Rabu, 25 November 2020 | 12:50
COMMUNITY

Jangan Pernah Lupakan Jas Hujan Saat Mendaki Gunung

Jangan Pernah Lupakan Jas Hujan Saat Mendaki Gunung
Pendakian Gunung Sumbing (Kompas.com-Anggara Wikan Prasetya)

ASKARA - Jas Hujan, raincoat terbuat dari apapun sangat penting selalu ada dalam carrier kita. 

Kemanapun mendaki jangan pernah kelupaan untuk dibawa, tidak peduli musim panas apalagi hujan, itu kewajiban. Karena di atas sana, cuaca tidak akan sama dan tidak bisa kita duga. Termasuk saat summit meski cuaca cerah, bawalah selalu ikut serta.

Pelajaran berharga yang pernah saya dapatkan saat pertama kali keluar rumah lagi untuk mendaki. Saat itu saya mengunjungi Gunung Rinjani pada bulan 18-21 Agustus 2017. 

Saat dari pos terakhir Pelawangan, bertemu dengan Guide bersama peserta pendaki dari Jakarta kami memutuskan camp berdekatan, karena dari pos 2 ternyata kami sudah camp di satu area, pagi kenalan dan makin akrab setelahnya.

Guide ini sudah muncak 7 kali ke Rinjani membawa tamu-tamunya dari mana saja, memberikan pesan pakai kaos double, celana double, jacket karena jalan tengah malam biasanya sangat dingin. Kalau mau bertemu sunrise maksimal berangkat pukul 01.00 dini hari.

Saya mendengarkan dengan seksama petunjuk dan sarannya, karena lama tidak mendaki apalagi ini untuk yang pertama kali buat saya. Beruntung juga, karena beliau sudah 7 kali ke puncaknya, memutuskan tinggal menjaga tenda, termasuk tenda saya yang baru dikenalnya. Jadi saya tidak perlu membawa beban berat karena takut hilang. (oh ya, di Pos Pelawangan Rinjani ini, tidak disarankan meninggalkan tenda beserta barang tanpa satu orangpun menjaganya, kabarnya banyak tangan usil untuk mengambil).

Tengah malam kami bangun, bersiap diri. Mengisi perut dengan sesuatu yang hangat secukupnya. Tepat pukul 01.00 saya ikut berjalan bersama rombongannya. Awalnya semua baik-baik saja. Dingin masih bisa ditolerir. 

Siapa sangka, tiba-tiba angin berhembus kencang, dinginnya menusuk tulang. Padahal saya sudah memakai segalanya double ditambah jacket. Dingin luar biasa karena angin, tangan menjadi kebas hampir tidak bisa dirasakan. Saya coba berlindung di antara bebatuan sebentar, ternyata tidak terlalu membantu.

Tiba-tiba saya melihat para bule (orang asing) dengan nyamannya berjalan mendahului saya. Ya ampun, kenapa mereka pintar ya hahaha, saya melihat mereka menggunakan jas hujan dari kresek. Hemmm, sesimple itu untuk menahan angin yang berhembus. 

Jacket masih tembus, jas hujan walau dari kresek teteplah dia plastik yang kedap menahan air termasuk angin.

Pengalaman memang menjadi guru yang terbaik, sejak itu kemanapun saya mendaki, saat menuju puncak jas hujan termasuk yang tidak boleh saya tinggalkan. Pindahkan pada daypack kalau carrier harus ditinggalkan.

Dari bahan apapun, jas hujan sangat membantu menghindarkan diri kita dari basah, dari hembusan angin dan berfungsi juga sebagai emergency blanket agar tidak berujung pada hipo yang berujung pada kematian.

Kadang pemicunya sederhana dan tidak kita duga, pengetahuan sekecil apapun itu sangat berguna, maka bersiap lebih baik dari pada mengatasinya. Dan jangan salah bawa kostum, karena gunung bukan untuk bergaya. 

Dan bila sudah merasakan sesuatu yang menyiksa jangan pernah menunda nanti-nanti sebentar lagi karena merasa masih kuat. Segera berhentilah. Lakukan apa yang harus dilakukan sebelum menjadi terlambat.

 

Salam Lestari - Salam Satu Jiwa
Indonesia, 16 Juli 2020

Komentar