Selasa, 14 Juli 2026 | 07:06
LIFESTYLE

Dari Sesak Napas hingga Bisa Menari, Kisah Haru Ibu Arni Bertemu Om Piet

Dari Sesak Napas hingga Bisa Menari, Kisah Haru Ibu Arni Bertemu Om Piet
Ilustrasi Om Piet melayani pasiennya (Dok Askara)

ASKARA - Senyum bahagia terpancar dari wajah Ibu Arni (65 tahun, bukan nama sebenarnya). Perempuan yang pernah berkiprah sebagai wartawan di sebuah majalah besar itu kembali merasakan kebahagiaan setelah mengalami kondisi tubuh yang membuatnya lemah selama beberapa waktu.

Kisah tersebut diceritakan Pieter Dasion atau yang akrab disapa Om Piet, Senin (13/7/2026). Ia mengungkapkan pertemuannya dengan Ibu Arni bermula dari telepon sang kakak yang berprofesi sebagai psikiatri di sebuah rumah sakit swasta.

Sang kakak meminta bantuan karena melihat kondisi adiknya yang semakin menurun. Ibu Arni disebut mengalami keluhan seperti mudah lelah, sesak napas, tubuh terasa lemah, hingga sulit berbicara dengan suara yang terdengar jelas.

"Malam minggu kemarin, kakaknya menghubungi saya. Beliau meminta bertemu karena ingin adiknya mendapatkan bantuan terapi," cerita Om Piet.

Karena melihat kondisi tersebut, Om Piet kemudian mengatur pertemuan di sebuah kafe dekat kediamannya. Pertemuan itu berlangsung malam hari, disaksikan oleh kakak Ibu Arni.

Dalam kesempatan tersebut, Om Piet melakukan terapi dengan metode akupresur melalui pijatan pada titik-titik tertentu di telapak tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya.

Menurut Om Piet, pendekatan yang dilakukannya berfokus pada rangsangan titik tubuh yang diyakininya berkaitan dengan sistem saraf dan organ tubuh.

Setelah sekitar setengah jam menjalani terapi, Om Piet melihat adanya perubahan pada kondisi Ibu Arni. Ia kemudian menduga terdapat gangguan pada aliran darah dan ketegangan otot di bagian pundak kanan yang kemungkinan berpengaruh terhadap keluhan yang dirasakan.

"Saya tanya kepada ibu, apakah pernah melakukan olahraga tertentu. Ternyata beliau mengatakan pernah melakukan olahraga tarik beban sebelum mengalami keluhan tersebut," ujar Om Piet.

Mendengar hal itu, Ibu Arni merasa apa yang disampaikan sesuai dengan pengalaman yang dialaminya. Perasaan lega pun mulai muncul.

Momen mengharukan terjadi ketika Ibu Arni kemudian terlihat lebih bersemangat. Dalam suasana penuh sukacita, ia bahkan sempat berdiri dan menari kecil di dalam kafe.

Bagi Om Piet, ekspresi kebahagiaan tersebut menjadi sebuah pengalaman yang berkesan.

"Ibu Arni senang, bahkan meminta izin untuk memeluk saya sebagai tanda terima kasih," katanya.

Selain kisah Ibu Arni, malam itu Om Piet juga bertemu dengan pasien lain, yakni Ibu Awit dari Sukabumi yang datang dengan keluhan infeksi pada mulut yang telah berlangsung cukup lama.

Ibu Awit yang menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari Sukabumi menyampaikan bahwa setelah menjalani pendampingan terapi, kondisi mulutnya terasa membaik sehingga ia kembali lebih nyaman untuk makan.

Om Piet menyebut kedua pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa dukungan, harapan, dan semangat memiliki peran penting bagi seseorang yang sedang menghadapi gangguan kesehatan.

Ia tetap menekankan bahwa terapi yang dilakukannya merupakan bentuk pendampingan dan tidak menggantikan pemeriksaan maupun pengobatan medis dari dokter.

"Setiap orang harus tetap mengikuti arahan tenaga medis. Saya hanya berusaha membantu dan memberikan semangat kepada mereka yang sedang berjuang," ujar Om Piet.

Bagi Pieter Dasion, lulusan Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan pensiunan Kompas Gramedia Group itu, berbagi kebahagiaan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

"Indahnya berbagi. Mari berbagi selagi masih bisa," tuturnya.

Kisah Ibu Arni dan Ibu Awit menjadi cerita tentang harapan, pertemuan, dan rasa syukur ketika seseorang kembali menemukan semangat dalam menjalani kehidupan.

 

Komentar