Demonstrasi dan Penjarahan Masih Berlangsung di Amerika, WNI Harus Hati-hati
ASKARA - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk New York (NY), memastikan tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) yang ikut dalam demonstrasi pro George Floyd yang terjadi di sejumlah wilayah di Amerika Serikat, khususnya New York.
Konsul Jenderal (Konjen) untuk New York, Arifi Saiman mengatakan, demonstrasi atas kematian pria berketurunan Afrika-Amerika tersebut belum berdampak berarti terhadap WNI di AS.
"Sampai hari ini belum ada kabar adanya WNI yang ikut demo. Terkaitnya pengaruhnya terhadap WNI juga belum tampak karena ini lebih ke demo yang sifatnya anti rasialis bukan xenophobia," ungkap Arifi saat dihubungi Askara, Senin (1/6).
Meskipun begitu, Arifi meminta para WNI tetap waspada dan hati-hati menyikapi situasi demo di AS khususnya di wilayah kerja KJRI NY.
Sementara, hingga Sabtu malam (31/5) demonstrasi masih terjadi di New York. Penjarahan sekelompok orang juga masih terjadi meski dikawal ketat aparat keamanan.
"Setidaknya melakukan aksi di beberapa toko (dozen of shops) berlokasi di SoHo, Greenwich Village, dan Lower Manhattan al. Toko Adidas di East Houston dan Broadway, North Face di Broadway, Nudie Jeans di Bowery, Matt dan Nat di Lafayette," ungkap Arifi.
Menurut Arifi, kerusuhan terkait rasisme tersebut bukan kejadian yang langka. Kejadian itu, kerap terjadi pada orang kulit hitam. "Kerusuhan bernuansa rasialis seperti ini kerap terjadi di AS, terlebih jika korbannya warga kulit hitam, cepat menuai reaksi solidaritas," ujarnya.
Derek Chauvin (44), Polisi Minneapolis yang menindih leher Floyd hingga meninggal dunia telah mendapat hukuman dengan pemecatan dan dijerat pasal pembunuhan berlapis dan harus mendekam di penjara selama 25 tahun.
Dengan tertangkapnya Chauvin, KJRI NY berharap gejolak unjuk rasa dapat segera mereda, dan masyarakat dapat mengendalikan diri. Terlebih saat ini AS menjadi negara tertinggi yang terdampak Covid-19.
"Harapan pribadi saya, semoga aksi demo ini bisa segera berakhir karena pelakunya sudah ditindak. Masing pihak harus bisa menahan diri dan mawas diri agar aksi ini tidak berlarut-larut, agar tidak menambah beban pada kehidupan masyarakat sendiri yang saat ini sedang berjuang keras melawan Covid-19," tuturnya.
Demonstrasi juga telah menyebabkan penerapan jaga jarak sebagai pencegahan Covid-19 terganggu. Sehingga berpotensi meningkatkan kembali jumlah yang terpapar.
"Aksi demo ini setidaknya telah membuat penanganan Covid-19 menjadi terganggu karena telah menabrak rambu-rambu physical distancing. Karena khawatir ini dapat memicu kenaikan kasus Covid-19 khususnya di wilayah kerja KJRI NY yang belakangan ini sudah melandai angka kasusnya," kata Arifi.

Komentar