Senin, 20 Mei 2024 | 16:10
LIFESTYLE

Mendeteksi Kebohongan: Menjilat Besi Panas dan Memasukkan Tangan ke Timah Mendidih

Mendeteksi Kebohongan: Menjilat Besi Panas dan Memasukkan Tangan ke Timah Mendidih
Ilustrasi berbohong (Rencanamu.id)

ASKARA - Siapa yang suka bersilat lidah dan pandai menyembunyikan fakta. Sepertinya hal itu tidak akan berlaku di Mesir, karena pengadilan adat di sana masih memberlakukan cara tradisional dalam mendeteksi kebohongan. 

Dalam sebuah video berdurasi 2.20 menit menunjukkan tokoh spiritual adat memanaskan besi, lantas meminta perempuan yang dituduh suaminya berbohong untuk menjilat besi panas itu. 

Perempuan itu melakukannya dengan penuh keyakinan demi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Diyakini kalau dia berbohong maka lidahnya akan melepuh. 

Jika dia jujur, seperti yang terjadi di video ini maka lidahnya akan baik-baik saja. Di sinilah kekuatan spiritual pemangku adat menjadi bukti hukum (evidence). Luar biasa bukan? 

"Cerita semacam ini juga saya alami waktu saya kecil di Madrasah dulu," kata Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Rais Syuriah Australia dan Selandia Baru, Nadirsyah Hosen dalam keterangannya, Kamis (28/5).

Diceritakannya bagaimana ketika santriwati ada yang kehilangan kalung emasnya. Maka untuk membuktikan tidak ada pencuri di antara mereka cara membuktikannya pun cukup mengerikan. 

"Kami diminta memasukkan tangan ke dalam air timah yang mendidih. Syukurlah tidak jadi dilaksanakan karena kalung emas itu sudah ketemu duluan. Salah taruh rupanya," tutur Gus Nadir disapanya.

Pengadilan modern sudah mengembangkan sekian teknik untuk memverifikasi alat bukti. Penegak hukum juga memakai alat deteksi kebohongan yang canggih. 

"Namun tetap saja bagi sebagian pihak, proses pembuktian secara adat yang bernuansa mistis-spiritual lebih diyakini kebenarannya, seperti terlihat dalam video ini," cetus Gus Nadir. 

Jika tes kebohongan itu berlaku di Indonesia, mampukah memberikan rasa kapok terhadap koruptor dan membersihkan praktik korupsi. 

"Kalau sistem hukum Indonesia mengadopsi metode ini, kira-kira para tersangka koruptor berani melakoninya gak yah?" tanyanya.

Komentar