Selasa, 21 Juli 2026 | 11:21
NEWS

Ijazah Jokowi Kembali Disorot, Prof Henuk: Akademisi Boleh Salah, Tapi Tak Boleh Bohong

Ijazah Jokowi Kembali Disorot, Prof Henuk: Akademisi Boleh Salah, Tapi Tak Boleh Bohong
Prof Yusuf Leonard Henuk - Guru Besar Universitas Sumatera Utara 2021-2022, dengan host Indra J Piliang - Sejarawan dalam podcast forum keadilan TV. (Screenshot )

ASKARA - Isu keaslian ijazah Presiden Joko Widodo kembali memanas setelah Guru Besar Universitas Sumatera Utara (USU) periode 2021–2022, Profesor Yusuf Leonard Henuk, angkat bicara dalam podcast Forum Keadilan TV di YouTube.

Dalam wawancara tersebut, Prof. Henuk menyoroti pencabutan pernyataan oleh Profesor Sofian Effendi, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), yang sebelumnya sempat menyiratkan keraguan terhadap status kelulusan S1 Jokowi.

"Menurut saya, yang dicabut oleh Profesor Sofian Effendi hanyalah wawancaranya. Itu tidak mencabut pemberitaan awal di media online bahwa Pak Jokowi tidak punya ijazah," kata Henuk.

Henuk menduga pencabutan itu dilakukan bukan karena perubahan keyakinan, melainkan karena tekanan tertentu. Ia menyebut langkah itu justru memperkuat dugaan awal bahwa ada yang perlu diklarifikasi secara terbuka.

“Pencabutan itu justru membenarkan pernyataan awal Profesor Sofian. Kemungkinan ada ketakutan atau intimidasi,” tambahnya.

Henuk juga menilai bahwa Sofian Effendi masih berada dalam "perahu yang sama" dengannya dalam mempertanyakan keabsahan ijazah Presiden, meski memilih diam karena tekanan situasi.

Dalam kritiknya, Henuk juga menyayangkan sikap sebagian besar akademisi yang dianggapnya tidak berani bersuara. “Akademisi itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong. Kalau politikus boleh bohong,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Henuk menyoroti tidak adanya klarifikasi langsung dari Presiden Jokowi selama lebih dari dua bulan, yang menurutnya menambah kecurigaan.

"Sudah lebih dari dua bulan ini tidak ada klarifikasi dari Pak Jokowi sendiri. Jadi saya meragukan keaslian ijazah beliau," ujarnya.

Ia juga mempertanyakan minimnya respon dari pihak UGM terhadap sejumlah pihak yang mengajukan klarifikasi, seperti Rismon, sosok yang gencar mengkritisi data akademik Presiden.

Dalam pengamatannya, Henuk menilai terjadi perubahan opini publik yang kini mulai menaruh curiga terhadap isu ijazah tersebut setelah melihat berbagai informasi dan analisis yang beredar.

Bahkan, Henuk menuding Presiden Jokowi mengalihkan perhatian publik dengan wacana lain seperti "agenda besar negara", yang menurutnya dimaksudkan untuk menjauh dari sorotan soal ijazah.

“Mungkin Pak Jokowi menghindari masalah ijazah ini dengan membuat wacana lain,” ucapnya, sembari menyoroti perubahan ekspresi wajah Presiden yang ia tafsirkan sebagai tekanan psikis.

Siap Dipenjara dan Siapkan Buku Misteri Ijazah Jokowi

Dalam pernyataan tegasnya, Prof. Henuk menyatakan siap menghadapi konsekuensi hukum, termasuk jika harus dipenjara, demi membela kebenaran.

"Saya siap masuk penjara kalau terbukti salah. Tapi kalau masuk penjara karena memperjuangkan kebenaran, itu sebuah kebanggaan," ujarnya.

Ia juga menyatakan tengah menyiapkan buku berjudul Misteri Semua Ijazah Jokowi yang akan mengupas dugaan kejanggalan dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

“Saya akan merasa terhormat jika dilaporkan langsung oleh Jokowi karena itu akan menjadi catatan sejarah,” pungkasnya.

Isu ini diprediksi akan terus menyedot perhatian publik, hingga muncul klarifikasi resmi dan transparan dari Presiden maupun pihak terkait mengenai keaslian ijazah yang dipersoalkan.

 

 

Komentar