Tolong Jangan Impor Cabai, dari Jateng dan Madura Mulai Panen
ASKARA - Harga cabai di Surabaya kini meroket. Terakhir, pantauan di pasar induk Koblen Surabaya, harga cabai sudah mencapai Rp 90-100 ribu per kilogram.
Pedagang cabai M. Harri mengatakan, menetapkan harga Rp90 ribu untuk penjualan tersebut hanya berselisih Rp 7-10 ribu dari harga yang dia dapat dari tengkulak dan petani atau pengepul.
"Kalau dari petani Rp 80-85 ribu. Jadi mepet sekali," kata Harri.
Harri mengaku tak berani menyetok cabai terlalu banyak. Sebelum ada fenomena ini biasanya dia meminta pasokan 5-7 kuintal, tetapi kini hanya 2-3 kuintal atau sekitar 200-300 kilogram saja lantaran khawatir tidak laku di pasaran. Selain itu, Harri terpaksa mengambil pasokan dari Nusa Tenggara Timur yang harganya lebih murah dari Pulau Jawa.
"Ini cabai saya dari NTT karena murah cuma Rp 80-85 ribu per kilo. Kalau dari Jawa sendiri bisa tembus 90-100 ribu dari petani. Lalu kami jual berapa," katanya.
Ihwal harga cabai yang meroket, Harri mengaku tak terlalu sedih. Menurutnya, naiknya harga cabai sudah sesuai dengan skema alam. Sekarang, saatnya petani yang merasakan keuntungan dalam panen mereka. Tak seperti pada bulan Mei hingga September 2020, beberapa bulan pasca kasus Covid-19 pertama kali datang di Indonesia harga cabai anjlok.
Harganya sempat menyentuh Rp 3000 hingga Rp 5000 per kilogram. Anjloknya harga cabai membuat petani bahkan membuang hasil panen mereka di jalanan.
"Kalau sekarang itu ya biarkanlah nggak apa-apa, sebulan dua bulan. Biar petani itu senang dapat duit agak banyak," tambah Harri.
Meski harga cabai sedang tinggi, Harri sebagai pedagang meminta pemerintah untuk tak mengimpor dari luar negeri. Dia ingin pemerintah pusat maupun daerah bersabar, dan memberi waktu bagi petani agar makmur.
"Ndak usah ada impor. Toh satu bulan lagi juga murah karena dari Jawa Tengah dan Madura mulai panen. Insya Allah turun lagi," jelasnya. (jpnn/ngopibareng)

Komentar