Satu dari desa sekitar, dari Malang dan Surabaya kira-kira berjumlah 20 orang. Lumayan, biarlah gunung Kawi ini menjadi lebih dikenali banyak orang meski kebanyakan masih dari seputaran Jawa Timur. 

Selesai bebersih diri dan makan siang yang sudah disiapkan Han Sonny, kami bergegas mengemasi tenda, dan segera turun. Pukul 14.00 Wib selesailah sudah, kami cek sampah dan segala peralatan sudah bersih dari tempatnya. Berdoa bersama lebih dulu dengan mengucap syukur selama perjalanan diberi cerah sebelum turun. 

Selesai berdoa, kami melangkah bersama. Dan baru 10 meter meninggalkan pos 2, tiba-tiba Elis mendekat, sambil terengah-engah memegang erat tangan saya dengan ekspresi wajahnya yang sangat ketakutan. Saat itu saya masih bingung, badan saya terasa terhuyung. 

Apa saya terlalu lelah?? Belum selesai berpikir, tiba-tiba terasa angin kencang, daun-daun pohon di sekitar kami bergoyang, dan tanah yang kami pijak serasa bergelombang dengan begitu kerasnya. Seperti berdiri diatas loyang di goyang-goyang, hemmm begitu mengerikan. Terasa  keras sekali, dan membuat hati ini ciut, apa yang terjadi sebenarnya?? 

Setelah keadaan itu berlalu, saya memutuskan mengajak semua teman untuk segera berjalan dengan tenang dan meningkatkan kewaspadaan, dan jangan banyak istirahat agar segera bisa sampai basecamp. Sensasi yang baru pertama kalinya saya alami di atas gunung. Sungguh berbeda rasa dan benar-benar menakutkan, semoga tidak pernah lagi mengalaminya. 

Kami berjalan dengan cepat, ada beberapa dahan cukup besar yang patah dan menutup jalur, ada tanah yang terlihat retak tidak lebar sih, sayang saya tidak memotretnya, keinginan kami hanya satu, segera sampai di bawah, keluar dari hutan pegunungan. 

Sesampainya di basecamp saya coba mengaktifkan internet handphone untuk mengetahui apa yang terjadi. Ya ampun ada notifikasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa telah terjadi gempa 6.7SR. Wow cukup besar, maka itu serasa berdiri di atas loyang badan terhuyung di goyang-goyang. 

Bersyukur masih diberikan keselamatan. Banyak rumah di Malang, lumajang, Tulungagung, Trenggalek, Blitar rusak karenanya. Ada beberapa korban meninggal karena tertimpa batu yang runtuh saat melewati jalan bertebing. 

Saya jadi kepikiran dengan 20 pendaki yang sedang menuju puncak kemarin, karena jalur dari pos 2 ke puncak, lebih di dominasi batuan, semoga mereka juga terselamatkan. 

Pagi saat saya menuliskan pengalaman  pertama gempa diatas gunung, saya coba menghubungi basecamp, untuk cari tahu bagaimana kondisi teman-teman pendaki yang masih diatas. Tapi belum mendapat jawaban. Semoga mereka baik-baik saja dan segera memutuskan turun juga. 

Posisi saya sendiri masih di seputaran lereng Kawi, dan terjadi gempa lagi pada pagi ini pukul 06.54, info dari BMKG yang baru saya terima, gempa berkekuatan 5.5SR. Lumayan besar, untung tidak lama. 

Waspada dan kehati-hatian harus ditingkatkan, pengetahuan tentang bagaimana menghadapi gempa perlu di sosialisasikan kembali, agar masyarakat lebih siap dan minim korban. 

Tidak perlu menghubungkan dengan azab dan sejenisnya, sadarilah bahwa letak geografis negara Indonesia memang dekat dengan gempa, gunung meletus dan yang lainnya. Yang terpenting adalah memahami situasi agar lebih mudah menyelamatkan diri tanpa harus menyalahkan pihak manapun. 

Belajar introspeksi, jangan selalu cari kambing hitam. Eling dan Waspodo untuk tiap pribadi. 

Komentar