Kamis, 18 Juni 2026 | 17:27
NEWS

Cerita Mahasiswa UI Asal Uganda Hadapi Pandemi di Indonesia

Cerita Mahasiswa UI Asal Uganda Hadapi Pandemi di Indonesia
Semukasa Philimon (dua dari kanan) bersama teman dan dosennya (Dok UI)

ASKARA - Seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) asal Uganda, Afrika Timur bernama Semukasa Philimon terpaksa harus bertahan di Indonesia lantaran pandemi Covid-19 tidak pernah disangkanya. 

 Saat ini Philimon tengah menempuh pendidikan jenjang magister (S2) dengan program studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).

Selama masa pandemi Covid-19, UI memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Semula, Philimon berniat pulang ke negaranya, namun kemudian timbul keraguan dan akhirnya tetap berada di Indonesia, di di Asrama UI, tempat indekosnya selama ini. 

"Saat itu, harga tiket mahal sekali, dan saya juga ragu apakah bandara buka atau tidak, sehingga saya memutuskan untuk tetap berkuliah online dari kamar asrama saya saja. Lagipula, saya juga menargetkan akan menyelesaikan perkuliahan dan akan kembali di tahun ini,” ujar Philimon yang sudah lancar menggunakan bahasa Indonesia ini, Rabu (17/6).

Philimon merasakan bagaimana perbedaan sebelum hadirnya Covid-19 dan setelah hadirnya virus tersebut. Salah satunya adalah suasana di indekos yang menjadi sepi karena penghuni lain yang memilih pulang ke tempat tinggal asalnya. Sementara Philimon akhirnya harus merasakan kesunyian akan kondisi tersebut. 

"Sebelumnya, asrama ini sangat ramai, saya bisa menghabiskan waktu senggang bersama teman asrama maupun teman di kampus. Namun sekarang, hanya tersisa 68 mahasiswa penghuni asrama," ujar mahasiswi angkatan 2017 ini.

“Ya, saya menyebut semua penghuni di asrama ini adalah keluarga saya, baik itu para mahasiswa, maupun pengelola asrama. Saya merasa asrama ini adalah second home saya, ada bapak saya juga di asrama ini, yaitu Kepala Asrama UI. Pandemik Covid-19 yang melanda dunia memberi satu sisi positif, saya jadi bisa merasakan momen kekeluargaan di sini," kisahnya.

Kehangatan sebelum hadirnya Covid-19 dirasakan Philimon. Pengelola Asrama juga menyiapkan makanannya mulai dari pagi, siang dan malam. 

"Kadang, kami suka membahas bersama-sama. Makanan apalagi yang harus dimasak. Kami pernah masak daun pepaya, saya kaget, pahit sekali. Lalu pernah juga kami memasak daun singkong, sayur asem, sambal. Meskipun makanan sudah disiapkan oleh pengelola Asrama UI, tetapi tidak ada tambahan biaya yang dibebankan kepada kami selain iuran bulanan," ceritanya.

Tak dipungkiri, rasa bosan dan kesepian dihadapi Philimon. Namun, dia berusaha untuk mencari jalan keluar dengan berolahraga. Terlebih sejak perkuliahan tatap muka ditiadakan, Philimon dan teman-teman lainnya juga kerap memperoleh banyak dukungan dari orang-orang baik hati, yang bahkan tidak dikenalnya.

"Banyak donatur yang datang memberikan kami makanan. Pihak fakultas juga selalu mengontak saya untuk memastikan apakah saya baik-baik saja dan bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Pihak klinik makara dan keamanan kampus juga luar biasa mendukung kami yang masih tinggal di asrama ini," ujarnya.

Kejadian menarik pernah dialami pria berusia 32 tahun ini. Saat ingin berbelanja kebutuhan sehari-hari di minimarket di luar asrama, dia dikawal pihak asrama. 

"Saya bilang tidak perlu repot-repot, namun mereka tetap mendampingi saya, karena khawatir saya tidak bisa menjelaskan jika ada petugas yang berwajib bertanya-tanya kepada saya. Bahkan ada teman saya yang juga dikawal ketika hendak pangkas rambut," tuturnya.

Meskipun suasana sempat terasa genting karena pandemi ini, namun Philimon mengaku bersyukur dan bangga lantaran banyak memperoleh pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia saat berada di asrama.

"Asrama ini layaknya mini Indonesia, saya bisa berjumpa dengan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Saya juga telah belajar bahasa dan budaya Indonesia selama 6 bulan di BIPA Lembaga Bahasa Internasional, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Namun di asrama ini saya bisa melihatnya langsung. Ibarat laboratorium budaya. Tidak lupa, ada banyak juga mahasiswa asing dari berbagai negara. Bangga bisa memiliki banyak teman di sini," ujar Philimon.

Selain mendapatkan pengawalan saat keluar Asrama, hal yang tidak bisa dilupakan lainnya adalah saat dirinya ikut dalam melaksanakan takbiran bersama pengurus Asrama UI. 

"Bertakbir bersama pengurus asrama sangat mengharukan bagi saya. Mereka mau menemani teman-teman yang merayakan Hari Raya Idul Fitri. Sementara kami tahu mereka juga memiliki keluarga. Seru sekali melihat keriuhan takbiran di tengah sepinya asrama," katanya.

Nasi Goreng Kambing kantin FIB UI menjadi makanan yang dirindukannya yang tutup  lantaran pandemi. "Salah satu yang saya rindukan adalah nasi goreng kambing kantin FIB UI. Semasa Covid-19 ini harus tutup, dan saya tidak yakin apakah saya bisa kembali lagi memakannya," ujar Philimon menutup ceritanya.

Komentar