Tiwikrama Jokowi Dalam Menghadapi Permasalahan Media Virus dan Virus Media Covid-19
Tiwikrama adalah Kekuatan Penyatuan Peraduan Manusia dengan TuhanNya yang merupakan puncak titik spiritualitas diri manusia. Sewaktu menghadapi suatu permasalahan dan tanggung jawab besarNya serta tak kuasa untuk kemudian menghadapi, dikarenakan kekhawatiran terhadap dampak permasalahan.
Maka manusia tersebut akhirnya berserah diri dan memasrahkan segala kewajibanNya, sehingga hanya Tuhan yang berkehendak atas segala sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi.
Peristiwa Tiwikrama pernah diulas pada cerita Pewayangan dengan Lakon Kresna Duta, di mana Kresna sebagai Duta dari Pendawa datang ke kerajaan Hastina untuk bertemu dengan Prabu Duryudana.
Kresna sebagai duta membawa misi untuk menyampaikan harapan dan keinginan damai keluarga Pandawa yang meminta kembali haknya atas Kerajaan Amarta, tetapi misi tersebut ditolak oleh Prabu Duryudana. Sewaktu misi itu ditolak, maka Prabu Kresna (Titisan Dewa Wisnu) merasakan beban dan tanggung jawab yang semakin berat yang akan disandangnya, karena dia tahu dampak dari ditolaknya misi itu, akan menjadikan perang Bharatayuda.
Maka di tengah harapan, rasa tanggung jawab, kasih sayang, cinta kasih dan beban dari segala permasalahannya maka pada satu titik terjadilah Peristiwa Tiwikrama, Kresna berubah menjadi raksasa yang sangat besar.
Demikian juga pada era Indonesia dibawah kepemimpinann pemerintahan Jokowi sekarang ini, di mana pemerintahan lebih fokus pada pembangunan infrastruktur.
Serta dijadikan sebagai strategi awal yang paling tepat untuk meletakkan dasar dan kekuatan pembangunan ekonomi kedepan dan diharapkan dapat menjadi legacy (warisan) pada saat akhir jabatan sebagai presiden di Indonesia, karena memang seharusnya pemimpin meninggalkan nama besar pada sejarah kepemimpinannya.
Sewaktu awal bulan Januari 2020, belum banyak yang mendengar tentang virus corona yang kemudian dikenal dengan nama virus Covid-19. Namun memasuki bulan Februari semakin lama, bahkan setiap hari, setiap menit, setiap waktu, setiap saat di nedia cetak, media online, media televisi, hampir media di Indonesia dan dunia didominasi mengabarkan Virus Media dan Media Virus, lalu pertanyaanya adalah virusnya yang jadi media, atau nedianya yang menjadi virus?, atau keduanya-duanya merupakan virus dan atau keduanya sama-sama media?
Skenario untuk menjadikan Indonesia sebagai Padang Kurusetra, tempat terjadinya perang keluarga Mahabharata antara Pandawa dan Kurawa sudah sering terdengar.
Serta mungkin saja bisa terjadi, apalagi ditengah kondisi dampak badai virus Covid-19 yang merajalela dan sulit dikendalikan. Sehingga Indonesia hanya bisa berharap pada Sang Waktu (Bethara Kala), yaitu tibanya musin kemarau, sehingga virus Covid-19 mati dengan sendirinya.
Kemudian butuhnya uluran tangan bantuan dari negara lain atau lembaga dunia, dikarenakan ketergantungan Indonesia di bidang ekonomi dan peralatan kesehatan termasuk pengobatan. Tetapi permasalahnnya adalah, bagaimana jika Sang waktu yaitu Sang Bethara Kala tidak berpihak pada bangsa Indonesia?. Karena sebenarnya Sang Bethara Kala juga lahir dari nafsu dan keinginan para pemimpin itu sendiri. Masihkan ada jalan keluar bagi bangsa Indonesia disaat sekarang ini?
Dan kepada siapakah kita akan bertanya, cara penyelesainnya?, semuanya keputusannya dikembalikan kepada Kepala Negara yaitu Jokowi. Apakah dia akan memilih peran sebagai Prabu Kresna atau Prabu Duryudana atau Pandawa atau Kurawa atau sebagai dalang atau memilih peran sebagai apa?. Yang jelas Jokowi menanggung beban tanggung jawab yang besar dalam Peperangan Media Virus dan Virus Media. Dan mungkin Jokowi juga belum tahu sekarang ini Legacy (warisan) di akhir jabatannya?. RahAyu RahAyu RahAyu.
Sri Eka Sapta Wijaya GalGendu
Penulis merupakan pria kelahiran Solo, 18 Juli 1967 yang dibesarkan dalam lingkungan organisasi Lintas Agama dan Para Raja Raja Nusantara, pria yang akrab disapa Eka ini menyebut dirinya sosok yang pernah dekat secara spiritual dengan almarhum Gusdur, dan almarhum SISKS Pakubuwana XII. Saat ini Ia menjabat sebagai Ketua Umum DPP LPK Lembaga Penghayat Kepercayaan di Indonesia.

Komentar