Kamis, 18 Juni 2026 | 00:29
OPINI

Bahasa Sunda Yang Anggun

Bahasa Sunda Yang Anggun
Ilustrasi Bahasa Sunda (int)

Entah kenapa saya merasa iri terhadap istri saya mbak Wied, walaupun ia bukan keturunan darah biru, namun ia fasih Bahasa Kraton Krama Inggil. Disamping itu sejak usia 7 tahun ia sudah pandai menari tarian Kraton.

Sedang saya sebagai anak jalanan tidak ada satupun juga yang bisa saya banggakan, karena bahasa maupun budaya Sunda pun tidak saya kuasai, terkecuali bahasa jalanan atau Bahasa kasar.

Sehingga timbul pertanyaan apakah Bahasa Jawa itu tingkat dan nilainnya jauh lebih tinggi daripada Bahasa Sunda? Maklum Bahasa Jawa memiliki Tiga Undak Usuk atau tingkatan.

Apa itu Undak Usuk Basa? Undak usuk basa adalah tingkat yang dimiliki sebuah bahasa yang terkait dengan kepada siapa ia digunakan.

Semakin tua lawan bicara yang dihadapi semakin halus kosa kata yang harus digunakan.  Kesalahan dalam menggunakan tingkatan bahasa ini dapat berakibat fatal dalam komunikasi. Apa saja akibatnya?

Di antaranya adalah lawan bicara merasa tersinggung, sehingga enggan berkomunikasi lagi. Selain itu bagi penutur sendiri akan muncul rasa bersalah dan malu karena tidak mampu menggunakan tindak tutur yang tepat kepada orang yang tepat.

Oleh sebab itu, mengetahui tingkatan bahasa sangat diperlukan bagi siapa pun yang ingin aktif berinteraksi dengan orang Sunda di mana pun berada.

Ketika saya curhat rasa minder saya tsb kepada seseorang tokoh sesepuh Sunda, ia menghibur saya dimana beliau menyatakan bahwa saya tidak perlu memiliki rasa minder. Karena Bahasa Sunda bukan hanya memiliki sekedar tiga tingkatan undak usuk saja bahkan lima.

Tetapi saat ini dalam Tatakrama Basa Sunda telah secara resmi ditetapkan bahwa dalam bahasa Sunda ada dua ragam atau tingkatan bahasa saja.

1. Basa Luluhur : Digunakan untuk  pangagung atau penghormatan. Biasanya digunakan untuk menyapa para Raja Sunda. Untuk lebih jelasnya, basa tingkat ini hanya dipakai di upacara adat Keraton kasepuhan Cirebon dan lingkungan pegawai pemerintahan di provinsi Jawa Barat.

2. Basa Lemes: Digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua umurnya, pangkatnya, atau orang yang dihormati di masyarakat.

3. Basa Sedeng: Digunakan untuk menunjuk diri sendiri saat berkomunikasi dengan siapa pun.

4. Basa Wanoh: Digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang seusia, atau yang selevel baik pendidikan maupun pekerjaannya.

5. Basa Kasar: Digunakan kepada hewan dan untuk menunjukkan rasa marah kepada seseorang. 

PS: Tetapi saat ini dalam Tatakrama Basa Sunda telah secara resmi ditetapkan bahwa dalam bahasa Sunda ada DUA ragam atau tingkatan bahasa saja. Mohon dikoreksi apabila ada yang salah, maklum masih dalam tahapan belajar !

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar