Sombong Pembawa Sengsara
ASKARA - Hidup bergelimang harta, punya kuasa, punya wajah tampan atau cantik, sombong itu terasa menjadi biasa saja dan lebih sering dimaklumi. Karena mereka masih memilikinya. Walau tidak sedap dirasa.
Sombong yang tidak diduga juga ada ditiap sisi yang lain, menjadi orang pintar, baik, termasuk alim juga sangat dekat dengan kesombongan. Merasa lebih dekat dengan sang penciptaNya. Karena mereka-mereka ini akan lebih mudah merasa lebih baik dan memandang buruk atau rendah lainnya.
Seorang relawan atau penolong pun bisa demikian adanya, menjadi sombong tanpa disadarinya.
Saya jadi ingat pembicaraan ringan bersama teman saat memasak di dapur, tidak ada keseriusan yang kami rencanakan, setelah membahas gorengan tahu dan tempe tiba-tiba topik pindah masalah pada kata "menolong". Ternyata hati-hati kawan, kata menolong ini bisa menyeret dan menyesatkan pada rasa sombong yang halus dan tidak terasa juga. Pemilihan kata-kata sangat mempengaruhi jiwa.
Kami coba merenungkan bersama, ternyata itu benar adanya, halus tak terlihat semacam amuba, begitu mudahnya kita terpeleset. Menolong memang baik, disarankan dan keharusan tapi hati-hati, merasa menolong akan membuat hatimu tinggi dan mudah terjebak kesombongan. Dari perbincangan ringan akhirnya menjadi pembahasan yang mendalam.
Benangnya sangat tipis, setipis rambut dibelah tujuh sirotol maut. Apa yang kita rasa melakukan hal baik, ternyata bisa menyimpan keangkuhan (kesombongan), dimana saat kita mengatakan telah menolong seseorang, otomatis sekecil apapun kita pun merasa lebih kuat, lebih berada, lebih bisa, lebih super daripada orang yang kita tolong.
Pengertian ini memang tidak mudah dipahami. Kami coba merubah kata menolong dengan kata "sedang belajar".
Contoh, bila dihadapkan dengan orang kelaparan di depan kita lalu kita memberinya makan sebetulnya bukan kita menolong tapi kita sedang diminta belajar, belajar peduli, belajar mengasihi, belajar memberi atau berbagi dan lebih bersyukur agar kita tetap ingat dan tidak menjadi tinggi hati.
Saat pembicaraan hingga titik pembalikan pengertian ini kami pun baru tersadarkan, dan rasanya seperti ditampar ratusan orang.
Nampaknya memang sederhana namun makna dan dampak dari yang kita rasakan dalam jiwa menjadi sangat berbeda.
Selain perasaan lebih super karena kita merasa sudah berbuat baik maka tanpa sadar kita menuntut mendapatkan yang baik pula dalam hidup. Seperti halnya anjuran bersedekah agar mendapat pahala berlipat ganda.
Saat kita sudah merasa melakukannya tiap waktu dan tidak mendapatkan apa yang kita harapkan seperti yang telah kita dengar maka dengan mudahnya kita jatuh pada kekecewaan.
Maka dari itu kata menolong dengan iming-iming pahala sebetulnya sangat menyesatkan. Tanpa kita sadari akhirnya kita berbuat kebaikan supaya mendapatkan kebaikan pula (alias pamrih), selalu berharap. Apakah yang kita lakukan tulus dan sepenuh hati melakukannya? tentu jawabannya adalah tidak sama sekali.
Kembali pada orang kaya, punya kuasa, tampan cantik, pintar, baik, alim dan seterusnya. Yang mereka miliki memang sebuah anugerah, tapi sebenarnya hidup mereka lebih berat karena ujian untuk terpeleset pada kesombongan itu lebih besar dan bisa lebih dalam.
Semua hal dalam hidup sebetulnya adalah ujian dan pelajaran untuk kita selalu belajar memperhatikan dengan baik dan benar. Layaknya orang yang mendapat fasilitas lebih dari yang lain, tapi bila tidak bijak dalam bersikap dan penuh kesombongan maka kesengsaraan akan segera terjadi pada dirinya dan lebih sengsara dari yang dia kira.
Kita semua sadar betul karena sering kita dengar dari masa kanak-kanak kita bahwa harta, tahta, kuasa juga wanita berparas cantik, laki-laki gagah tampan itu semua hanya titipan yang tiba-tiba bisa hilang begitu saja. Dengan kesadaran sebagai "titipan" beranikah masih sombong?
Agar jauh dari kecewa ataupun sengsara karena sombong maka lebih baik kita membalik cara berpikir kita bahwa apapun yang kita miliki dan apa yang terjadi di depan mata, itu adalah waktunya kita belajar. Belajar apapun, belajar memberi, berbagi, mengasihi, bersyukur, sabar. Sebaiknya rasa yang kita tanamkan adalah merasa belajar.
Dengan cara berpikir demikian niscaya hidup ini terasa lebih ringan. Lakukan yang harus dilakukan dengan hati tanpa pamrih mengharap dan berpikir pahala dan belajarlah lebih dalam maka akan kita temukan kebahagiaan.
"Ojo rumongso biso, nanging biso rumongso".

Komentar