Rabu, 10 Juni 2026 | 18:01
NEWS

Terpadat di Asia Tenggara Tapi Nol Kasus Corona, Begini Perjuangan Lurah Duri Selatan

Terpadat di Asia Tenggara Tapi Nol Kasus Corona, Begini Perjuangan Lurah Duri Selatan
Lurah Duri Selatan Muhammad Ghufri. (Dok. pribadi)

ASKARA - Tentu semua kepala desa atau lurah menginginkan wilayah yang dipimpinnya tidak tertular wabah virus corona (Covid-19). 

Segala upaya dilakukan agar bisa terjaga dari virus tersebut. Salah satunya seperti yang dilakukan Lurah Duri Selatan Jakarta Barat Muhammad Ghufri. 

Sejak wabah Covid-19 mulai terkuak awal Maret lalu, kelurahan ini langsung melakukan antisipasi dengan ketat dan tidak asal-asalan. Kelurahan Duri Selatan memiliki 70 RT, 6 RW, dan 5.498 Kepala Keluarga dengan jumlah warga 17.465 orang. Hingga kini belum ada satu pun warganya yang terjangkit virus corona. 

Upaya apa saja yang digerakkan Ghufri? 

Dia mengatakan, hal yang dilakukannya adalah memberlakukan akses keluar masuk hanya satu pintu yang sebelumnya dibuka sebanyak tujuh pintu di wilayah tersebut. Bahkan pintu dijaga selama 24 jam secara bergantian oleh aparat keamanan setempat atau siskamling.

"Jadi masuk pintu itu diukur suhunya oleh thermal gun terutama di RW 5, itu yang terpadat di enam RW yang lain. Karena kita punya enam RW dan 70 RT sehingga warga asing atau tamu pasti kelihatan karena satu pintu," ujarnya saat berbincang dengan Askara, Rabu (6/5).

Lurah Ghufri juga memiliki data warga dengan golongan lanjut usia yang punya riwayat penyakit bawaan ataupun yang rentan tertular corona seperti darah tinggi, diabetes dan lainnya.

"Kita jaga orang-orang itu, kita awasi oleh aparat RT, RW dan PKK, Jumantik, dan Dasawiswa," katanya, 

Selain itu, Lurah Ghufri secara rutin menggerakkan penyemprotan disinfektan, bahkan setiap hari secara bergilir setiap RW-nya. Yang bekerja sama dengan Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU). 

Yang paling ditekankan adalah dengan terjun langsung ke lapangan untuk memantau situasi di setiap wilayah bersama RT dan RW setempat.

"Ke lapangan langsung untuk mengingatkan warga untuk tidak ada yang berkumpul-kumpul. Karena kita kan menerapkan physical distancing ya, tidak boleh berdekatan, tidak boleh berkumpul-kumpul. Nah kita turun ke lapangan untuk ingatkan warga," jelas Lurah Ghufri.

Aksi langsung memberikan peringatan lebih baik dibandingkan hanya dilakukan melalui imbauan sosial media ataupun grup perpesanan. Cara memantau langsung ke lapangan dinilainya sangat ampuh.

"Kita jangan cuma bisa memberikan di grup, kita kasih aturan-aturan kita kirim tapi kita turun ke bawah, kita ngobrol lalu kita rapatkan. Kita buat forum untuk memecahkan masalah," paparnya. 

Setelah itu, Lurah Ghufri mengeluarkan surat kepada RT-RW untuk membentuk siskamling guna menjaga di pintu akses warga. Dan juga sekaligus memantau di sekitar wilayahnya agar tidak melakukan kegiatan berkumpul-kumpul.

"Saya ingin kelurahan yang saya pegang ini menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jadi di setiap sudut itu harus ada alat pencucian tangan," tuturnya. 

Lurah Ghufri mengatakan, sebelum hadirnya wabah virus corona di Indonesia, dirinya mengaku sudah mengantisipasi. Dia juga memperbanyak alat cuci tangan untuk setiap warga luar yang memasuki kelurahannya. 

"Kemudian diberlakukan ke RT-RW termasuk yang saya berlakukan di pintu masuk. Jadi ketika wabah ini ramai di Indonesia kita sudah mempersiapkan semua, sehingga tidak menganggap remeh. Dan gubernur juga menekankan ini (pencegahan virus) tidak main-main," jelasnya.

"Kan lawannya (corona) tidak kelihatan. Kalau musuh kan enak kita hajar, kalau ini kan tidak kelihatan, jadi bahaya," sambung Lurah Ghufri. 

Hingga saat ini, belum ada satu pun warga di Kelurahan Duri Selatan yang terjangkit virus mematikan tersebut. Bahkan, wilayahnya pun belum dikatagorikan sebagai zona merah.

"Waduh kalau ada berarti wilayah ini sudah merah dong. Hingga saat ini bisa dilihat dari peta Covid-19, di sini di wilayah kami masih kosong," jelasnya.

Kelurahan Duri Selatan masuk dalam Kecamatan Tambora yang menjadi wilayah terpadat penduduk se-Asia Tenggara. Lurah Ghufri ingin membuktikan bahwa wilayahnya bisa nol persen terbebas dari adanya kluster atau kasus Covid-19.

"Minimal bisa membuktikan bahwa bisa nol persen, bisa menjaga warganya meskipun padat. Karena sulit untuk menjaga warganya yang padat. Kalau yang kompleks kan gampang kalau ini tiga kali tiga kepala keluarga, itu kan sulit," tutur Lurah Ghufri. 

Dia juga sempat membuat dapur umum untuk warga selama 10 hari pada 13-23 April setelah ada satu warga dinyatakan sakit liver yang diduga terjangkit Covid-19. Namun ternyata hasil swab warga tersebut negatif.

Pihaknya juga telah membagikan 5.000 masker secara gratis yang menggaet Corporate Social Responsibility (CSR), di mana pembagiannya sambil mengingatkan warga untuk rajin mencuci tangan sekaligus mengukur suhu tubuh.

Tidak kalah penting yang ditekankan Lurah Ghufri adalah pendataan secara akurat. Warganya tidak tertular virus corona dengan mengklasifikasikan warga rentan, lansia ataupun pra sejahtera. 

"Itu yang penting, sebab mereka gampang tertular corona. Jadi kita awasi," katanya.

Bantuan dari Pemprov DKI dan langsung dari Presiden Joko Widodo juga telah diterima untuk warganya. Di mana banyak warga yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sehingga mereka terbantu.

"Dua kali pengiriman, akhirnya tidak merata sih tapi saya rasa insya Allah sudah tepat sasaran karena selama ini belum ada protes," demikian Lurah Ghufri.

Komentar