Kamis, 18 Juni 2026 | 22:20
OPINI

Bersiap untuk New Normal (Tatanan Kehidupan Baru)

Bersiap untuk New Normal (Tatanan Kehidupan Baru)
Ilustrasi (Istimewa)

Ada jargon baru yang sering muncul akhir-akhir ini terkait pandemik. Banyak seminar (online) dan juga tulisan dalam dan luar negeri membahasnya. New normal. Ya, dunia tidak mempunyai pilihan selain beradaptasi terhadap tatanan kehidupan yang baru. Yang sebelumnya (Bahkan beberapa bulan yang lalu) tidak terbayangkan.

Dampak dari pandemik ini memang merubah kehidupan secara mendasar dan mengenai berbagai lapisan. Dari negara adidaya seperti China dan Amerika sampai negara kecil di samudera Pasifik. Dari perusahaan raksasa seperti Facebook dan Google sampai pedagang pasar di sudut Maroko atau pasar Lembang. Semua terkena dampaknya. Saya mengamati nampaknya parameter yang sangat berpengaruh apakah seseorang atau sebuah organisasi bisa terus survive adalah kemampuannya untuk beradaptasi. Hukum besi alamiah dari spesies, yang sudah berlaku jutaan bahkan milyaran tahun, the survival of the fittest, terlihat sangat berlaku dalam konteks sekarang ini. Fittest means the ability to adapt to changing environment. Yang tidak cukup agile untuk berubah akan punah.

Dahulu, ketika lingkungan bumi berubah dengan sangat dramatik (sebagian menjelaskan karena jatuhnya asteroid di bumi), dinosaurus yang sudah hidup thriving di bumi ratusan juta tahun punah. Dalam konteks perubahan yang terjadi akhir-akhir ini, banyak perusahaan yang sebelumnya established juga terancam punah. Perusahaan rental mobil terbesar dunia, Hertz, Jumat yang lalu mengumumkan kebangkrutan karena sumber revenue yang menguap karena pandemik yang berkepanjangan. Tentunya tidak hanya perusahaan Hertz yang sedang terpukul tapi semua perusahaan rental, airlines, money changer, jaringan hotel dan secara umum sektor pariwisata terdampak secara hebat.

American Airlines memangkas jadwal penerbangan domestiknya sebesar 60% -70% pada bulan April 2020 dan 80% -90% pada bulan Mei, dengan hanya beberapa "rute internasional untuk tetap beroperasi. Austrian Airlines menghentikan sementara operasi mulai 17 Maret 2020 sebagai akibat dari wabah COVID-19. AirAsia Group mengumumkan mereka menghentikan sementara semua operasi. Air Canada mengumumkan PHK sementara dari 16.500 karyawan, menangguhkan sebagian besar penerbangan internasionalnya. Maskapai ini kemudian berencana untuk memberhentikan hingga 60% dari tenaga kerjanya (berdampak terhadap 20.000 karyawan) efektif 7 Juni 2020.

Bagaimana organisasi bisnis ini bisa menghindari kepunahan?

Dalam era ini memang sedang diuji bagaimana seseorang atau sebuah organisasi mau untuk secara cepat belajar, bersikap terhadap situasi baru dan berubah. Twitter, misalnya, telah memutuskan bahwa work from home (WFH) bukan hanya sebuah modus bekerja sementara selama pandemi, tapi modus yang akan diberlakukan secara permanen. Google dan Facebook juga memutuskan modus WFH untuk karyawannya sampai akhir tahun, dengan kemungkinan permanen sebagaimana Twitter. Di dalam negeri, Es Teler 77, yang selama ini mengandalkan dari pendapatan via gerainya (dan baru dua tahun yang lalu menambah 30 gerai baru), mengubah bentuk bisnisnya menjadi bisnis frozen food.

Saya memang menyaksikan new normal yang sudah muncul di horison. Dalam dua bulan terakhir saya mengalami beberapa hal yang belum pernah ada dalam pengalaman hidup selama ini:

1. Jumatan selalu di rumah. Dan bahkan termasuk sholat Ied yang biasanya diadakan dan dirayakan di mesjid dan di lapangan dengan jamaah yang besar, kali ini cukup bersama keluarga inti di rumah. Sungkeman dengan orang tua dan saudara-saudara kali ini juga dilakukan secara daring. Foto bersama juga cukup keluarga inti saja.

2. Saya menghadiri wisuda sarjana di UNS secara online. Demikian pula beberapa hari yang lalu sebagai anggota MWA menyaksikan orasi pengukuhan dua guru besar juga secara online. Orasi ini dihadiri para profesor dari 8 negara dan diberikan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. 

3. Tahun ini saya juga akan menguji calon doktor dari ITB dalam format daring.

4. Praktis saya bekerja dari rumah dengan fasilitas virtual office (hanya sesekali menengok workshop atau meeting secara face to face). Termasuk di dalamnya adalah mengajar dan memberikan seminar ke beberapa universitas.

5. Saya melakukan coaching ke beberapa group start-ups dan incubation centers juga secara daring.

On a positive note, saya melihat bahwa di tengah gelombang besar pandemik yang ada juga memberikan kesempatan baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Contoh: dulu kewarganegaraan dipakai sebagai filter yang ampuh untuk tenaga kerja asing di negara maju. Saya menyaksikan dan mengalami betapa susah mendapatkan visa bekerja di Amerika era 90an. Saat ini kesempatan untuk bekerja di blue-chips company dunia seperti Google atau Facebook terbuka lebar bagi siapa saja di berbagai belahan dunia yang qualified. Bukankah modus WFH sekaligus meniadakan batas geografi? Tidak lagi ada masalah visa. Asalkan kita mempunyai kompetensi yang dibutuhkan kita eligible untuk bekerja di mana saja. Saya pikir ini adalah demokratisasi kesempatan.

Satu hal yang ingin saya garis bawahi dari analisis di atas. Baik perseorangan maupun organisasi, saat ini secara kritikal memerlukan skill atau pola pikir baru. Sebuah mindset yang inovatif yang setiap saat mencari peluang dengan cara kreatif. Kita menyebutnya sebagai entrepreneurial mindset.

Mindset ini yang akan saya bagi dari bahan ajar di MIT yang sangat terkenal: 24 Steps Disciplined Entrepreneurship. Sebagian akan saya kenalkan dalam sesi pembuka tanggal 2 Juni 2020. Silakan yang ingin bergabung.

https://forms.gle/VxJdNAuMHATnzSNXA

Agus Budiyono
Alumni MIT. Co-Founder Indonesia Center for Technology Empowerment icte.network. Founder Ngopi Bareng Mas Choy kopichoy.com

Komentar