Kamis, 18 Juni 2026 | 05:54
NEWS

Peringati Waisak 2564 BE, Umat Diingatkan Mempraktikkan Ajaran Sang Buddha

Peringati Waisak 2564 BE, Umat Diingatkan Mempraktikkan Ajaran Sang Buddha
Ilustrasi (Wikipedia/Istimewa)

ASKARA - Hari Raya Waisak 2564 BE Tahun 2020, diperingati dengan khidmat oleh seluruh umat Buddha di dunia dan di Indonesia. Namun ada hal yang perlu diingat para umat, khususnya di tengah wabah pandemi virus corona (Covid-19). 

Ketua Umum Perwakilan Umat Budha Indonesia - Lembaga Keagamaan Budha Indonesia (WALUBI - LKBI) Rusli Tan berpesan bahwa umat Budha hanya perlu mempraktikkan ajaran-ajaran sang Buddha, yakni kejujuran, bersabar, dan tidak mengambil yang bukan haknya. 

"Jadi mencuri itu bukan menjadi kaya, jadi kita jangan happy dengan korupsi, mencuri, mengambil hak orang lain, lantas hingga sangat kaya raya. Saya melihat kalau orang yang kaya raya malah happy, saya justru melihat orang kaya (dengan cara seperti itu) tidak happy," ujarnya, saat dihubungi Askara, Kamis (7/5). 

Bercermin kejadian di Italia, seorang kaya raya bunuh diri lantaran kehilangan keluarga, anak dan istri yang meninggal dunia akibat Covid-19. Sekali lagi, dapat diambil pelajaran bahwa kekayaan bukanlah segala-galanya. 

"Nah, jadi kekayaan itu bukanlah segala-galanya, memang segala-galanya memang dibeli dengan uang, maka kita perlu kerja keras, dengan smart, tapi tidak dengan mencuri dan mengambil hak orang lain," pesannya.

Rusli berpandangan, wabah Corona telah mengajari umat lebih banyak untuk tutup mulut atau tidak banyak bicara melainkan banyak bekerja. Hal itu dibuktikan, umat manusia menutup mulut menggunakan masker. Hal tersebut menjadi cerminan atau istilah agar umat menekankan kerja keras, alias tidak berbohong dengan menyalahgunakan ciptaan Sang Buddha yakni, mulut. 

Menurutnya pelajaran dari hadirnya covid-19 sangat jelas. Terlebih menyebabkan seluruh rumah ibadah, tutup tidak boleh ada yang boleh buka.

"Nah, Covid-19 mengajarkan kita dengan sangat nyata, saya pikir umat Buddha harus merenungkan kembali, kita harus belajar bagaimana mencapai pencerahan," ujarnya.

Menurut ajaran Sang Buddha, kata Rusli, para umat harus mensucikan hati dan pikiran dan tidak bertindak bodoh. Sering kali para umat memiliki pengetahuan hebat namun akhirnya menyebabkan diri menjadi sosok yang sombong bahkan jahat.

"Harusnya kita saat ini yang jago teknologi tapi bukan menjadikan bahaya. Suka perang, ribut dan debat. Pokoknya hal yang tidak baik. Nah umat Buddha harus belajar dengan baik, khususnya di tengah kondisi saat ini," tuturnya.

Hadirnya wabah Covid-19 ini juga menjadi hikmah untuk kembali bersama keluarga, termasuk kembali kepada nilai-nilai para leluhur.

"Jadi akhlak itu sangat penting, moral, mental, kepribadian kehidupan sehari-hari itu sangat penting. Kita tidak bisa berbohong kepada Tuhan, kepada Buddha, kepada bodhisattva, kita tidak bisa melihat Dia, tapi Dia bisa melihat kita," ungkapnya.

Ia pun mengingatkan agar para umat Budha untuk lebih hati-hati dalam berperilaku. Terlebih menyalahgunakan ajaran-ajaran sang Buddha. 

"Jangan merasa sombong, sudah bisa menghafal semua ajaran sang Buddha tapi tidak mempraktekkan satupun, yang dipraktekkan terbalik hanya pasal-pasalnya untuk menjatuhkan orang lain. Mempraktekkan ayat-ayat suci untuk menjatuhkan orang lain, seolah-olah dia mendapatkan bisikan dari sang Buddha," kata dia.

Hadirnya Covid-19 ini juga dinilainya telah memperingatkan orang-orang yang berperilaku buruk tersebut. 

"Saya pikir umat Buddha, kalau masih tidak mau sadar, tidak mau melakukan kebajikan, tidak mau mempraktekkan kesadaran, ya saya pikir harus terima karma jeleknya, kita percaya kita bisa terima karma baik, tapi kita juga harus percaya kita juga bisa terima karma buruk jika kita melakukan perbuatan yang sangat tidak baik," ungkapnya.

Rusli berpesan agar para umat Buddha bersemangat menanamkan karma baik.

"Karma baik yang akan dipanen oleh dirinya masing-masing, selamat memperingati Tri Suci waisak 2563 Buddha era tahun 2020, semoga semua makhluk hidup berbahagia," tandasnya.

Komentar