Rabu, 17 Juni 2026 | 16:37
NEWS

Sama Kayak Bapaknya, AHY Baperan

Sama Kayak Bapaknya, AHY Baperan
Ketum Demokrat AHY memberikan keterangan pers soal kudeta partai. (Dok. Detik)

ASKARA - Pengamat politik Karyono Wibowo menilai, masyarakat sudah memiliki persepsi khusus bahwa Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terlalu bawa perasaan. 

Cara berpolitik Demokrat yang suka mendramatisasi dimulai dari kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Karyono Wibowo pun menilai sikap AHY saat ini mengadopsi dari sang ayah. 

"Pernyataan AHY yang menyasar Istana terkait adanya sinyalemen pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa tentu bukan persoalan sepele. Masalah ini sangat sensitif, apalagi pernyataan AHY membawa-bawa Istana. Hemat saya, jika tidak hati-hati justru membawa risiko buruk dan bisa berpotensi menjadi bumerang. Istana yang dituduh bisa melakukan serangan balik. Ini yang perlu kalkulasi," jelasnya, Selasa (2/2). 

Karyono Wibowo juga menilai AHY harus melakukan verifikasi sehingga informasi yang diterima bisa dipercaya atau tidak. Sebab, bagaimanapun seorang pemimpin sebaiknya tidak tipis telinga dan tidak grasak grusuk dalam berpikir dan bertindak. 

"Sifat baper juga harus dibuang jauh-jauh karena ketiga sifat tersebut bisa menimbulkan dampak buruk terhadap organisasi," ujarnya.

Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) itu menambahkan, AHY harus mempertimbangkan secara matang sebelum melontarkan tuduhan itu. Apabila memang ada sinyal kudeta yang diinisiasi oleh Istana, harusnya AHY melakukan tabayun. Di samping itu, apabila AHY tidak bisa menunjukkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan maka akan muncul asumsi ada kecenderungan sinyalemen tersebut sengaja diolah untuk konsumsi politik yang dikapitalisasi untuk kepentingan citra AHY. Sebab, Demokrat harus disadari cenderung meredup. Di satu sisi, untuk melemahkan citra pemerintahan saat ini. 

Dalam peristiwa ini sangat penting bagi Demokrat menunjukkan bukti-bukti untuk melepaskan stigma negatif karena dalam persepsi publik. Demokrat kerap memainkan irama politik dramatis, playing victim dan baper. 

"Disadari atau tidak, stigma ini cukup melekat dalam benak sebagian masyarakat. Selain itu, dalam persepsi publik, gestur dan pemikiran AHY juga dinilai mirip ayahnya. Dampaknya, publik menilai AHY belum bisa lepas dari pengaruh SBY yang notabene adalah ayahnya sendiri. Karenanya, tidak menutup kemungkinan, pernyataan AHY yang menuding pihak Istana terlibat dalam upaya pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat bisa jadi tidak berdiri sendiri. Ada kemungkinan bersumber dari pemikiran SBY. Duplikasi SBY ke AHY ini mungkin di satu sisi bisa menjadi salah satu kelemahan AHY karena dipersepsikan sebagai pemimpin yang tidak mandiri," Karyono Wibowo memaparkan. (jpnn)

Komentar