Rabu, 17 Juni 2026 | 19:36
NEWS

Perang Batu, India Klaim Menang Banyak dari Tiongkok

Perang Batu, India Klaim Menang Banyak dari Tiongkok
Tentara India dan Tiongkok patroli bersama di Pegunungan Himalaya. (PTI)

ASKARA - Konflik perbatasan antara India dan Tiongkok semakin menyisakan ketegangan. Seperti yang terjadi baru-baru ini, bentrokan yang terjadi makin memanaskan aroma konflik.

Dalam kejadian tersebut, tentara India dan Tiongkok saling serang dengan menggunakan batu. Peristiwa serupa diketahui telah sering terjadi dan membuat pasukan kedua belah pihak mengalami luka-luka. Menariknya, baik tentara Tiongkok maupun India sama-sama terlihat menahan diri agar tidak menggunakan senjata modern. 

Tentara kedua negara yang terlibat bentrok pada 16 Juni lalu ternyata saling menyerang satu sama lain dengan menggunakan batu. Akibat kejadian tersebut, 20 orang dilaporkan tewas karena menderita luka cukup parah. Peristiwa itu sendiri terjadi di Lembah Galwan.

Insiden tersebut menjadi catatan tersendiri lantaran kedua belah pihak mulai menggunakan senjata meski bukan senapan dan sejenisnya. Diketahui, tentara Tiongkok menggunakan bambu runcing dan pihak India memakai tongkat dan batu saat keduanya terlibat bentrok di Lembah Galwan.

Tercatat, bentrokan pertama antara tentara India dan Tiongkok terjadi saat saat kedua tentara berpatroli di Sektor Pangong Tso di timur Ladakh pada malam tanggal 5-6 Mei. Beruntung, masalah berhasil diredam oleh masing-masing pihak.

Bentrokan kembali terjadi akibat tentara India memblokir patroli tentara Tiongkok di ketinggian 5000 meter di atas permukaan laut di Naku La, Sikkim Utara. Akibatnya, puluhan tentara terluka karena saling baku hantam dengan tangan kosong dan terkena lemparan batu.

Menariknya, baik pihak India maupun Tiongkok terlihat sama-sama tak menggunakan persenjataan modern pada saat bentrokan terjadi. Usut punya usut, hal tersebut terjadi karena keduanya menaati kesepakatan tidak mengikat mengenai perbatasan sepanjang 3380 kilometer yang dikenal dengan nama Line of Actual Control (LAC) pada 1996 silam.

Dalam kesepakatan LAC, salah satu isinya menyebutkan bahwa kedua belah pihak tidak akan menggunakan kekuatan bersenjata militer dalam penanganan konflik perbatasan. Tak heran jika tentara kedua negara kemudian menggunakan kayu, batu, dan tangan kosong saat terjadi bentrokan.

Perebutan wilayah antara India dan Tiongkok sejatinya telah terjadi sejak lama. Tepatnya saat tensi panas kedua negara diredam dengan gencatan senjata pada 1962. Garis batas yang tertuang dalam perjanjian LAC ternyata ditafsirkan secara berbeda oleh kedua belah pihak.

Ketidakjelasan ini yang kerap memunculkan bentrokan antar penjaga perbatasan. Di mana, India dan Tiongkok sama-sama memiliki klaim atas teritori wilayah yang tengah disengketakan. Konflik pun berlanjut dan berlarut hingga saat ini dan belum ada penyelesaian yang bisa mendamaikan.

Terbaru, Menteri Transportasi India VK Singh mengklaim bahwa tentara negaranya membunuh setidaknya 40 prajurit Tiongkok dalam bentrokan di Lembah Galwan.

"Jika di sisi kami 20 jadi martir maka setidaknya korban di kubu mereka dua kali lipat dari itu," ujar Singh, Senin (22/6).

India telah mengumumkan bahwa 20 tentaranya tewas dalam bentrokan tersebut. Namun, sejauh ini Tiongkok memilih bungkam mengenai korban di sisi mereka.

Singh, yang merupakan mantan komandan angkatan darat, tampaknya kesal lantaran India jadi terlihat sebagai pihak yang lemah dalam situasi ini. Dia tentu saja tidak punya bukti untuk mendukung klaim bahwa 40 tentara Tiongkok tewas dalam bentrokan.

Singh hanya mengatakan bahwa secara historis, Tiongkok tidak pernah mengakui jumlah korban perang. Termasuk saat konflik 1962 dengan India.

Kementerian Pertahanan India menolak berkomentar soal pernyataan Singh tersebut. (dbs/jpnn/boombastis)

Komentar