Rabu, 17 Juni 2026 | 22:06
COMMUNITY

Kisah Nyata

Gangguan di Gudang Aluminium

Gangguan di Gudang Aluminium
Ilustrasi. (Nova)

ASKARA - Salam kenal dari saya semoga kalian selalu sehat selalu dan dapat menikmati cerita saya yang masih belajar menulis.

Coba lihat dulu sekitar kita, mungkin kita tidak sendirian hehe...
Kali ini saya mendapatkan tugas untuk menjaga sebuah gudang aluminium terletak tak jauh dari Jembatan CBL. Kejadian tahun 2013.

Hari Lebaran H+3 saya dan teman saya mendapat tugas dari bos untuk berjaga di gudang pembuatan aluminium batangan. Bangunan tersebut semi permanen beratapkan asbes, terdapat tangga dari kayu untuk menuju lantai dua. Di lantai dua terdapat ruang tinggal karyawan/mess yang bekerja di sana, hanya berdinding triplek dan terdapat satu jendela. Ruangan tersebut cukuplah untuk tidur lima orang, satu ruangan tanpa sekat.

Saya bersama teman saya, sebut saja Bejo, datang ke gudang tersebut pada siang hari sekitar pukul 13.00 WIB.

"Jo buka gerbangnya," kata saya.
"Siap A" jawab Bejo.

Gembok pun dibuka "creeeek"... bunyi suara engsel yang sudah lama tidak diberi oli. Gerbang terbuat dari kayu dan seng.

"Yo masuk jo," kata saya.
"Kok hawa di sini berbeda ya, lebih panas daripada di luar," kata saya lagi.
"Ah perasaan lu aja A, namanya juga peleburan pasti panas lah. Sudah gitu atasnya asbes," kata Bejo.
"Tapi kan atapnya lumayan tinggi loh, mungkin sekitar 5 meteran, pasti ada sirkulasi udara, tapi ini penggap gitu," kata saya.
"Udah lah A jangan ngaco, cuma perasaan lu doang," kata Bejo.

Kami berdua berbagi tugas mengecek sekitar gudang. Bejo bagian samping kiri dan belakang, saya bagian depan dan samping kanan. Lokasi pabrik ini di belakangnya masih sawah, sebelah kanan dan kiri ditumbuhi rumput dan alang-alang yang tinggi, bagian depan menghadap jalan. Di seberang jalan terdapat pembuangan sampah. Waktu berjalan begitu cepat tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB.

"Wah udah malem ni Jo, yok kita patroli lagi," kata saya.
"Bisa aja lu A milih lokasi yang enak, giliran gue disuruh cek bagian belakang, mana serem lagi," kata Bejo.
"Ahahaha... perasaan lu doang kali Jo," kata saya.

Di belakang ada pohon nangka dan toilet atau wc berada di lokasi belakang. Kondisi toilet pun tidak tertutup, hanya seperti bilik yang atasnya beratapkan langit.
Tiba-tiba Bejo berlari dengan napas yang terengah-engah.

"Kenapa lu Jo?" kata saya.
"Gak da apa-apa A," kata Bejo.
"Boong lu, kalo ga ada apa-apa ngapain lu lari sampe ngos-ngosan," kata saya.
"Itu tadi waktu gue di belakang gue kayak diperhatiin sama seseorang, terus bulu kuduk gue berdiri semua," kata Bejo.
"Kita tukeran lokasi patroli yok," kata Bejo lagi.
"Ogah ah, takut gue juga hehe," kata saya (sambil tertawa kecil).

Waktu semakin malam ditandakan oleh udara yang semakin dingin menyelimuti tubuh saya. Kami berdua pun memutuskan berjaga di lantai dua karena mudah melihat ke sekeliling lokasi.

"Yo lah Jo naik ke atas aja, daripada di bawah enakan di atas sambil ngopi dan nonton tivi," kata saya.
"Ayo dah, perasaan gue juga ga enak di sini," kata Bejo.
"Emang perasaan lu doang yang ga enak, gue juga dari awal buka pintu malah," kata saya (berbicara dalam hati).

Di atas ada tivi, kipas angin, radio dengan salonnya dan teko pemanas air.

"A,bikin kopi yo, enak nih malam-malam ngopi dulu kita," kata Bejo.
"Siap, kopi sama airnya di mana jo?" kata saya.
"Tadi lihat airnya di bawah A, kopinya di motor dah di kresek item," jawab Bejo.
"Ya udah w ambil kopi, lu ambil air," kata saya.

Ayo turun ke bawah dah. Saat sudah sampai bawah kami pun ambil yang kami butuhkan. Tiba-tiba... "Tonggg...!!!" suara drum kosong yang dilempar oleh batu.

"Eh Jo lu jangan iseng lah, segala nimpuk tong segala," kata saya.
"Lu yang biasanya iseng," balas Bejo.

Kami berduapun saling bertatapan dan berlari ke atas lantai dua. Saya setel tivi dengan volume tinggi, Bejo buat kopi.

"Wooy A, lu nyetel tivi kayak orang tunarungu aja (maaf ya bahasa diperhalus hehe)," kata Bejo.
"Emang lu ga denger tadi Jo tong ditimpuk," kata saya.
"Yah biarin aja A yang penting kita gak ganggu," kata Bejo.

Gak lama terdengar suara "krekeek kreekek krekeek"
Suara rantai kerekan seperti ada yang kerek.
Astaga bulu kuduk gue merinding nulis ni cerita.
Lanjut.

"Kita cek Jo," kata saya.
Saya ambil senter, sorot ke kanan ke kiri gak ada apa-apa.
"Wah mulai gak beres nih Jo," kata saya.
"Udah biarin aja," kata Bejo.

Saya lihat jam sudah pukul 01.15 WIB dinihari.

"Plak plak plak" terdengar suara orang berjalan menggunakan sandal jepit.

"Dih di sini serem amat ya, pantes aja banyak yang ga betah kerja di sini ya Jo" kata saya.
"Iya pantes dah, gue kalau sendirian jaga di sini mah pulang dah, takut, untung aja berdua sama lu A" kata Bejo.

"Brak brak brak brak. Brak brak brak brak. Brak brak brak brak" Suara gerbang seperti digedor oleh orang dari luar.

"Coba lu liat A dari jendela," kata Bejo.
"Ya udah," kata saya.
"Ga ada orang Jo," kata saya
"Jail amat woy kalian semua. Saya di sini cuma jaga aja disuruh bos," Bejo sambil teriak dari pintu atas ke ruang tengah pabrik.
"Jo lu waras gak," kata saya.
"Lah emang bener kan A," kata Bejo.
Saya terdiam.

Di ruang tengah ada tiga tungku pembakaran untuk melebur aluminium dan beberapa drum oli dan drum kosong.

Tiba-tiba.
"Bruuuurrr... klotek klotek klotek... suara orang beraktivitas membakar aluminium dan sedang mengaduk di tungku.

Bulu kuduk kami merinding semakin menjadi-jadi, hawa dingin menusuk ke dalam tubuh lebih dari biasanya, seperti ada hembusan angin ke tubuh kami berdua.

"Jo lu ngerasa gak kayak ada angin," kata saya.
Bejo terdiam.
Kami pun lanjut minum kopi yang tinggal setengah gelas.

"Oyyy kalo kalian mau ngopi bilang," Bejo teriak lagi ke ruang tengah.
"Wah, gila lu Jo makin menjadi-jadi aja. Jangan asal ngomong lu a**," kata saya.

Kami ambil senter menyorot ke tempat pembakaran, ke drum-drum oli. Di sudut ruangan seperti ada bayangan hitam melotot ke arah kami berdua. Saat kami sorot bayangan itu hilang. Bulu kuduk kami dari tadi tidak berhenti merinding.

"Jo udahlah keluar aja yuk, makin jadi aja nih gangguannya," kata saya.
"Ayo dah A," kata Bejo.

Saat mau turun tangga ada suara anak kecil berlarian dari dalam gudang tempat penyimpanan aluminium batangan. Lokasi gudang penyimpanan tepat di bawah mess lantai dua.

"An**** ada suara anak kecil lagi bermain lari-larian Jo, ayo Jo kita turun terus keluar dah," kata saya.

Kami turun tangga dan lari secepatnya. Perasaan kami tidak karuan, seperti diawasi oleh setiap sudut ruangan.

"Jo buka gerbangnya cepet Jo, Jo cepetan lah," kata saya.

Bejo merogoh saku celananya seperti mencari sesuatu.
"Jo lu cari apa sih, jangan bilang kuncinya ketinggalan di atas?" kata saya.
"Iya A kuncinya ketinggalan di atas," jawab Bejo.
"A** lu Jo, bloon banget dah lu. Ayo cepetan kita cari buruan," kata saya.

Kami berdua berlari menuju tangga dan mencari kunci gerbang secepatnya lalu kembali lagi untuk membuka kunci gerbang. Saat berlari terasa sekali kami berdua seperti tidak berdua saja tetapi ada banyak mahluk tak kasat mata di sana.

Saat saya berlari saya menoleh ke belakang ke tempat WC. Saya melihat sosok putih berdiri sambil menatap ke arah kami, sosok itu samar seperti asap tapi bentuknya panjang. Lari saya semakin kencang dan bersemangat sekali. Sampai-sampai lupa bahwa tivi belum dimatikan.

"Jo buka kuncinya Jo," kata saya.

Pintu gerbang terbuka. Kami pun keluar. Kami lari ke luar sampai di sisi Jalan Raya CBL.
Saya melihat ke arah jendela lantai dua, ada sesosok perempuan berambut panjang, berwajah pucat, wajahnya sebagian tertutupi oleh rambut melihat ke arahku sambil menyisir rambut dengan jari. Tatapannya kosong sambil tersenyum ke arah saya.

Saat saya melihat sosok tersebut wajahnya seperti berada tepat di depan wajah saya membuat saya tidak bisa berkata-kata. Saya berdoa sebisa saya apa saja sampai doa yang saya hapal pun urutannya terbalik balik hahaha...

Saya memalingkan muka ke arah jalan kemudian saya lihat ke arah jendela lagi, sosok itu sudah tidak ada. Alhamdulillah ucapku syukur. Akhirnya kami berdua berjaga di luar gudang di sisi jalan raya sampai menunggu adzan Subuh.

*Maaf jika ceritanya kurang bagus sebab saat menulis ini bulu kuduk saya merinding terus menerus menandakan saya gak sendiri.

Sekian dan terima kasih untuk yang sudah membaca. Sampai bertemu kembali di cerita selanjutnya.

Achmad Maulana
(Karyawan swasta, tinggal di Bekasi)

Komentar