Cerpen: Kesombongan yang Membakar Semua Amal
ASKARA - Dahulu ia begitu taat, setiap sujudnya menorehkan cahaya di langit. Ribuan tahun ia hanyut dalam ibadah, melampaui makhluk mana pun. Namun, satu kalimat yang lahir dari kesombongan menghancurkan seluruh amal yang dikumpulkannya. Kisah ini mengajarkan bahwa ilmu dan ibadah tanpa rendah hati hanyalah bara yang membakar diri.
Langit masih berselimut cahaya ketika Azazil berdiri di barisan paling depan, memimpin makhluk-makhluk bersayap yang bersenandung memuji Sang Pencipta. Wajahnya dipenuhi sinar yang menandakan ketaatan, lisannya tak henti-henti melafalkan tasbih. Dialah makhluk yang namanya begitu harum di antara para malaikat. Ia bukan malaikat, tapi derajatnya begitu tinggi karena ibadah yang tak terkira banyaknya. Setiap seribu tahun, Allah mengangkatnya ke langit yang lebih tinggi. Dari langit pertama, ia terus naik, hingga mencapai langit ketujuh. Gelar Al-Muqarrabun disematkan padanya, tanda kedekatan yang tak dimiliki sembarang makhluk.
Namun, siapa yang menyangka, cahaya itu kelak akan padam oleh bara api kesombongan yang terselip dalam hatinya?
“Aku tak pernah lupa wajahnya,” suara tua itu bergetar di ruang pengajian yang sederhana. Seorang kiai sepuh duduk di hadapan santri-santrinya. Suasana hening, hanya desir angin malam yang menyelinap di antara jendela kayu.
“Wajah siapa, Yai?” tanya salah satu santri, penasaran.
Kiai itu menarik napas panjang. “Azazil. Nama yang dulu diagungkan para malaikat. Pernah kudengar dari para guru, ia makhluk yang ibadahnya melampaui bayanganmu.”
Para santri saling pandang. Kisah ini bukan dongeng biasa. Ada pelajaran yang hendak disampaikan.
Dulu, ketika surga masih menjadi panggung ketenangan, Azazil berdiri dengan khusyuk. Ia menjadi pemimpin para malaikat, memberi nasihat, mengajarkan makna ketaatan. Ia tahu ayat-ayat agung yang mengguncang arasy. Ia menundukkan kepala saat mendengar nama Allah disebut. Tak ada makhluk yang berani meremehkannya.
Hingga datang sebuah perintah. Perintah yang sederhana, namun menyimpan ujian paling berat: bersujud kepada makhluk bernama Adam.
“Wahai Azazil,” suara itu menggema, “Bersujudlah bersama para malaikat kepada Adam.”
Sejenak ia terdiam. Api yang menjadi asal penciptaannya bergolak di dadanya. Ia menatap sosok yang terbuat dari tanah, yang masih basah oleh rahasia penciptaan. Hatinya memberontak. “Bagaimana mungkin aku yang tercipta dari api, harus merendah kepada makhluk dari tanah?”
Kalimat itu akhirnya meluncur dari bibirnya, “Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia dari tanah.”
Langit terdiam. Malaikat-malaikat menggigil mendengar kata-kata itu. Sebuah kesombongan lahir di hadapan Sang Raja.
Dan dari situlah segalanya berakhir. Gelar Al-Muqarrabun sirna. Ibadah ribuan tahun terbakar oleh satu percikan api kesombongan.
“Santri-santri,” suara kiai memecah lamunan mereka, “kalian tahu mengapa aku ceritakan ini?”
“Karena kesombongan, Yai?” jawab seorang santri pelan.
“Lebih dari itu,” kiai menatap mereka satu per satu. “Karena kadang kita merasa lebih baik dari orang lain hanya karena sedikit amal. Padahal, iblis jauh lebih banyak ibadahnya, tapi ia celaka.”
Para santri terdiam. Kata-kata itu menusuk hati mereka.
Flashback yang Menggigit
Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menulis, “Barang siapa yang merasa lebih baik daripada orang lain, maka dia telah tertipu oleh setan.” Begitu pula Ibnul Qayyim menegaskan, “Rendah hati itu jalan menuju kemuliaan sejati, sedangkan kesombongan itu jalan menuju kehancuran.”
Namun, bukankah sering kita terjebak dalam perangkap itu? Saat amal kita lebih banyak dari tetangga, kita merasa pantas masuk surga lebih dulu. Saat ilmu kita sedikit lebih luas, kita menatap orang lain seakan tak mengerti apa-apa. Padahal, apa jaminan semua itu diterima?
Kiai kembali bersuara lirih, “Jangan kalian kira kalian aman. Iblis itu ahli ibadah, ahli ilmu. Tapi ia gagal karena satu hal: takabur.”
Di sudut ruangan, seorang pemuda menunduk. Namanya Fikri. Sejak tadi ia resah. Ia merasa ceramah ini seolah menampar dirinya. Beberapa hari terakhir, ia memang sering memandang rendah teman-temannya. Baginya, ilmunya lebih luas, hafalannya lebih banyak. Ia merasa pantas jadi teladan.
Kini hatinya bergetar. “Apakah aku seperti iblis?” bisiknya dalam hati.
Kajian usai. Para santri bubar. Fikri tak beranjak. Ia mendekati kiai yang masih duduk bersila.
“Yai…” suaranya lirih, “Apakah iblis itu tidak pernah menyesal?”
Kiai memandangnya dalam-dalam. “Menyesal? Ia menyesal, tapi dengan cara yang salah. Ia tak kembali kepada Allah. Ia malah bersumpah untuk menyesatkan manusia. Kesombongan itu kalau sudah tumbuh, seperti api. Ia membakar logika, membakar hati, sampai hanya ada bara dendam.”
Fikri mengangguk, matanya basah. Ia pamit pulang dengan langkah berat.
Di kamarnya, Fikri membuka buku catatan kecil. Ia menulis satu kalimat besar: “Aku harus rendah hati.” Ia ulang-ulang seperti mantra. Namun, sebelum menutup buku itu, ia menulis sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri:
“Jika mereka semua rendah hati, siapa yang layak memimpin selain aku?”
Senyum tipis muncul di bibirnya. Dan malam itu, entah dari sudut mana, terdengar bisikan halus yang dulu pernah menyesatkan Azazil. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar