Senin, 13 Juli 2020 | 04:47
NEWS

Soal Pengunaan Obat Tradisional Modern, Begini Penjelasan Detail Menkes Terawan

Soal Pengunaan Obat Tradisional Modern, Begini Penjelasan Detail Menkes Terawan
Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto (Istimewa)

ASKARA - Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto mengungkapkan masyarakat tak perlu ragu menggunakan obat tradisional modern (OMAI) untuk memperkuat sistem imun tubuh di tengah pandemi Covid-19.

Bahkan, secara khusus Kemenkes mempromosikannya. "Sudah dilakukan pengembangan obat modern asli Indonesia atau disingkat OMAI yaitu produk dengan bahan baku dari kekayaan alam Indonesia yang sudah dibuktikan keamanan dan kasiatnya secara ilmiah melalui uji praklinik maupun klinik," kata Terawan dalam Webinar Nasional IV Bulan Bung Karno 2020 dengan tema 'Politik Kesehatan Berdikari' yang diselenggarakan Badan Pendidikan dan Pelatihan Pusat PDIP, Selasa (30/6).

Untuk memahami kerja Kemenkes, Terawan menjelaskan, arah kebijakan pembangunan di bidang kesehatan adalah meningkatkan pelayanan menuju cakupan kesehatan semesta terutama penguatan pelayanan kesehatan primer dengan mendorong peningkatan upaya promotif, preventif, didukungi inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Presiden Jokowi, kata Terawan, ingin kebijakan bidang kesehatan menurunkan angka stunting, turunnya angka kematian ibu dan bayi, pengendalian harga obat, dan peningkatan penggunaan alat kesehatan produksi dalam negeri.

Kemenkes lalu menyasar penguatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) untuk pendidikan gizi masyarakat, layanan kesehatan ibu dan anak, serta pelayanan imunisasi.

Kedua, dalam upaya pembangunan pemerataan kesehatan, Kemenkes memfokuskan pada daerah perbatasan dan daerah tertinggal. 

Sejak tahun 2017-2019 mencapai 195 kabupaten/kota yang Puskesmasnya berada di perbatasan ataupun daerah tertinggal yang telah ditingkatkan kemampuan maupun fasilitasnya.

Ditambah pembangunan rumah sakit pratama sebanyak 234, pembangunan public safety center 119 sebanyak total 429.

Ketiga, memperkuat pelayanan kesehatan tradisional mengintegrasikan konvensional dan komplementer. 

Menurut Terawan, modal pengobatan tradisional yang bisa dilayani di rumah sakit adalah pelayanan tradisional komplementer yang sudah terbukti aman dan bermanfaat. 

"Dilaksanakan oleh tenaga kesehatan terlatih di bidang tradisional. Jumlah lulusan D3 jamupoltekkes hingga saat ini ada sebanyak 561 orang dan lulusan D3 dan D4 BA Trainer sebanyak 373 orang. Dengan kemampuan tambahan akupuntur herbal medic di 250 rumah sakit pemerintah di Indonesia. salah satu contoh rumah sakit yang sudah menyelenggarakan pelayanan kesehatan tradisional terintegrasi adalah Rumah Sakit Umum Pusat De. Sarjito di Yogyakarta," katanya.

Kementerian Kesehatan juga menyiapkan rumah sakit pusat pelayanan kesehatan tradisional sebagai komitmen pemerintah agar kesehatan tradisional memiliki peran sentral dalam menyehatkan bangsa. Kata Menkes, pihaknya juga memiliki klinik scientifikasi jamu di Tawangmangu, Jawa Tengah.

"Klinik ini memprioritaskan pada scientifikasi jamu dari hulu ke hilir. Dari riset etnofarmotologi tumbuhan obat dan jamu, pelestarian budidaya pasca panen, riset klinik teknologi manajemen jamu, pelatihan ilmu pengetahuan dan teknologi jamu, pelayanan iptek dan disemenasi sampai dengan peningkatan kemandirian masyarakat," ungkapnya.

Keempat, dalam hal fasilitas kesehatan, Kemenkes mendistribuskan tenaga kesehatan melalui program Nusantara Sehat meliputi 467 kabupaten/kota dan 30 propinsi di seluruh Indonesia.

Masih ditambah dengan pengembangan teknologi kesehatan digital (e-health) untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan.

"Kementerian Kesehatan membuat aplikasi-aplikasi yang dapat melayani masyarakat dalam memberikan informasi konsultasi seputar kesehatan maupun permasalahan kesehatan lainnya. aAlikasi bernama Sehat Media merupakan strategi inovasi dalam peningkatan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat," tutur Terawan. 

Terawan mengakui, pihaknya sedang mempersiapkan regulasi terkait pelayanan kesehatan digital sehingga terbagun ekosistem digital di bidang kesehatan. Hal ini semakin strategis demi mencegah penularan covid-19 kepada tenaga medis serta pasien yang berkunjung ke rumah sakit. 

Menkes Terawan mengaku pihaknya sudah mengimbau rumah sakit rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk mengembangkan dan menggunakan semakin masif pelayanan kesehatan jarak jauh.

Kelima, memastikan sistem jaminan kesehatan nasional yang bertujuan untuk memberikan perlindungan kesehatan agar masyarakat memperoleh manfaat pemeliharan kesehatan. 

Keenam, Kemenkes melaksanakan percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan. Sebagai hasilnya, sampai dengan 2019, beberapa bahan baku farmasi telah dapat diproduksi di dalam negeri. Dalam hal ini, pengembangan OMAI juga termasuk di dalamnya. 

Terawan menjelaskan, terdapat lebih dari 80 obat OMAI yang telah diproduksi di Indonesia, yang telah mampu diekspor ke beberapa negara Asia dan Eropa. Dalam kurun waktu 3 tahun telah bertambah 32 industri obat tradisional. 

"Total di 2019, 20 industri obat tradisioanl dalam rangka peningkatan kemandirian telah dilakukan hilirisasi hasil penelitian menjadi produk inovasi yang diproduksi industri kesehatan dalam negeri," imbuh Terawan.

Selain itu, Kemenkes mendorong percepatan produksi reagen PCR dan rapid test covid maupun ICJ dalam negeri. Saat ini juga sudah terbit izin edarnya. 

Lalu, sebagai upaya pemenuhan ventilator terutama dalam penanganan covid-19, Kemenkes bersama perguruan tinggi dan lembaga penelitian bersinergi untuk menciptakan inovasi. 

"Sampai saat ini sudah dilakukan pendampingan terhadap 36 inovator untuk pengembangan ventilator. Sebanyak empat inovator ventilator sudah berizin," pungkasnya. (jpnn)

Komentar