Senin, 20 Juli 2026 | 20:29
LIFESTYLE

Semangkuk Soto Mie Warnai Perjalanan Om Piet Membantu Sesama Menuju Sehat

Semangkuk Soto Mie Warnai Perjalanan Om Piet Membantu Sesama Menuju Sehat
Ilustrasi Om Piet dan para pedagang di Palmerah (Dok Askara)

ASKARA - Semangkuk soto mie menjadi penutup sederhana dari rangkaian kegiatan sosial yang dijalani Pieter Dasion atau yang akrab disapa Om Piet, Minggu (19/7/2026). Pensiunan Kompas Gramedia Group dan alumnus Fakultas Teknik Universitas Indonesia itu kembali membagikan kisah pengalamannya memberikan terapi pijat refleksi dan akupresur kepada masyarakat.

Kisah bermula dari pesan singkat yang diterimanya dari seorang penjual soto mie di kantin kawasan Palmerah, Jakarta Barat, yang mengeluhkan nyeri, rasa panas, dan pegal pada kaki yang tak kunjung membaik meski telah berobat.

"Kami akhirnya bertemu pada Jumat pagi di kantin. Saat itu suasana masih sepi karena para karyawan belum waktunya makan siang," tutur Om Piet dalam keterangannya.

Menurutnya, para pedagang di kantin tersebut telah lama mengenalnya karena sering melihat dirinya membantu rekan-rekan yang mengalami berbagai keluhan kesehatan melalui terapi pijat pada telapak tangan dan beberapa titik tubuh.

Om Piet menjelaskan, metode yang ia lakukan merupakan terapi akupresur yang telah dipraktikkannya sejak 2011. Ia menegaskan terapi tersebut merupakan upaya pendamping dan bukan pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis.

Dalam kesempatan itu, bukan hanya penjual soto mie yang meminta terapi. Sejumlah pedagang lain, mulai dari penjual ketoprak, sate hingga nasi rames, juga ikut bergabung dengan harapan dapat mengurangi keluhan kesehatan yang mereka rasakan.

Menurut Om Piet, pola kerja para pedagang yang harus bangun dini hari untuk berbelanja, memasak, dan menyiapkan makanan membuat waktu istirahat mereka sering kali jauh dari ideal.

"Mereka bekerja ketika sebagian besar orang masih tidur. Pola hidup seperti itu tentu bisa memengaruhi kondisi tubuh," ujarnya.

Setelah sesi terapi selesai, para pedagang mengungkapkan rasa terima kasih dengan cara sederhana. Penjual soto mie menyuguhkan semangkuk soto mie hangat, sementara pedagang lainnya menawarkan sate dan nasi sebagai bentuk penghargaan.

"Saya menerima ketulusan mereka. Semangkuk soto mie itu terasa sangat istimewa karena disajikan dengan penuh keikhlasan," kata Om Piet.

Ia menambahkan, pada hari yang sama dirinya juga mendatangi beberapa lokasi lain di Tebet, Kalibata, dan Jatiwarna untuk menemui masyarakat yang meminta bantuan. Menurutnya, mereka memiliki beragam kondisi kesehatan, mulai dari gangguan ginjal, stroke pascaoperasi tumor otak, pasien yang sedang menjalani kemoterapi, hingga keluhan saraf.

Om Piet berharap pengalaman berbagi tersebut dapat menjadi penyemangat bagi siapa pun untuk terus peduli kepada sesama.

"Semoga setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun, dapat membawa manfaat bagi orang lain," tutupnya.

 

Komentar