Minggu, 18 April 2021 | 13:17
OPINI

Apa Yang Disebut Agama Itu?

Apa Yang Disebut Agama Itu?
Ilustrasi

Hari ini Mang Ucup ingin menulis tentang  Agama, karena sering terjadinya pertikaian antar sesama umat. Namun Perlu saya tekankan disini bahwa tulisan ini bukanlah artikel rohani dan juga tidak ada kaitannya dengan agama tertentu.

Mang Ucup berusaha untuk menulis artikel Agama ini dari sudut pandangan psikologis, filsafat maupun ilmiah. Tidak bisa dipungkiri diskusi yang paling sengit dan paling lama di berbagai macam WA Group ataupun di Medsos.

Pada umumnya yang ada kaitannya dengan masalah Agama. Hal inilah yang menyebabkan artikel rohani di wa group pada umumnya, kurang disenangi bahkan membosankan!

Agama bisa jadi pemicu perang misalnya perang Salib atau perang di Irlandia. Agama juga bisa jadi pemicu pembunuhan (teror), bahkan pembantaian etnis misalnya Yahudi.

Gara-gara Agama juga banyak pasangan maupun keluarga yang menjadi retak. Misalnya karena beda agama pasangan tidak bisa nikah. Ataupun suami menceraikan istri yang pindah agama.

Begitu juga tidak jarang dimana orang tua memutuskan hubungan ikatan kekeluargaan dengan anaknya, hanya karena agama. Tidak bisa dipungkiri pula, banyak orang menjadi kehilangan daya nalar atau daya pikirnya.

Pada saat ia menganut agama. Bahkan sudah terbuktikan banyak orang menjadi SADIS, karena dipicu oleh masalah agama.

Secara terminologis, definisi "Agama" itu sendiri sudah menimbulkan persoalan yang pelik. Apa yang disebut "Agama" itu ? Dan kepercayaan mana saja yang layak dikategorikan sebagai "Agama" ? Misalnya menurut mantan menteri agama Tarmizi Taher aliran Kong Hu Chu tidak bisa dinilai sebagai agama.

 

Melainkan hanya sebuah filsafat hidup, sehingga pada saat itu pemerintah tidak bisa dan tidak mau mengakui sebagai agama. Jangankan di Indonesia, di negara maju seperti Jerman sekalipun. Mereka pusing untuk menilai suatu kepercayaan atau aliran.

Apakah ini agama ataukah bukan misalnya aliran Scientology di Jerman. Mereka menilai ini bukanlah agama. Hal ini menimbulkan proses hukum yang bekepanjangan.

Kata Agama dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Sangsekerta (A = tidak; Gama = kacau). Secara etomologis, agama itu berarti sesuatu yang "Tidak Kacau".  Banyak orang memiliki keyakinan; tanpa adanya agama sama seperti juga tidak memiliki hukum. Jadi dunia akan kacau, karena segalanya diperbolehkan.

Dalam kebanyakan bahasa Eropa. Kata agama itu berasal dari bahasa Latin = Religio yang diserap dari kata Ligare = mengikat. Sedangkan Re = lagi; jadi bisa diartikan sebagai mengikat lagi.

Konon kata Religion itu berasal dari St. Agustinus. Sedangkan dalam bahasa Arab = Din yang bisa diartikan sabagai taat atau suatu kata yang mengacu kepada kepatuhan.

Pada saat pemerintahan Order Baru. Agama itu di definisikan sebagai “Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa". Maka dari itu aliran yang tidak percaya akan Tuhan ataupun Tuhan yang Maha Esa sebenarnya tidak bisa dinilai sebagai Agama.

Banyak orang dengan secara gampang menyatakan bahwa semua agama itu sama. Apakah benar demikian? Kalau kenyataannya semudah demikian, maka manusia dengan mudah bisa gunta-ganti agama. Seperti juga ganti pakaian. Tetapi kenyataannya boro-boro ganti agama! Ganti ALIRAN pun sudah bisa dinilai sebagai Dosa besar. Misalnya Kristen Katolik pindah menjadi Protestan.

Banyak orang berpendapat, bahwa berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh umat manusia sekarang ini. Kita sebenarnya tidak butuh agama, tetapi dilain pihak tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia itu lemah.

Selama masa hidupnya ia akan ditempa oleh berbagai macam problem kehidupan, penyakit maupun penderitaan. Hal inilah yang disaksikan dan dialami oleh setiap manusia. Disamping itu setiap manusia yang lahir di dunia, hanya memiliki SATU tujuan saja ialah kemusnaan alias kematian.

Hal inilah yang mendorong manusia untuk mencari sesuatu yang lebih luhur. Kepada siapa manusia bisa berharap atau mencari sesuatu setelah kehidupan ini.

Jadi agama itu menurut pendapat mang Ucup adalah suatu kepercayaan (Bahasa Jerman = Glauben). Entah kepercayaan apapun juga yang mereka anut. Hal ini tidak harus ada kaitannya dengan kepercayaan kepada illah saja.  Misalnya aliran Atheist pun bisa dinilai sebagai agama ialah Kepercayaan akan tidak adanya illah !

Kenapa orang sampai bersedia mengorbankan segala-galanya demi agama ? Mulai dari harta sampai tubuhnya sendiri ? Apakah mereka itu semuanya orang gelo sakit jiwa ataukah o-on bin dunguk? Mohon petromaknya ! Mang Ucup yang selalu mendoakan agar terjadinya perdamaian antar sesama umat. Amin.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar