Minggu, 07 Juni 2026 | 20:18
NEWS

Deasep, Disinfektan Organik Inovasi Anak Bangsa

Deasep, Disinfektan Organik Inovasi Anak Bangsa
Pengenalan disinfektan Deasep. (Dok. Koprabuh)

ASKARA - Perang melawan Covid-19 di seluruh dunia sebaiknya menggunakan disinfektan berbahan baku alami. 

Disinfektan jenis ini terbukti lebih efektif dibandingkan disinfektan alkohol yang beredar luas.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (Koprabuh) menciptakan disinfektan alami yang terbukti sangat aman bagi kesehatan manusia.

Hasil inovasi anak bangsa ini berupa produk dengan merek Deasep. Berbahan baku dari cuka kayu, produk dengan bahan baku organik ini tanpa menggunakan alkohol dan bahan kimia apapun.

Karenanya, produk disinfektan ini tidak berbahaya bagi manusia maupun binatang peliharaan. Bahkan bisa juga digunakan sebagai pakan ternak dan pupuk tanaman.

Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian Kementerian LHK Adison mengatakan, produk tersebut telah diuji coba di salah satu laboratorium kementerian.

Hasilnya membahagiakan sebab sangat aman bagi masyarakat. Produk ini sesuai dengan harapan dari KLHK yang mendorong penggunaan bahan organik pengganti disinfektan.

"Ibu Menteri Siti Nurbaya sejak dulu mendorong agar bisa ditemukan produk alami seperti ini dan syukurlah sekarang sudah ada Deasep yang diteliti sangat aman bahkan jika dikonsumsi," ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Harris Jakarta, Rabu (1/7).

Adison mengatakan, menurut penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) disinfektan dengan kandungan alkohol mengandung senyawa logam berat yang berbahaya di masa mendatang.

Tidak hanya membuat kulit iritasi namun juga menyebabkan kanker kulit, selain itu juga dapat mengakibatkan kanker paru-paru jika terhirup dalam jangka waktu lama.

"Saya mengobrol dengan Pak Yohanis, saya bilang ini sangat alami, mengolah kayu dari limbah-limbah bukan batang kayu yang ditebang," jelasnya.

CEO Koprabuh Yohanes Walean menjelaskan, cuka kayu atau asam kayu adalah cairan yang diproduksi dengan cara pirolisa atau dekomposisi termal dari proses produksi arang dengan tingkat oksigen rendah.

Setelah sukses puluhan tahun menggunakan cuka kayu sebagai biopestisida dan bioferitilizer maka para peneliti P3HH melakukan penelitian lanjutan, di mana cuka kayu untuk memerangi Covid-19.

Begitu pula hasil produknya terbukti efektif setelah pengujian yang dilakukan di laboratorium lingkungan hidup P3KLL KLHK. 

"Cuka kayu yang merupakan kandungan utama Deasep sudah ditemukan sejak 500 tahun yang lalu. Kegunaannya sangat banyak sekali, bukan hanya untuk disinfektan juga untuk mengusir hama seperti wereng bahkan singa mencium aroma ini akan sangat takut," bebernya.

Yohanis melanjutkan, disinfektan Deasep yang sebentar lagi diproduksi massal oleh petani kelompok Koprabuh merupakan peluang kesehatan bagi manusia di masa mendatang, meskipun terkena makanan sesuai hasil uji layak konsumsi oleh P3KLL.

Profesor Gustan Pari bersama Ratih Damayanti dan tim sebelumnya telah melakukan riset, di mana hasil riset menunjukkan cuka kayu memiliki kemampuan lebih baik dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme dibandingkan dengan etanol (alkohol) 70 persen yang selama ini sering dijadikan bahan dasar disinfektan oleh petani binaan P3HH.

Disinfektan biasanya mengandung komponen alkohol berupa ethyl alkohol dan isopropil alkohol. Bahan kimia ini bersifat mudah terbakar dan bisa menyebabkan infeksi kulit. Begitu pula dengan paparan alkohol juga dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan berdampak negatif pada sistem saraf pusat.

Maka jika terhirup dalam konsentrasi tinggi, bahan kimia ini bisa menyebabkan keracunan dan iritasi pada manusia. Namun penggunaan Deasep sebagai disinfektan outdoor maupun indoor efektif memerangi Covid-19.

Selama bertahun‐tahun dikenal sebagai pestisida organik telah dikembangkan menjadi disinfektan organik, tidak berbahaya bagi manusia bahkan jika tertelan namun lebih efektif dari alkohol 70 persen.

Deasep dapat digunakan di ruang tertutup maupun terbuka. Termasuk dalam bilik steril.

Program 1.000.000 liter Deasep dibuat sebagai bentuk kepedulian pengusaha mengalahkan Covid-19 sambil memberi pekerjaan pada petani pemilik lahan di lingkungan kehutanan. 

Komentar