Senin, 15 Juni 2026 | 21:56
NEWS

10 Finalis Asia-Pasifik Terseleksi dalam Young Champions of the Earth 2020, Seorang dari Indonesia

10 Finalis Asia-Pasifik Terseleksi dalam Young Champions of the Earth 2020, Seorang dari Indonesia
Young Champions of the Earth (Dok Youthop.com)

ASKARA - The United Nations Environment Programme (UNEP) mengumumkan 10 finalis Asia dan Pasifik, yang terpilih untuk berkompetisi dalam penghargaan Young Champions of the Earth 2020.

Kompetisi global ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mendukung dan mengapresiasi individu-individu luar biasa yang berusia antara 18-30 tahun yang memiliki ide besar dalam melindungi atau memperbaiki lingkungan.

Dari 845 lebih jumlah pendaftar, total sepuluh kontestan dari Asia-Pasifik terseleksi berkat pendekatan baru yang mereka usulkan dalam mengatasi krisis lingkungan yang paling mendesak, menggunakan ide penuh terobosan, terukur dan inovatif.

Meskipun menghadapi tantangan pandemi Covid-19, solusi terbaru dari finalis Young Champion tahun ini benar-benar luar biasa. Terbukti pandemi ini tidak menghentikan upaya-upaya mencari solusi untuk dunia yang lebih baik. 

"Pandemi ini justru mengingatkan kita tentang apa yang dipertaruhkan dalam perjuangan kita untuk planet ini, dan menekankan membangun kembali dengan lebih baik akan membantu mengatasi krisis iklim dan menjaga kesehatan manusia," kata Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen dalam keterangannya, Rabu (22/7).

Kandidat terbaik di Asia Pasifik antara lain dari Filipina, Ann Adeline Dumelian dengan Masungi Georeserve melindungi bentang alam karst yang unik melalui geowisata dan konservasi berbasis masyarakat. 

Dari India, Jayeshkumar Mevada melindungi sungai dengan mengganti bahan kimia pengolahan limbah industri dengan enzim yang hemat biaya. Purav Desai dengan Recube Circular Solutions menerapkan sistem pengunaan kembali untuk mengurangi kemasan sekali pakai. 

Sementara Vidyut Mohan dengan Takachar memungkinkan petani perdesaan mengubah residu tanaman mereka menjadi bahan bakar, pupuk dan karbon aktif.

Serta ada Nidhi Pant yang menekan jumlah limbah makanan dan membantu petani kecil melalui penyedot makanan bertenaga surya S4S. Mampu mempertahankan produksi hingga 1 tahun tanpa menggunakan bahan kimia. 

Dari Bangladesh, Zahin Rohan Razeen dengan Quantum Polychemics Biotechnology mengatasi polusi plastik dengan memproduksi biopolimer organik tidak beracun terbuat dari serbuk goni.

Dari Cina, Jiannan Zhu dengan kapal listrik otonom ORCA-TECH membersihkan sampah pada permukaan air tawar dari sumber asalnya - sebelum mencapai laut, 

Sementara Xiaoyuan Ren dengan portal informasi air MyH2O mengumpulkan data air dan mendiagnosis masalah air, dengan tujuan menghubungkan data terkait sumber daya air dan memberi solusi bagi masyarakat kurang mampu di ribuan desa di Cina.

Vania Santoso dari Indonesia memperluas tanggung jawab produsen dan mengubah perilaku konsumen di Indonesia dengan mendaur ulang limbah menjadi produk bagus, yang bernilai jual tinggi. 

Selain itu, Ranitya Nurlita dengan Wastehub.id menghubungkan pembeli dengan pemulung dan pengguna hub ini yang ingin menjual limbah bisa didaur ulang, dengan demikian tercipta ekonomi sampah lokal yang efektif dan bertanggung jawab.

"Pemuda di seluruh dunia berupaya meningkatkan kesadaran tentang pilihan salah yang telah kita buat dan dampak kerusakan lingkungan bagi masa depan mereka," tandas Inger Andersen. 

 

Komentar