Belajar dari Koi Jepang, Prof. Rokhmin Siapkan Jurus ‘Premium Branding’ Ikan Hias RI
ASKARA – Indonesia sudah jadi produsen ikan hias terbesar kedua dunia. Tapi sayang, gelar itu belum sejalan dengan nilai ekspornya. Di balik akuarium cantik cupang, koi, dan nemo, bisa jadi tambang emas baru Indonesia. Sayangnya,industri ini masih tersandera banyak masalah: dari benih, logistik, hingga branding.
Disampaikan pada Talkshow Nusapet, Nusahorti 2026 “Menuju Puncak Dunia: Akselerasi Industri Ikan Hias Indonesia dalam Kerangka Ekonomi Biru dan SDGs” Dewan Ikan Hias Indonesia - WAPHI, Jum’at, 12 JUNI 2026, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS membongkar potensi raksasa industri ikan hias nasional yang selama ini kurang dilirik. Dalam pemaparannya, Anggota DPR RI 2024-2029 ini menyebut, Indonesia adalah “pusat keanekaragaman ikan hias dunia”.
Biodiversitasnya tertinggi. Dari 1.600 jenis ikan hias yang diperdagangkan dari Indonesia, 750 jenis di antaranya ikan air tawar. “Potensi Produksi Lestari kita terbesar di dunia. Tapi tingkat pemanfaatannya baru kurang dari 25 persen,” kata Prof. Rokhmin di Open Stage Nusatic 2026.
Artinya, 75 persen harta karun itu masih ‘tidur’ di laut, sungai, dan danau.
Meski pemanfaatan masih rendah, Indonesia sudah jadi produsen ikan hias terbesar kedua di dunia. Pasar ekspor dan domestiknya terus tumbuh. Data ITC Trade Map 2024 mencatat, impor ikan hias dunia mencapai USD 335,1 juta pada 2024. Indonesia menguasai pangsa 12-13 persen.
“Saat pasar global tumbuh moderat, ekspor Indonesia masih tumbuh positif. Ini peluang kita perbesar share,” tegasnya.
Tujuan ekspor utama memang masih China dan AS. Tapi Rokhmin mencatat, negara lain kini menyumbang >40% nilai dan ∼50% volume. Artinya, pasar sudah terdiversifikasi dan bisa diperdalam lagi.
Bukan “Rocket Science”, Bisa dari Desa
Yang bikin industri ini seksi: bisa dikerjakan siapa saja, di mana saja. “Budidaya dan bisnis ikan hias is not ‘a rocket science’,” ujarnya.
Sumber produksinya ada di perairan laut, sungai, danau, dan rawa — umumnya di pedesaan dan luar Jawa. Ini artinya industri ikan hias bisa jadi alat mengurai ketimpangan. “Mengatasi disparitas pembangunan antar wilayah. Mengurangi kesenjangan kaya vs miskin,” tambahnya.
Bisnis ini juga padat karya dan menguntungkan. Dari pembudidaya, pengemas, sampai eksportir, semua rantai bisa menyerap tenaga kerja. “Dapat mengatasi pengangguran dan kemiskinan,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu.

Top 10 Ikan Hias RI
Data KKP 2024 mencatat 10 besar produksi spesies ikan hias nasional dipimpin Ikan Koi, disusul Cupang, Komet, Mas Koki, Guppy, Angelfish, Plati, Molly, Botia, dan Discus.
Untuk air tawar, jenis ekonomis yang banyak diperdagangkan antara lain Neon tetra, Arwana, Oscar, Tiger Barb, dan Danio. Sementara air laut ada Nemo (clownfish), Blue tang, Kuda laut, Lionfish, dan Bicolor angelfish.
Menariknya, ikan hias impor seperti koi, maskoki, black ghost, discus, guppy, hingga cardinal tetra sudah berhasil didomestikasi di Indonesia.
Prof. Rokhmin menegaskan l, ikan hias adalah Sumber Daya Alam terbarukan. “Selama dijaga, dia akan terus ada. Ini menunjang Pembangunan Berkelanjutan NKRI dalam kerangka Ekonomi Biru dan SDGs,” ujarnya.
Industri ikan hias global sendiri adalah bagian dari industri hewan peliharaan dunia yang bernilai USD 15–30 miliar per tahun. Dengan potensi spesies air laut ±650 dan air tawar ±400 spesies, Indonesia tinggal akselerasi. Pertanyaannya kini: siapkah kita mengubah ‘hobi’ jadi ‘hepeng’?
PR Besar Ikan Hias RI Menuju 2045
Prof. Rokhmin Dahuri membedah tuntas kenapa daya saing ikan hias RI belum optimal. “Potensi kita raksasa, tapi kalau hulu-hilirnya masih tersendat, kita cuma jadi penonton di pasar premium,” kata Honorary Ambassador of Jeju Islands and Busan Metropolitan City, South Korea.
7 Kendala Utama
Data Dirjen Perikanan Budi Daya KKP 2024 mencatat 6 biang kerok utama:
1. Produksi & Benih: Benih unggul terbatas, breeding center minim, kualitas ikan belum seragam, biosecurity lemah.
2. Pembiayaan: KUR belum spesifik ikan hias, dianggap high risk, akses modal ekspor UMKM terbatas, belum ada insentif fiskal.
3. Logistik: Kargo hidup terbatas, rute langsung sedikit, waktu transit lama, biaya mahal, fasilitas cold/live system belum memadai.
4. Pasar & Promosi: Branding global rendah, info pasar terbatas, standardisasi belum dikenal buyer.
5. Regulasi: Izin berlapis multi-instansi, belum ada regulasi payung hulu-hilir, karantina lama, belum ada green lane ekspor.
6. SDM & Kelembagaan: Packing-handling belum tersertifikasi, digital marketing lemah, asosiasi belum kuat, pendampingan UMKM terbatas.
Akibatnya? Biaya logistik tinggi, tingkat kematian ikan tinggi, pengiriman lama, buyer kabur, nilai ekspor tak optimal, kalah saing.
Tantangan Ekspor
Masalah tak berhenti di dalam negeri. Di pasar global, ikan hias RI dihantam 6 tantangan:
1. Regulasi Ketat: CITES, kuota, larangan spesies invasif jadi gatekeeper.
2. Mortalitas Tinggi: Standar penanganan beda, ikan banyak mati saat transit → buyer tak percaya.
3. Traceability Lemah: Pasar utama minta asal-usul, kesehatan, biosecurity jelas. Eksportir kita belum seragam.
4. Branding Belum Premium: Biodiversitas tinggi tapi belum dianggap pemasok kualitas premium.
5. Persaingan Regional: Negara tetangga unggul rantai pasok, standardisasi, logistik. 6. Isu Sustainability: Pasar global makin nuntut praktik ramah lingkungan & fish welfare. “Praktik budidaya belum sepenuhnya perhatikan kesejahteraan ikan dan ekosistem. Promosi ‘Indonesian Ornamental Fish’ juga belum optimal,” tulis riset Tarihoran, D. et al. (2024).

Belajar dari Jepang
Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu memberi komparasi dengan Jepang. Tahun 2025, ekspor Nishikigoi Jepang tembus 67.502 ribu USD. Rahasianya? “Japanese Koi” jadi brand premium dunia karena reputasi kualitas, bloodline, sertifikasi breeder, dan after sales.
“Jepang unggul bukan karena biodiversitas, tetapi kualitas, reputasi breeder, sertifikasi, branding premium, dan tata kelola ekspor. Indonesia punya biodiversitas lebih besar, tetapi perlu memperkuat regulasi, riset, standardisasi, dan promosi global untuk menjadi pemimpin dunia,” tegasnya.
Dari Riset Sampai “Fish Incorporated”
Untuk kejar 2045 jadi pusat industri ikan hias dunia, ada 7 arah kebijakan hulu-hilir:
1. Riset & SDM: Benih unggul, teknologi, turunkan mortalitas, sertifikasi pembudidaya.
2. Klaster & Desa Ekspor: Bangun di 5 provinsi utama dengan koperasi/BUMDes sebagai off-taker.
3. Tata Niaga & Logistik: Koridor logistik ikan hidup, karantina satu pintu digital, marketplace nasional.
4. Pasar & Branding: Bangun brand “Indonesian Sustainable Ornamental Fish”. 5. Keberlanjutan: Pedoman fish welfare, sertifikasi eco-friendly, kuota lestari, traceability.
6. Welcoming Entrepreneur: Iklim investasi kondusif.
7. Improving Management: Membangun “Indonesia Ornamental Fish Incorporated”.
Peran DPR: Legislasi, Anggaran, Pengawasan
DPR RI punya 3 peran kunci:
Legislasi: Regulasi payung, simplifikasi izin, standar mutu, lindungi plasma nutfah.
Anggaran: Kawal APBN untuk riset, breeding center, live fish cargo, sertifikasi, branding global.
Pengawasan: Pastikan program KKP, Barantin, BRIN tepat sasaran. Indikator: ekspor naik, mortalitas turun, UMKM naik kelas.
Semua dijalankan lewat model Penta Helix: Akademisi, Bisnis, Komunitas, Pemerintah, Media. Targetnya satu: Indonesia sebagai global ornamental fish hub 2045.
Harapan itu bukan mimpi. Desa Kertasana, Pandeglang, sudah ekspor 2,5 juta ikan mas koki per tahun ke Jepang, Australia, Eropa, Afrika Selatan. Dibina BUMDes Karya dan PT Limas Inti Makmur.
Ada juga 4 Kampung Budidaya khusus ikan hias: Ciseeng Bogor, Curug/Bojongsari Depok, Sumberingin Blitar, dan Ketami/Pesantren Kediri. Ini bukti UMKM ikan hias bisa gerakkan ekonomi desa-kota.
Bahkan inovasi genetik sudah lahir: Guppy Neon dan Koi Metalik hasil rekayasa warna. “Tinggal kita rapikan hulu-hilirnya,” tutup Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany.

Komentar