Pengusaha Warteg Makin Terbebani Harga Tahu Tempe
ASKARA - Tahu dan tempe merupakan lauk pauk yang banyak dicari pelanggan warteg. Namun ancaman kenaikan harga tempe dan tahu menyusul lonjakan harga kedelai di pasar global berdampak pada bisnis kuliner warteg.
Ketua Koordinator Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni mengungkapkan, tahu dan tempe berkontribusi sekitar 30 persen dari menu yang tersaji di warteg.
"Menu warteg hampir 30 persen dari tahu tempe. Kalau harganya naik lagi, ini menambah beban bagi warteg," ujarnya, Selasa (2/2).
Di sisi lain, pendapatan pengusaha warteg tergerus oleh pandemi Covid-19. Jumlah pelanggan warteg berkurang karena banyak karyawan kantor yang bekerja dari rumah (WFH) akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar.
Pada saat bersamaan, daya beli masyarakat pun berkurang mengingat pendapatan turun selama pandemi.
"Kebijakan PSBB, WFH itu sudah mengurangi income (pendapatan) warteg, kemudian daya beli berkurang. Kalau ada beban lagi, harga naik ini akan menambah beban lagi ke warteg, terutama menu warteg tempe tahu banyak disukai," ujar Mukroni.
Dia mengakui, kenaikan harga tahu tempe sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir ini sekitar 15 persen-20 persen. Namun, Mukroni menuturkan pengusaha warteg belum menaikkan harga lauk pauk karena mempertimbangkan daya beli pelanggan yang juga lesu akibat pandemi.
"Kemarin kami belum (menaikkan harga) karena kami menjaga supaya pelanggan tidak lari. Teman-teman tidak ada yang menaikkan," jelasnya.
Akan tetapi jika harga tahu tempe kembali naik ia memperkirakan sejumlah pengusaha warteg akan mengerek harga lauk pauk. Solusi lain adalah mengecilkan ukuran lauk pauk tahu dan tempe yang dijual.
Di satu sisi, Mukroni mengaku tidak tega kepada pelanggan yang juga sedang mengalami kesulitan dari sisi ekonomi akibat pandemi Covid-19. Pasalnya, ukuran lauk pauk yang terlalu kecil pun tidak sepadan dengan harganya.
"Kalau menu misalnya kami jual Rp 5000 tapi bahannya naik dari Rp 6000 jadi Rp 7000 kami kan rugi juga. Nanti kami siasati, teman-teman biasanya sudah bisa create, istilahnya dengan keterampilan sendiri supaya seakan-akan harga tidak naik," terang Mukroni.
Oleh sebab itu, dia berharap agar pemerintah bisa menjaga stabilitas harga bahan pangan melalui berbagai kebijakan. Pasalnya, kenaikan harga bahan baku pangan ini akan menambah beban masyarakat di tengah pandemi Covid-19.
Tak hanya tahu dan tempe, Mukroni mengungkapkan harga cabai rawit merah juga naik sehingga menambah beban pengusaha warteg. Padahal, cabai rawit merah merupakan bahan baku utama olahan lauk pauk di warteg.
"Kalau mengenai harga, pemerintah harus memberikan stabilitas harga. Jangan sampai ada kenaikan mendadak seperti ini sehingga menjadi beban bagi masyarakat," ujarnya.
Sebelumnya, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Syailendra mengatakan, berdasarkan data Chicago Board of Trade, harga kedelai dunia pada Desember 2020 masih USD 13,12 per bushels untuk kontrak penyediaan Januari 2021. Tapi, sekarang harga kedelai naik lagi sebesar 4,42 persen menjadi USD 13,7 per bushels.
Kenaikan itu membuat harga kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe yang secara umum masih berada di kisaran Rp 9100 sampai Rp 9200 per kilogram berpotensi naik jadi Rp 9500 per kilogram.
Kalau perkiraan itu benar terjadi, dia menyebut harga tahu yang sebelumnya Rp 600 per potong akan naik menjadi Rp 650 per potong. Sementara, untuk tempe, harganya bisa naik dari Rp 15 ribu menjadi Rp 16 ribu per kilogram. (industry)

Komentar